Oleh: Bahrus Surur-Iyunk (Ketua IMM Cabang Sleman 1995–1997, Ketua Pimda 225 Tapak Suci Kabupaten Sumenep 2022–2028).
PWMU.CO – Dalam Islam, kesungguhan adalah kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan pentingnya berbagai bentuk kesungguhan yang harus dimiliki seorang mukmin.
Setidaknya ada tiga bentuk kesungguhan yang disebutkan dalam Al-Qur’an: haqqa tuqatihi (bertakwa dengan sebenar-benar takwa), haqqa tilawatihi (membaca Al-Qur’an dengan sebenar-benar bacaan), dan haqqa jihadihi (berjuang di jalan Allah dengan sebenar-benar perjuangan).
Haqqa Tuqātihi
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa (haqqa tuqatihi) dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102). Haqqa tuqatihi adalah bentuk tertinggi dari ketakwaan, yaitu menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan pengabdian. Ketakwaan ini tidak hanya bersifat ritual dan spiritual, tetapi juga mencakup aspek sosial, moral, dan intelektual.
Umar bin Khattab menerapkan ketakwaan sejati dengan mempraktikkannya melalui keadilan. Ketika menjadi khalifah, ia selalu memastikan keadilan ditegakkan, bahkan terhadap dirinya sendiri.
Ia pernah berkata, “Andai seekor keledai tersandung di Irak, aku takut Allah akan meminta pertanggungjawaban dariku karena tidak meratakan jalan untuknya.” Kesadaran mendalam seperti ini mencerminkan adanya haqqa tuqatihi dalam dirinya.
Haqqa Tilāwatihi
Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan sebenar-benar bacaan (haqqa tilawatihi). Mereka itulah yang beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah: 121). Haqqa tilawatihi tidak hanya berarti membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, tetapi juga memahami maknanya, merenungkannya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bacaan seperti ini akan menjadi cahaya bagi hati dan petunjuk dalam hidup.
Kita bisa belajar dari Abdullah bin Mas’ud. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat yang sangat mencintai Al-Qur’an. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa yang ingin mendengar Al-Qur’an seperti saat diturunkan, maka dengarkanlah dari Ibnu Mas’ud.” Ibnu Mas’ud membaca Al-Qur’an dengan penuh kekhusyukan, memahami maknanya, mengajarkannya kepada orang lain, dan mengamalkannya untuk dirinya sendiri. Inilah potret haqqa tilawatihi.
Haqqa Jihādihi
Allah SWT berfirman: “Dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad (haqqa jihadihi).” (QS. Al-Hajj: 78). Haqqa jihadihi meliputi segala bentuk perjuangan, baik fisik, mental, maupun harta, untuk menegakkan agama Allah. Jihad bukan semata-mata perang, tetapi juga melawan hawa nafsu, menyebarkan ilmu, dan memperjuangkan keadilan.
Seorang sahabat, Khalid bin Walid, yang dijuluki “Pedang Allah yang Terhunus,” adalah contoh nyata dari haqqa jihadihi. Dalam setiap pertempuran, ia tidak hanya menunjukkan keberanian, tetapi juga strategi yang cerdas.
Keteguhan hatinya untuk selalu membela Islam mencerminkan semangat jihad yang tulus dan ikhlas. Meski tidak dalam keadaan perang, ia tetap menjalankan kehidupan dan tugasnya dengan penuh kesungguhan.
Tiga bentuk kesungguhan inilah yang menjadi pilar penting bagi seorang mukmin untuk mencapai kedekatan dengan Allah SWT dan kesuksesan menjalani hidup di dunia dan akhirat.
Dengan bertakwa secara total, membaca Al-Qur’an dengan mendalam, dan berjuang di jalan Allah dengan sepenuh hati, seorang Muslim dapat menjalani hidup yang penuh berkah dan manfaat, baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Āmīn. Wallāhu a‘lam.






0 Tanggapan
Empty Comments