Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tuntunan dan Adab Saat Menunggu

Iklan Landscape Smamda
Tuntunan dan Adab Saat Menunggu
Adab menunggu. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Muhsin MK Pegiat Sosial – Masjid Al Badi Depok Timur

Menunggu adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Katakanlah: Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu” (QS. At-Tur: 31). Secara sederhana, menunggu berarti tinggal sementara di suatu tempat sambil mengharapkan sesuatu terjadi atau datang. Namun dalam praktiknya, menunggu sering kali menjadi aktivitas yang tidak mudah dijalani.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman menunggu kerap menghadirkan beragam emosi. Saat menanti keberangkatan pesawat, misalnya, seseorang bisa merasa gelisah ketika jadwal tertunda. Begitu pula ketika menunggu kelahiran anak di rumah sakit, perasaan cemas dan harap bercampur menjadi satu.

Bahkan bagi seorang sopir yang menunggu majikannya, waktu menunggu sering terasa lebih berat dibanding saat mengemudi di jalanan yang macet. Lebih dari itu, menunggu menjadi sangat berat bagi mereka yang menderita sakit berkepanjangan, yang berharap kesembuhan atau bahkan datangnya akhir dari penderitaan.

Waktu Menunggu Lebih Bermakna

Dalam Islam, menunggu bukan sekadar aktivitas pasif, melainkan dapat bernilai ibadah jika dijalani dengan sikap yang tepat. Oleh karena itu, terdapat tuntunan dan adab yang diajarkan agar waktu menunggu menjadi lebih bermakna dan menenangkan.

Pertama, menjadikan menunggu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan niat yang benar, aktivitas menunggu dapat bernilai positif. Hal ini sejalan dengan firman Allah, “Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS. Al-Hijr: 99). Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa seseorang yang menunggu waktu salat tetap berada dalam keadaan ibadah selama ia menanti.

Kedua, bersabar dalam menunggu. Kesabaran merupakan kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian. Allah menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 155). Rasulullah juga menegaskan bahwa salah satu bentuk ibadah terbaik adalah bersabar dalam menunggu pertolongan Allah.

Ketiga, menjaga ketenangan hati dengan bertawakal. Setelah berikhtiar, seorang hamba hendaknya menyerahkan hasilnya kepada Allah. Firman-Nya dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–8 mengingatkan bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan, dan manusia diperintahkan untuk terus berharap hanya kepada-Nya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Keempat, mengisi waktu menunggu dengan amal saleh. Daripada larut dalam kegelisahan, waktu menunggu dapat dimanfaatkan untuk berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an, atau melakukan kebaikan lainnya. Misalnya, saat menunggu kelahiran anak, orang tua dianjurkan untuk memanjatkan doa agar proses kelahiran berjalan dengan baik, sebagaimana doa yang termaktub dalam QS. Ali Imran: 36.

Kelima, memperbanyak doa agar apa yang ditunggu segera terwujud. Kisah Nabi Ayub menunjukkan bagaimana doa yang tulus dalam penantian panjang akhirnya dikabulkan oleh Allah (QS. Al-Anbiya: 83). Ini menjadi pelajaran bahwa doa adalah kekuatan utama dalam menghadapi masa penantian.

Keenam, menjaga prasangka baik (husnuzan) kepada Allah. Dalam kondisi apa pun, termasuk saat menunggu kesembuhan atau hasil dari suatu usaha, seorang hamba dianjurkan untuk tetap berbaik sangka. Allah berfirman, “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku” (QS. Asy-Syu’ara: 80), dan dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Ketujuh, mengambil hikmah dari setiap penantian. Kisah Nabi Yusuf menjadi contoh nyata bahwa penantian panjang dapat berujung pada kemuliaan. Setelah melalui masa sulit di penjara, ia akhirnya diangkat menjadi sosok yang memiliki kedudukan tinggi di Mesir (QS. Yusuf: 53–56). Dari sini dapat dipahami bahwa setiap penantian mengandung pelajaran berharga yang mungkin tidak langsung terlihat.

Pada akhirnya, menunggu bukan sekadar soal waktu yang berlalu, tetapi bagaimana seseorang mengisi dan memaknainya. Dengan kesabaran, tawakal, serta amal yang terus dilakukan, menunggu dapat menjadi jalan menuju ketenangan hati sekaligus mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 12/04/2026 00:51
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡