
PWMU.CO – Twibbon promosi milik SMK Muhammadiyah Bandongan, Magelang, viral di media sosial setelah disalahgunakan oleh sejumlah netizen untuk membuat berbagai meme dan unggahan yang tidak pantas. Fenomena ini menuai beragam tanggapan, mulai dari kecaman hingga pembelaan.
Awalnya, twibbon tersebut dirancang sebagai sarana promosi sekolah agar tampil lebih kekinian dan menarik perhatian publik, terutama calon peserta didik. Namun, dalam beberapa hari terakhir, format twibbon itu menyebar luas dan digunakan oleh banyak pengguna media sosial untuk membuat konten yang menyimpang dari tujuan semula, bahkan ada yang menjadikannya bahan candaan vulgar dan tidak senonoh.
Menanggapi hal ini, pihak SMK Muhammadiyah Bandongan telah menyampaikan klarifikasi secara resmi. Mereka menyayangkan penyalahgunaan tersebut dan menegaskan bahwa seluruh unggahan tidak senonoh yang memakai twibbon sekolah bukan berasal dari pihak sekolah maupun siswa.

Fenomena ini pun menjadi sorotan kalangan pendidik, termasuk dari Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PWM Jawa Timur. Sekretaris Majelis, Phonny Aditiawan Mulyana MM, menyampaikan pandangannya secara lugas dan penuh keprihatinan.
“Tentu kita harus mengapresiasi tujuan awal dan semangat kreativitas yang berupaya ditunjukkan sekolah dalam menggunakan twibbon sebagai sarana promosi sekolah yang kekinian,” ungkapnya.
Namun, menurutnya, di era media sosial yang serba cepat dan tak terbendung seperti saat ini, risiko penyalahgunaan konten digital memang sangat tinggi. “Kita juga perlu menyadari bahwa di era ‘FYP’ seperti saat ini, terdapat potensi laten penyalahgunaan promosi digital yang tidak sesuai dengan tuntunan agama, kaidah, dan norma etika kesopanan yang berlaku,” ujarnya.
Phonny menambahkan, dalam konteks ini, penyebaran konten tidak pantas melalui twibbon bukan hanya di luar kendali sekolah, tetapi juga tidak mencerminkan nilai-nilai pendidikan yang ingin dibangun. Apalagi, banyak dari konten tersebut bukan dibuat oleh warga sekolah melainkan oleh pengguna internet yang tidak bertanggung jawab.
Dia menegaskan pentingnya meningkatkan literasi digital, baik di kalangan pelajar, pendidik, maupun masyarakat umum. Menurutnya, literasi digital yang baik akan membentuk kesadaran untuk menyaring, memproduksi, dan membagikan konten sesuai etika dan norma.
“Kita juga perlu menyadari bahwa algoritma dapat memiliki potensi positif dan negatif dalam membentuk persepsi masyarakat. Algoritma dapat membantu meningkatkan viralitas konten yang edukatif, namun juga memperkuat penyebaran informasi yang tidak akurat atau tidak pantas,” terangnya.
Phonny mengajak seluruh pihak agar bijak dalam menggunakan perangkat digital, termasuk twibbon. Menurutnya, twibbon semestinya digunakan secara positif, sebagai alat promosi yang edukatif dan konstruktif untuk mendukung citra baik dunia pendidikan.
“Kami berharap dan mengajak semua pihak memiliki kesadaran untuk menggunakan twibbon dengan bijak dan bertanggung jawab, memperhatikan nilai-nilai kesopanan dan etika yang berlaku di masyarakat. Terlebih pendidikan ini kan concern kita bersama,” pesannya.
Dia menutup pernyataannya dengan harapan agar kejadian ini menjadi pembelajaran bersama untuk lebih berhati-hati dalam membuat dan menyebarkan konten promosi, serta menguatkan kolaborasi antara sekolah, orangtua, dan masyarakat dalam menjaga marwah pendidikan. (*)
Penulis M Tanwirul Huda Editor Wildan Nanda Rahmatullah






0 Tanggapan
Empty Comments