
PWMU.CO – Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan pembelajaran bagi siswa PDPD (Peserta Didik dengan Perbedaan Dukungan), SD Mumtaz menyelenggarakan pelatihan khusus bagi GPI (Guru Pendamping Inklusi).
Pelatihan ini meliputi materi intervensi Al-Quran, identifikasi kemampuan mengaji untuk murid spesial, intervensi klinis dan bedong, strategi pendampingan, praktik baik (best practice), serta penyusunan administrasi seperti PPI dan matriks.
Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, Selasa–Rabu (15–16/7/2025), bertempat di Aula Gedung 1 SD Mumtaz. Seluruh guru pendamping khusus, baik yang baru maupun lama, mengikuti kegiatan ini dengan antusias.
Pelatihan hari pertama menghadirkan dua pemateri utama, yaitu Ustadz Misbahul Munir dan Ustadz Luqmanul Hakim, praktisi pendidikan Islam sekaligus trainer nasional di bidang pembelajaran Al-Quran bagi siswa berkebutuhan khusus.
Dalam pelatihan ini, para peserta dibekali metode intervensi dini dan strategi pembelajaran mengaji yang terarah, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga pembacaan ayat-ayat pendek dengan pendekatan multisensori.
“Setiap anak istimewa punya potensi untuk mencintai Al-Quran. Guru adalah jembatan untuk membuka jalan itu, dengan pendekatan yang tepat dan hati yang tulus,” ujar Ustadz Anang dalam sesi pemaparan.
Kegiatan berlangsung interaktif melalui diskusi, studi kasus, dan praktik simulasi. Para peserta tampak antusias dan berharap dapat segera menerapkan materi yang diterima dalam pembelajaran di kelas.

Pelatihan hari kedua dilanjutkan dengan materi strategi pendampingan dan praktik baik dalam layanan pendidikan inklusi. Materi ini disampaikan oleh Ibu Heni Dwi Utari SSos SPd, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SD Mumtaz yang juga merupakan praktisi pendidikan inklusif.
Dalam pemaparannya, Ibu Heni menekankan pentingnya strategi pendampingan berbasis empati, komunikasi kolaboratif, dan pendekatan individual.
“Kunci dari pendampingan yang berhasil adalah mengenali kebutuhan anak bukan dari keterbatasannya, tetapi dari potensi yang bisa kita bantu kembangkan,” ujarnya.
Sesi pelatihan juga memuat berbagai praktik baik yang telah diterapkan di SD Mumtaz, mulai dari modifikasi kegiatan belajar, penyusunan program harian berbasis kebutuhan individual, hingga kolaborasi antara guru kelas dan GPI dalam mengelola emosi serta perilaku anak di kelas.
Melalui pelatihan ini, SD Mumtaz semakin memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pendidikan yang inklusif, adil, dan berpihak pada keberagaman kebutuhan peserta didik. (*)
Penulis Inggit Iksan Ferredika Editor M Tanwirul Huda






0 Tanggapan
Empty Comments