Pondok Pesantren Entrepreneur Muhammadiyah (PPEM) Benjeng kini tengah memulai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan mereka.
Melalui optimalisasi tanah wakaf seluas 12 hektare peninggalan almarhum H. Bisri Ilyas, pesantren ini memproyeksikan diri untuk tidak lagi bergantung pada pasokan pangan luar, melainkan menjadi mandiri di atas tanah sendiri.
Lahan wakaf yang berlokasi di Desa Klampok tersebut kini mulai diberdayakan secara produktif.
Langkah ini secara resmi dimulai pada Sabtu (14/2/2026), menandai babak baru dalam pengelolaan aset umat yang berfokus pada kesejahteraan santri.
Majelis Wakaf Muhammadiyah Benjeng, di bawah komando Mudiono, menginisiasi gerakan ini sebagai bentuk nyata dari amanah wakaf yang berkelanjutan.
Lahan Klampok Sebagai Cadangan Strategis
Tanah seluas 12 hektare di Klampok bukan sekadar aset diam.
Dalam visi jangka panjang, lahan ini bermanfaat untuk lahan cadangan pangan utama bagi seluruh santri PPEM.
Dengan luas yang sangat signifikan, potensi hasil tani yang bisa dihasilkan diperkirakan mampu menutup kebutuhan pokok dapur pesantren sepanjang tahun.
Namun, untuk memastikan keberhasilan di lahan utama, pengelola memulai langkah perdana di daerah Dermo sebagai lahan percontohan.
Sejak Sabtu lalu, aktivitas di lapangan tampak sibuk dengan kegiatan pengolahan dan penggemburan tanah.
Struktur tanah diperbaiki sedemikian rupa agar siap menerima benih, memastikan tanaman tumbuh optimal dengan serapan nutrisi yang maksimal.
Filosofi Wakaf Produktif: Dari Umat untuk Santri
Ketua Majelis Wakaf Muhammadiyah Benjeng, Mudiono, menegaskan bahwa semangat dari program ini adalah kemandirian.
Menurutnya, pesantren harus memiliki kemandirian ekonomi yang kuat agar proses pendidikan santri tidak terhambat oleh fluktuasi harga pangan di pasar.
“Harapannya, lahan wakaf ini tidak hanya menjadi aset mati atau sekadar papan nama, tetapi benar-benar produktif dan mampu menopang kebutuhan pangan santri PPEM secara mandiri,” ujar Mudiono di sela-sela kegiatan penanaman.
Pemberdayaan lahan ini menjadi contoh konkret dari pengelolaan wakaf produktif.
Jika selama ini wakaf identik dengan masjid atau makam, kali ini Muhammadiyah Benjeng membuktikan bahwa wakaf bisa menjadi mesin penggerak ekonomi dan penopang kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan.
Membangun Kemandirian Pesantren
Dengan adanya sumber pangan mandiri, biaya operasional pesantren dapat ditekan, sementara kualitas gizi santri tetap terjaga.
Hal ini sejalan dengan identitas PPEM sebagai pesantren “Entrepreneur”, di mana santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga melihat langsung bagaimana ekosistem ekonomi berbasis wakaf dijalankan secara profesional.
Keberhasilan proyek ini nantinya diharapkan dapat memperluas kebermanfaatan Muhammadiyah Benjeng bagi masyarakat luas.
Melalui sinergi antara amanah almarhum H. Bisri Ilyas dan pengelolaan profesional dari Majelis Wakaf, PPEM Benjeng kini menatap masa depan dengan lebih percaya diri.
Tanah wakaf ini tidak lagi sekadar hamparan bumi, melainkan telah menjelma menjadi lumbung pangan yang akan terus menghidupi para santri masa depan.***






0 Tanggapan
Empty Comments