Inovasi baru hadir untuk menjawab tantangan petani bawang merah di tengah perubahan iklim dan keterbatasan tenaga kerja.
Tim pengabdian masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya) melaksanakan program “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Implementasi Sistem Irigasi Cerdas Berbasis Tenaga Surya untuk Meningkatkan Efisiensi dan Produktifitas Pertanian Bawang Merah” di Desa Klutuk, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban.
Program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi ini ketuai oleh Dr. Wardah Suweleh, M.Pd, bersama anggota Abdul Rokhman, S.Kep., Ns., M.Kep, dan Dr. Drs. Wijayadi, M.Pd. Inovasi ini hadir untuk membantu petani mengelola air secara lebih efisien, mengurangi pemborosan, serta meningkatkan hasil panen. Program ini dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu sejak bulan Juli-September 2025.
Wardah menjelaskan, teknologi ini dirancang dengan sistem sensor kelembapan tanah yang terhubung dengan pompa air otomatis.
“Ketika tanah kering, sistem akan bekerja sendiri, sementara sumber energinya sepenuhnya memanfaatkan panel surya. Jadi, petani tidak lagi bergantung pada listrik PLN atau penyiraman manual,” terangnya.
Pengabdian kepada Masyarakat
Pelaksanaan program berlangsung melalui lima tahap, yakni persiapan, sosialisasi, edukasi dan pengembangan teknologi, implementasi, serta monitoring dan evaluasi. Pada tahap awal, tim melakukan survei kondisi lahan dan kebutuhan petani. Hasilnya digunakan untuk merancang sistem yang sesuai dengan karakteristik bawang merah dan iklim setempat.

Pada tahap selanjutnya dilakukan kegiatan sosialisasi dan penyamaan persepsi antara tim pengabdian dengan mitra sasarn. Sosialisasi dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada petani mengenai urgensi efisiensi air serta pengenalan irigasi otomatis. Petani juga dilibatkan dalam pelatihan penggunaan alat, sehingga mereka dapat mengoperasikan dan merawatnya secara mandiri.
Menurut Abdul Rokhman, teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan. Pertama, hemat energi dan ramah lingkungan karena menggunakan tenaga surya. Kedua, lebih efisien dalam penggunaan air dan tenaga kerja.
“Petani tidak perlu lagi repot menyiram setiap hari. Penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan tanaman, sehingga lebih tepat guna,” jelasnya.
Selain keuntungan teknis, program ini juga membawa dampak sosial. Petani yang awalnya ragu terhadap teknologi, kini lebih terbuka terhadap modernisasi pertanian. Melalui pendampingan, mereka semakin percaya diri mengoperasikan teknologi berbasis energi terbarukan.
“Ini menjadi langkah awal menuju lahirnya generasi petani muda yang melek teknologi,” tambah.
Dari sisi ekonomi, efisiensi biaya penyiraman dan peningkatan hasil panen membuat petani merasakan keuntungan langsung. Mereka bisa mengalokasikan tenaga ke kegiatan lain, seperti pengolahan pascapanen maupun pemasaran. Karena tidak perlu lagi repot-repot mengurus penyiraman tanaman.
Pelaksanaan program ini menunjukkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Teknologi irigasi otomatis berbasis tenaga surya tidak hanya membantu petani bawang merah, tetapi juga berpotensi diterapkan pada komoditas hortikultura lain seperti cabai dan tomat.
“Dengan energi terbarukan, kita tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan,” tutup Wardah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments