Ada tiga pilar fundamental yang harus dibangun dalam diri seorang muslim agar menjadi pribadi yang utuh: penguatan kognitif, penyucian jiwa, dan pengajaran kebijaksanaan.
Tiga pilar ini disampaikan oleh Dr. Arfan Muammar, M.Pd.I, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), dalam Khotbah Jumat di Masjid Al-Khoory UM Surabaya, Jumat (5/12/2025).
Berangkat dari Surat Al-Jumu’ah Ayat 2. Pada awal khutbah, Dr. Arfan membacakan firman Allah dalam Surat Al-Jumu’ah ayat 2 sebagai landasan utama:
“Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Ayat ini, menurutnya, menggambarkan tiga tugas besar kenabian yang relevan diterapkan dalam konteks pendidikan dan kehidupan modern.
Pertama, penguatan kognitif dengan mengembalikan ilmu pada sumber wahyu. Arfan menekankan pentingnya penguatan kognitif berbasis Al-Qur’an dan hadis.
Menurutnya, setiap bidang ilmu—baik kesehatan, ekonomi, teknik, maupun sosial—harus kembali merujuk pada nilai-nilai wahyu.
“Bagi mereka yang bekerja di dunia kesehatan, penting membaca ayat-ayat Al-Qur’an tentang kesehatan. Yang berada di ekonomi pun harus memahami ayat-ayat ekonomi. Begitu pula bidang-bidang lainnya,” ujarnya.
Dia lantas memaparkan lima tahapan penting dalam pembelajaran ayat-ayat Allah, pertama, yakni membaca Al-Qur’an secara tartil, sebagaimana firman Allah: “Bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4)
Kedua, menghafalkan Al-Qur’an dengan kuat (mutqin). Ketiga, memahami kandungan Al-Qur’an, merujuk firman-Nya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya…” (QS. Shad: 29)
Keempat, mentadabburi Al-Qur’an, merenungkan maknanya secara mendalam. Keempat, mengamalkan ajaran Al-Qur’an, sebagaimana pesan Allah: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” (QS. Al-A‘raf: 3)
Menurut Arfan, lima langkah ini akan melahirkan insan akademik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki pandangan hidup yang lurus.
Kedua, menyucikan jiwa sebagai fondasi karakter dan akhlak mulia. Menurut dia, penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) adalah upaya membangun karakter melalui akhlak yang mulia.
Arfan menekankan bahwa penguatan kognitif tanpa penyucian jiwa akan melahirkan pribadi pintar tetapi rapuh secara moral.
“Penyucian jiwa itu mencakup kemampuan berbuat baik, memaafkan, dan menjalin silaturahmi,” jelasnya.
Dia kemudian mengutip beberapa ayat sebagai penguat, di antaranya tentang berbuat baik: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS. An-Nahl: 90)
Tentang memaafkan: “Maafkanlah mereka dan ampunilah mereka…” (QS. Al-Ma’idah: 13)
Tentang menjaga silaturahmi: “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahmi.” (QS. An-Nisa’: 1)
Menurutnya, karakter seorang muslim tidak hanya dinilai dari ibadah ritual, tetapi dari bagaimana ia memperlakukan sesama manusia.
Ketiga, mengajarkan kebijaksanaan. Dia mengutip pelajara dari kisah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Dalam poin ini, Arfan membahas pengajaran kebijaksanaan (hikmah). Hikmah adalah kemampuan mengambil keputusan dengan tepat, adil, dan mempertimbangkan banyak sudut pandang.
Dia merujuk pada kisah Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dalam Surat Al-Anbiya ayat 78–79:
“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman ketika keduanya memberi keputusan mengenai ladang, ketika kambing-kambing suatu kaum masuk ke dalamnya pada malam hari, lalu Kami menjadi saksi atas keputusan mereka. Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman, dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu…” (QS. Al-Anbiya: 78–79)
Arfan menjelaskan, keputusan Nabi Daud mengutamakan keadilan pemilik kebun, dengan memberikan hak atas kerugian.
Sementara keputusan Nabi Sulaiman mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi kedua pihak, sehingga ia menawarkan solusi win-win: pemilik kambing memperbaiki ladang hingga kembali seperti semula, sementara pemilik kebun dapat memanfaatkan kambing selama masa perbaikan.
“Dari kisah ini kita belajar bahwa kebijaksanaan bukan hanya tentang siapa yang benar, tetapi bagaimana keputusan bisa membawa maslahat lebih besar,” tegasnya.
Dikatakan Arfan, tiga pilar tersebut—penguatan kognitif, penyucian jiwa, dan pengajaran kebijaksanaan—merupakan metode transformasi umat yang diwariskan Rasulullah.
Jika diterapkan dalam dunia pendidikan dan sosial, maka akan melahirkan generasi yang cerdas sekaligus beradab, memahami ilmu dunia dengan sandaran wahyu, dan mampu membuat keputusan yang bijaksana.
“Rasulullah telah mencontohkan bahwa membangun umat harus dimulai dari akal, jiwa, dan kebijaksanaan. Inilah warisan abadi yang harus terus kita hidupkan,” tutup dia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments