Wisata kuliner memiliki peran strategis dalam mendorong perekonomian masyarakat, karena menjadi bagian penting dari sektor ekonomi kreatif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2025, sektor ekonomi kreatif mampu menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja atau 18,7% dari total tenaga kerja nasional.
Dalam sektor tersebut, subsektor kuliner menjadi salah satu kontributor terbesar. Pengembangan wisata kuliner secara langsung mendorong pertumbuhan usaha kecil, mulai dari warung makan, pedagang kaki lima, hingga restoran lokal. Aktivitas ini meningkatkan perputaran ekonomi di daerah wisata sekaligus memperkuat pendapatan masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan pemasok bahan baku lokal.
Selain meningkatkan pendapatan, wisata kuliner juga berperan dalam membuka lapangan kerja baru. Data BPS menunjukkan adanya peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif dari 26,48 juta orang (18,3%) pada tahun 2024 menjadi 27,4 juta orang (18,7%) pada tahun 2025.
Peningkatan ini menegaskan bahwa subsektor kuliner memiliki kapasitas besar dalam menyerap tenaga kerja serta mendorong pembangunan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.
Salah satu faktor penting dalam pengembangan wisata kuliner adalah digitalisasi di sektor transportasi. Di negara-negara yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development, transformasi digital terbukti mampu meningkatkan pengalaman wisata secara keseluruhan.
Laporan Tourism Trends and Policies (2020) menjelaskan bahwa integrasi teknologi digital—seperti pemesanan transportasi daring, sistem berbasis data, dan otomatisasi—memungkinkan wisatawan merencanakan perjalanan secara lebih efisien.
Wisatawan dapat menentukan rute perjalanan sekaligus memilih destinasi kuliner hanya dalam beberapa langkah, sehingga pengalaman perjalanan menjadi lebih terintegrasi dan nyaman.
Di Indonesia, transformasi ini mulai terlihat melalui peluncuran aplikasi Travoy oleh Jasa Marga pada 10 Januari 2026.
Aplikasi ini menghadirkan berbagai fitur yang mendukung mobilitas pengguna, termasuk informasi rest area yang memuat lokasi, fasilitas, hingga tenant kuliner di sepanjang jalan tol.
Keberadaan fitur ini secara langsung meningkatkan visibilitas pelaku usaha kuliner di rest area serta mempermudah wisatawan dalam menemukan pilihan makanan selama perjalanan.
Travoy pada dasarnya berfungsi sebagai platform digital yang mengintegrasikan mobilitas dan informasi perjalanan, sehingga mendorong distribusi wisatawan ke berbagai titik kuliner di jaringan tol.
Untuk semakin memperkuat peran tersebut, Travoy perlu mengembangkan fitur berbasis integrasi ekosistem digital dan analitik mobilitas.
Salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah sistem rekomendasi kuliner berbasis kecerdasan buatan (AI-driven recommendation system). Sistem ini dapat memanfaatkan data perjalanan pengguna—seperti asal, tujuan, dan waktu tempuh—untuk memberikan rekomendasi kuliner yang relevan.
Selain itu, fitur dynamic routing with culinary stop optimization memungkinkan pengguna memilih rute yang tidak hanya tercepat, tetapi juga melewati destinasi kuliner unggulan.
Konsep ini sejalan dengan pendekatan Mobility-as-a-Service (MaaS) yang telah diterapkan di berbagai negara maju.
Pengembangan teknologi lain seperti augmented reality (AR) untuk pratinjau menu, serta sistem ulasan terverifikasi berbasis perjalanan, juga dapat meningkatkan kepercayaan dan pengalaman pengguna.
Transformasi digital transportasi membuka peluang besar bagi penguatan wisata kuliner di Indonesia. Dengan integrasi teknologi yang tepat, platform seperti Travoy tidak hanya menjadi alat navigasi, tetapi juga dapat berkembang menjadi ekosistem digital yang menghubungkan mobilitas dan pengalaman kuliner.
Ke depan, inovasi ini diharapkan mampu mendorong distribusi wisatawan secara lebih merata, meningkatkan omzet pelaku usaha kuliner, serta memperkuat ekosistem ekonomi digital berbasis perjalanan di Indonesia.





0 Tanggapan
Empty Comments