Allah subhana wata’ala telah merahmati Islam. Allah memuliakan kita dengan Islam. Maka perhatikanlah apa yg telah diwasiatkan oleh Nabi Muhammad saw kepada Sahabat Muadz bin Jabal ketika meminta wasiat kepada Nabi.
Tiga wasiat utama Rasulullah SAW kepada Mu’adz bin Jabal adalah bertakwa di mana pun berada, mengikuti perbuatan buruk dengan kebaikan, dan berakhlak mulia kepada sesama manusia. Wasiat ini mencakup hubungan dengan Allah dan makhluk, serta menjadi pedoman hidup yang komprehensif bagi setiap Muslim untuk meraih keselamatan. Wasiat tersebut dapat dilihat pada sebuah hadits berikut.
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ” [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]
“Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal ra, dari Rasulullah saw beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: hadits hasan shahih).
Dalam hadits tersebut, terkandung 3 wasiat Nabi yang sangat penting. Baik hubungan manusia kepada Allah maupun hubungan manusia ke sesama manusia.
Pertama, perintah takwa di mana pun berada, ittaqillaha haitsumaa kunta. Nabi tidak hanya memerintahkan takwa semata. Namun bertakwa dimana pun kita berada, baik di tengah keramaian maupun saat sunyi bersendirian. Inilah takwa yang sebenar-benarnya, dan takwa yang paling berat.
Rasulullah saw telah bersabda, yang artinya adalah sebagai berikut dengan naskah yang cukup Panjang. “Aku mengetahui kata Rasulullah, ada orang yang mempunyai amal yang banyak seperti gunung di Hama. Banyak amalnya, banyak kebaikannya. Tiba-tiba kebaikan itu, kata Allah habis tidak bernilai: tidak ada lagi pahalanya.
Sahabat bertanya, wahai Rasulullah sebutkan orang itu kelompok itu, golongan itu, agar kami tidak masuk kedalam golongan itu. Kemudian Rasulullah bersabda: Mereka seperti kalian, beramal seperti kalian, shalat malam seperti kalian, berpuasa seperti kalian, sedekah seperti kalian. Tapi mereka, kata Nabi, apabila mereka berhadapan dengan perkara yang haram, yaitu saat sendirian tidak ada yg orang lain, dia kerjakan yang haram itu.
Apa maknanya, dia bertaqwa di hadapan orang ramai, tapi kalau sendirian tidak lagi menjadi orang yang bertaqwa. Sebagaimana kata Imam Syafi’i
وقال الشافعي : أعزُّ الأشياء ثلاثة : الجودُ من قِلَّة ، والورعُ في خَلوة ، وكلمةُ الحقِّ عند من يُرجى ويُخاف
“Perkara yang paling berat itu ada 3. Yaitu dermawan saat memiliki sedikit harta, meninggalkan hal yang haram saat sendirian dan mengatakan kebenaran saat berada di dekat orang yang diharapkan kebaikannya atau ditakuti kejahatannya” (Jami’ Ulum wa Hikam 2/18).
Wasiat yang kedua adalah segera melakukan amal shalih, wa atbi’i as-sayyiata al-hasanata tamhuhaa. Nasihat yang kedua menjelaskan perintah untuk bersegera melakukan kebaikan tatkala kita terjerumus dalam keburukan.
Nasihat yang mulia ini menjelaskan perintah untuk segera bertaubat. Karena taubat adalah bagian dari amal shalih yang paling mulia dan harus disegerakan. Allah swt berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu. (QS at-Tahriim: 8)
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Wasiat yang ketiga adalah berakhlak mulia kepada manusia, wa khaaliqi an-naas bikhuluqin hasanin. Wasiat yang terakhir adalah perintah untuk berakhlak yang mulia kepada sesama manusia. Setelah 2 wasiat di atas menyebutkan perintah yang berhubungan antara Allah dan manusia.
Contoh paling gampang dalam berakhlak mulia adalah senyuman yang diiringi wajah yang berseri dan menyebarkan salam. Rasulullah telah bersabda:
أَفْشُوا السَّلاَمَ تَسْلَمُوْا
“Sebarkanlah salam, niscaya kalian akan selamat.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih).
Oleh karena itu, Rasulullah mengkaitkan antara akhlak dengan iman yang sempurna. Dimana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2612, ia berkata: Hadits Shahih).
Bahkan dalam hadits lain juga disebutkan bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya. Orang yang memiliki akhlak mulia, tidak hanya dicintai oleh Rasulullah. Namun ia akan dicintai oleh manusia yang lainnya.






0 Tanggapan
Empty Comments