Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

UAH: Doa Anak Saleh, Amal Jariyah, dan Ilmu Baik Tak Pernah Putus

Iklan Landscape Smamda
UAH: Doa Anak Saleh, Amal Jariyah, dan Ilmu Baik Tak Pernah Putus
Ustaz Adi Hidayat. Foto: Youtube/Adi Hidayat Official
pwmu.co -

Ustaz Adi Hidayat (UAH) memberikan penjelasan mendalam tentang bagaimana sikap seorang anak ketika orang tua meninggal dunia, terutama dalam kondisi tidak sempat mengucapkan kalimat Lā ilāha illallāh karena sakit atau koma.

Hal ini menjawab keresahan seorang jamaah yang menanyakan nasib ayahnya yang wafat dalam keadaan tak sadarkan diri.

Pertanyaan tersebut berawal dari kisah seorang anak yang ayahnya dipanggil Allah dalam keadaan koma di rumah sakit. Sang anak bercerita bahwa sebelum ayahnya meninggal, dia sempat membisikkan kalimat Allah di telinga sang ayah.

Dengan penuh harap, ia menanyakan kepada Ustaz Adi Hidayat apakah ayahnya meninggal dalam keadaan baik dan bagaimana cara terbaik untuk memuliakan almarhum.

Menanggapi hal itu, UAH mengajak seluruh jamaah untuk selalu berhusnuzan kepada Allah. Dia menekankan bahwa sakit yang diberikan menjelang wafat adalah bagian dari kasih sayang Allah.

“Kalau Allah sudah titipkan sakit misalnya koma, tidak bisa melakukan apa pun, husnuzan dulu kepada Allah. Syukuri bahwa semua fungsi tubuhnya menjelang wafat ditutup agar tak lagi berbuat maksiat. Itu tanda kasih sayang Allah,” ujarnya seperti dikutip di kanal Youtube Adi Hidayat Official.

UAH melanjutkan, ketika keluarga sudah membisikkan kalimat thayyibah di telinga orang yang sakit, maka kalimat itu akan sampai kepada Allah, meskipun tidak terucap oleh lisannya. “Allah perintahkan malaikat untuk menyampaikan itu kepada dirinya, walau tak terucap,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan bahwa setelah seseorang wafat, semua amalnya akan terputus kecuali tiga hal sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim:

“Jika manusia wafat, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

UAH mengurai satu per satu makna tiga amal tersebut dengan bahasa yang sederhana dan menyentuh hati.

Doa Anak Saleh

“Jadilah anak-anak yang saleh. Jangan pernah putus doa untuk orang tua. Setiap selesai salat, minimal kirimkan doa untuk mereka,” kata UAH.

Dia menegaskan bahwa doa anak adalah hadiah paling berharga dan tidak membutuhkan biaya apa pun. Doa menjadi bentuk kasih sayang yang kekal antara anak dan orang tua meskipun telah terpisah dunia dan akhirat.

Amal Jariyah

Iklan Landscape UM SURABAYA

Amal jariyah adalah kebaikan yang terus mengalir pahalanya. “Kalau ayah dulu pernah membantu renovasi masjid, selama orang salat di situ, pahalanya akan terus mengalir,” jelasnya.

Jika orang tua tidak sempat melakukan amal jariyah, maka anak dapat melanjutkannya. Misalnya dengan membeli mushaf Al-Qur’an untuk disumbangkan ke tempat tahfiz atau musala, dengan niat pahala dihadiahkan untuk orang tua.

“Tidak perlu menulis nama ayah di mushafnya, cukup niatkan di hati. Insyaallah cahaya amal itu akan sampai kepada mereka,” tutur UAH.

Ilmu yang Bermanfaat

Menurut UAH, ilmu yang dimaksud tidak terbatas pada guru atau pendidik formal saja.
“Setiap ayah pasti punya ilmu, sekecil apa pun, yang diajarkan kepada anaknya.

Misalnya mengajarkan salat, jujur, sopan, atau larangan berkata kasar. Saat anak mempraktikkan itu karena Allah, maka pahala terus mengalir untuk ayahnya,” jelasnya.

Dalam bagian yang sangat menyentuh, UAH mengingatkan pentingnya peran orang tua sebagai guru pertama bagi anak-anaknya.

Dia menasihati agar orang tua tidak melewatkan kesempatan untuk membimbing anak dalam ibadah sejak dini.

“Usahakan anak pertama kali belajar Al-Fatihah dari orang tuanya. Ketika nanti anak membaca Al-Fatihah dalam salatnya, itu akan menjadi cahaya bagi orang tuanya di alam kubur,” ujarnya.

UAH juga menyampaikan bahwa ketika rasa rindu terhadap orang tua muncul, sebaiknya diisi dengan ibadah. “Kalau kangen dengan ayah atau ibu yang sudah wafat, bacalah Al-Qur’an. Setiap ayat yang kita baca akan menjadi cahaya dan doa untuk mereka,” katanya.

UAH juga menegaskan bahwa bakti kepada orang tua tidak berhenti ketika mereka meninggal. Justru di situlah ujian cinta sejati dimulai. Anak-anak diajak untuk terus berbuat baik, meneladani ajaran orang tua, dan mendoakan mereka dalam setiap kesempatan.

“Doa, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat—itulah jalan kemuliaan bagi orang tua setelah wafat. Dan tugas anak-anaklah menjaga agar amal itu tidak pernah berhenti mengalir,” tutup UAH dengan nada lembut namun penuh makna. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu