Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Triyono: Dari Marbot Masjid ke Guru Besar Agribisnis

Iklan Landscape Smamda
Triyono: Dari Marbot Masjid ke Guru Besar Agribisnis
Triyono. foto: doc/pri

Pagi di kawasan Notoprajan, Ngampilan. Tepatnya Jl. KH. Ahmad Dahlan, Suronatan No.73 Kota Yogyakarta. Dulu, sekitar tahun 1997-an, kerap diawali dengan langkah tenang seorang pemuda yang menyapu lantai Masjid Attahkim. Di tangannya, sapu bergerak pelan. Memastikan setiap sudut rumah ibadah bersih sebelum adzan Subuh berkumandang.

Pemuda itu adalah Triyono. Yang puluhan tahun kemudian dikenal sebagai Prof Dr Triyono SP MP, Guru Besar Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Perjalanan hidupnya menyimpan kisah sunyi tentang ketekunan dan kesederhanaan. Serta keyakinan bahwa ilmu tumbuh dari kerja keras yang dirawat dengan kesabaran.

Pada masa muda, jauh sebelum meraih gelar profesor, Triyono menjalani hari-hari sebagai marbot Masjid Attahkim. Saat itu ia belum berkeluarga dan telah menjadi dosen muda di Fakultas Pertanian UMY. Kamar kecil di sisi selatan masjid –dekat kamar mandi– menjadi ruang hidupnya. Di dalam kamar itu bukan harta benda yang menumpuk, melainkan buku-buku yang menjadi teman setia perjalanan intelektualnya.

Di sisi utara masjid ada juga kamar yang ditempati beberapa mahasiswa. Terdapat juga televisi hitam putih menjadi pusat perhatian. Pada era 1997, televisi bukan barang yang mudah dimiliki mahasiswa. Setiap ada siaran langsung sepak bola atau berita penting, kamar itu berubah menjadi ruang berkumpul penuh antusias.

Masjid Attahkim pun menjelma lebih dari tempat ibadah. Ia menjadi ruang belajar, ruang diskusi, sekaligus ruang persaudaraan. Koran Kedaulatan Rakyat dan Republika dipasang di balik kaca agar bisa dibaca banyak orang. Sebuah tradisi literasi sederhana yang memperkaya percakapan para mahasiswa dan jamaah.

Sebagai marbot, Triyono menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Membersihkan masjid, merapikan ruang shalat, hingga memastikan kesiapan ibadah Subuh. Ia juga membangunkan mahasiswa yang tidur di kamar sebelah agar tidak melewatkan shalat berjamaah.

Setiap hari Jumat, ia mengajak mereka ikut membersihkan masjid. Untuk persiapan shalat Jumat. Aktivitas itu bukan hanya pekerjaan fisik, melainkan pendidikan karakter tentang kepedulian, kebersamaan, dan disiplin.

Masjid tersebut juga menjadi tempat diskusi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Baik yang kuliah di UMY maupun Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Percakapan tentang gagasan keislaman, sosial, hingga masa depan bangsa mengalir di antara dinding-dinding masjid. Triyono hadir di tengah dinamika itu. Ia tenang, mendengar, sekaligus memberi arah.

Di balik kehidupan sederhana sebagai marbot, Triyono menapaki jalan akademik dengan konsistensi. Gelar sarjana S.P, diselesaikannya di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1997. Mengajar sebagai dosen muda UMY, dia melanjutkan sekolah Pascasarjana di UGM. Lulus pada tahun 2004. Hingga akhirnya lulus S-3 dari UGM pada tahun 2018.

Perjalanan pendidikan itu tidak berlangsung instan. Ada jarak waktu panjang yang menunjukkan proses belajar sambil mengabdi, mengajar, dan menata kehidupan. Setiap jenjang dilalui dengan ketekunan yang sama. Seperti saat ia menyapu lantai masjid di waktu Subuh.

Pada tahun 2026, dedikasi panjang tersebut mencapai puncaknya. Ketika ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Agribisnis Pertanian. Gelar akademik tertinggi itu tentu bukan hanya capaian pribadi. Tapi juga simbol perjalanan panjang seorang anak muda yang memulai langkah dari ruang sederhana di samping masjid.

Meski kini menyandang gelar profesor, mereka yang mengenalnya sejak lama merasakan satu hal yang tetap sama. Yaitu kesederhanaan. Triyono tetap murah senyum. Ia tidak menuntut sapaan formal. Bagi kawan lama, memanggil “Mas” atau “Pak” sudah cukup. Jarak antara profesor dan sahabat masa muda tidak pernah ia bangun.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Sikap itu memperlihatkan bahwa kebesaran seseorang tidak selalu ditunjukkan oleh gelar. Melainkan oleh kerendahan hati dalam memperlakukan orang lain.

Sebagai akademisi agribisnis, Triyono dikenal menaruh perhatian pada hubungan antara pertanian, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan ekonomi desa. Bidang agribisnis baginya bukan hanya teori produksi dan pasar. Tapi menyangkut kehidupan manusia yang bergantung pada tanah.

Pengalaman hidup sederhana kemungkinan membentuk cara pandangnya terhadap keadilan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Dari masjid kecil di kota pelajar hingga ruang-ruang akademik, garis pengabdiannya tetap terhubung: melayani kehidupan.

Bagi Triyono, Masjid Attahkim bukan hanya lokasi masa lalu. Melainkan titik awal pembentukan karakter. Di ia belajar disiplin waktu melalui adzan dan shalat berjamaah. Juga tanggung jawab melalui tugas marbot. Serta kecintaan pada ilmu melalui buku dan diskusi.

Tak lupa juga belajar kepedulian sosial melalui kebersamaan dengan mahasiswa. Nilai-nilai itu kemudian tumbuh dalam perjalanan akademiknya. Hingga mencapai puncak profesi.

Kisah Triyono mengingatkan bahwa jalan menuju keberhasilan tidak selalu gemerlap. Ada fase sunyi yang harus dijalani dengan kesabaran. Ada pekerjaan sederhana yang justru membentuk keteguhan. Ada ruang kecil yang melahirkan mimpi besar.

Bagi mahasiswa dan generasi muda, perjalanan ini memberi pesan kuat. Asal-usul tidak membatasi masa depan. Selama ketekunan dijaga dan ilmu terus dirawat.

Kini, sebagai Guru Besar Agribisnis UMY, Triyono berdiri di posisi terhormat dunia akademik. Namun jejak langkahnya tetap mengarah pada nilai yang sama seperti dulu. Yaitu melayani, belajar, dan menjaga kesederhanaan.

Di ingatan banyak orang, sosoknya masih seperti pemuda yang berjalan pelan di lantai masjid sebelum Subuh. Tenang, bersih hati, dan penuh harapan. Dari sapu menuju mimbar profesor, perjalanan itu tidak hanya tentang perubahan gelar. Tapi tentang keteguhan menjaga makna hidup.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡