Langit tampak cerah, secerah wajah-wajah siswa yang hadir pagi itu. Udara terasa sejuk, sejuk pula hati para orang tua, sementara semilir angin seakan membersamai ketulusan Dewan Guru. Itulah potret pagi saat pembagian buku rapor dimulai, Ahad (21/12/2025).
PAUD ’Aisyiyah dan MI Muhammadiyah 10 Pesanggrahan, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan menggelar kegiatan parenting yang dibingkai dalam silaturrahim wali murid sekaligus pembagian rapor Semester Ganjil Tahun Ajaran 2025/2026.
Kegiatan ini berlangsung di Aula Perguruan Muhammadiyah dan melibatkan siswa, guru, serta wali murid.
Penerimaan rapor kali ini memiliki makna ganda. Selain sebagai ajang evaluasi dan penguatan sinergi orang tua–sekolah, kegiatan ini juga menjadi momentum menyambut Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember. Suasana tersebut memantik antusiasme para ibu wali murid, terlebih karena akan ada kejutan istimewa dari anak-anak PAUD dan MI.
Rangkaian acara diawali dengan penampilan kreasi siswa, pembukaan, tilawatil Qur’an, serta sambutan Kepala PAUD ’Aisyiyah dan Kepala MI Muhammadiyah 10 Pesanggrahan.
Tiga Kekuatan Mendidik Anak
Memasuki acara inti, Aunur Rochman, M.A., menyampaikan materi parenting. Ia membuka dengan pengantar bahwa istilah parenting sejatinya bukan hal baru.
“Parenting adalah istilah yang familier saat ini untuk menyebut pengasuhan anak. Namun sesungguhnya sejak zaman Rasulullah, konsep parenting telah diajarkan melalui Al-Qur’an, di antaranya dalam Surah Luqman ayat 12–19,” ungkapnya.
Ia juga merekomendasikan kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan sebagai rujukan penting dalam pendidikan anak.
Menurut Aunur Rochman—yang akrab disapa Pak Nur—terdapat tiga kekuatan mendasar dalam mendidik anak.
Pertama, Quwwatul Aqidah (Kekuatan Aqidah).
Orang tua hendaknya menanamkan pondasi keimanan sejak dini. Anak perlu dikenalkan bahwa Allah adalah Maha Pencipta, Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, serta hanya kepada-Nya tempat bergantung dan beribadah.
Kedua, Quwwatul Akhlaq (Kekuatan Akhlak).
Orang tua dituntut mengajarkan nilai moral, tidak hanya melalui lisan, tetapi juga keteladanan. Membiasakan bahasa santun, sikap hormat, serta ketaatan kepada Allah dan kepedulian kepada sesama harus dimulai dari rumah agar anak mudah meniru dan membiasakannya.
Ketiga, Quwwatul Ilmi (Kekuatan Ilmu).
Anak perlu dibekali ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum. Orang tua harus memilihkan pendidikan yang tepat agar anak memiliki bekal dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bahkan mendorong umatnya menuntut ilmu hingga ke negeri Cina, sebagai isyarat pentingnya ilmu dan teknologi.
“Tiga modal utama ini harus ditanamkan sebagai bekal anak menghadapi masa depan,” tegas ustadz yang berdomisili di Maduran tersebut.
Bersyukur Masih Memiliki Ibu
Suasana mendadak hening ketika pemateri mengulas tentang sosok ibu. Ia mengingatkan bahwa meski kedua orang tua adalah segalanya, ibu memiliki keutamaan tersendiri.
“Bagi yang masih memiliki ibu, bersyukurlah. Selagi beliau masih hidup, berbaktilah. Anak yang baik adalah anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya,” pesannya.
Nuansa haru semakin terasa ketika Faizah, S.Pd., membacakan puisi tentang ibu yang diiringi alunan musik perjalanan hidup. Tak sedikit wali murid dan siswa yang menitikkan air mata saat duduk berdampingan, larut dalam suasana penuh makna.
Sambutan Kepala Lembaga
Kepala MI Muhammadiyah 10 Pesanggrahan, Ali Shodiqin, S.Pd., menyampaikan pesan penuh optimisme.
“Anak-anak kita itu hebat. Setiap anak memiliki kelebihan masing-masing. Mungkin ada yang kurang di akademik, tetapi unggul dalam hafalan Al-Qur’an Juz Amma. Mari kita tumbuhkan bakat mereka di MIM 10 Pesanggrahan,” ujar pria kelahiran 1984 tersebut.
Senada, Kepala PAUD ’Aisyiyah Pesanggrahan, Kismi’atun, S.Pd.I., turut menyampaikan capaian lembaga yang dipimpinnya.
“Anak-anak PAUD ’Aisyiyah Pesanggrahan itu hebat. Pada Milad ke-113 Muhammadiyah Cabang Laren, kami meraih juara harapan 2 dan 3. Di GOR Pesanggrahan juga meraih juara 1 dan 3 lomba mewarnai se-Laren Barat. Ini bukti bahwa anak didik kita mampu dan berprestasi,” ujarnya.
Menjelang pulang, wali murid menerima buku rapor. Beberapa wali kelas memanfaatkan momen tersebut untuk berdialog dua arah dengan orang tua terkait perkembangan dan aktivitas siswa.
Tepat pukul 11.15 WIB, seluruh rangkaian kegiatan berakhir. Beragam perasaan senang, haru, puas, hingga refleksi terpancar dari wajah para wali murid. Semoga pertemuan ini menjadi pelajaran berharga dan penguat sinergi pendidikan keluarga dan sekolah pada semester berikutnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments