
PWMU.CO – Banjir dan longsor melanda Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Senin (19/5/2025), setelah hujan deras mengguyur wilayah ini sejak awal pekan. Akibat bencana tersebut, enam orang dilaporkan meninggal dunia, puluhan warga terdampak, dan dua RT masih terisolasi hingga hari keenam pascakejadian.
Banjir merendam wilayah Kecamatan Trenggalek, Pogalan, dan Karangan dengan ketinggian air mencapai 50 cm di beberapa titik. Sementara longsor terparah terjadi di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, yang menelan korban jiwa terbanyak.
Enam korban yang ditemukan tim evakuasi gabungan terdiri atas dua anak-anak, dua lansia, dan dua orang dewasa. Mereka adalah Pak Tulus (36), Bu Nitin (36), Bu Yatini (50), Torik (2), Mbah Mesinem (90), dan Mbah Yatemi (70). Proses evakuasi berlangsung penuh tantangan karena medan berat dan cuaca yang terus berubah.
Merespons cepat kondisi darurat ini, Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (MDMC) dan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Trenggalek langsung bergerak menyalurkan bantuan.
“Posko utama kami dirikan di Masjid Al-Huda, Desa Sumberingin, Kecamatan Karangan. Sementara Pos Hangat berada di Balai Desa Depok sebagai titik distribusi logistik bagi relawan dan penyintas,” ujar Niko Prasetyo D.C., Koordinator MDMC Trenggalek, Jumat (24/5/2025).
Sebanyak 15 personel MDMC dan KOKAM diterjunkan langsung ke lokasi terdampak. Selain menyalurkan bantuan logistik seperti air minum, makanan ringan, pop mie, dan kopi hangat, tim juga melakukan evaluasi lapangan dan memastikan keselamatan relawan di lapangan.
Kondisi di lapangan masih jauh dari pulih. Dua RT dilaporkan masih terisolasi dan belum mendapat aliran listrik. Dapur umum warga juga kekurangan pasokan makanan siap saji, seperti Rendangmu dan pentol.
Laporan dari Pusdalops-PB Trenggalek menyebutkan, sebanyak 60 jiwa terdampak langsung akibat banjir dan longsor ini. Masa pemulihan diperkirakan berlangsung cukup lama, namun semangat gotong royong dan dukungan berbagai pihak terus mengalir.
“Bencana boleh datang, tapi semangat gotong royong dan kemanusiaan harus lebih besar,” tegas Niko. (*)
Penulis Agung Editor M Tanwirul Huda







0 Tanggapan
Empty Comments