Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

UAH: Ujian dan Celaan Tanda Hidup Berjalan Normal

Iklan Landscape Smamda
UAH: Ujian dan Celaan Tanda Hidup Berjalan Normal
Ustaz Adi Hidayat
pwmu.co -

Perbedaan pandangan, kritik, bahkan celaan dalam hidup bukanlah tanda kegagalan, melainkan keniscayaan yang menandai kehidupan berjalan secara normal.

Hal itu ditegaskan Ustaz Adi Hidayat (UAH) dalam ceramahnya yang mengupas makna ketenangan jiwa melalui Surah Ad-Duha dan Al-Insyirah.

Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammayah itu, membuka ceramah dengan realitas paling dekat dalam kehidupan manusia: perbedaan.

Bahkan dalam rumah tangga, kata dia, perbedaan pandangan bisa muncul dari hal sederhana seperti memilih warna jilbab. Dari situ, ia menegaskan bahwa keragaman pandangan adalah fitrah kehidupan.

“Kalau hidup kita tidak pernah dicela, tidak pernah disoal, tidak pernah direndahkan, justru itu yang tidak normal,” ujar UAH seperti dilansir dalam kanal Yootube Adi Hidayat Official.

Dia menegaskan, bahkan Rasulullah SAW—manusia paling mulia—tidak luput dari celaan, tuduhan, dan hinaan.

Menurutnya, ketika seseorang mendapat celaan karena berbuat baik, justru patut bersyukur. “Kalau dicela, berbahagialah. Itu tanda hidup kita normal,” katanya.

UAH menekankan satu hukum kehidupan: setiap kebaikan pasti diiringi tantangan. Tantangan itu hadir untuk menguji kesungguhan dan konsistensi seseorang dalam mempertahankan nilai kebaikan yang dipilihnya.

Dia mencontohkan fase berat dalam kehidupan Nabi Muhammad saw ketika wahyu terhenti sementara (fatrah al-wahy). Di masa itu, Rasulullah mendapat tudingan ditinggalkan Tuhannya, bahkan disebut mengalami gangguan jiwa.

Situasi inilah yang kemudian melatarbelakangi turunnya dua surah penting: Surah Ad-Duha dan Surah Al-Insyirah.

“Dua surah ini diturunkan untuk membimbing manusia menghadapi persoalan seberat apa pun dengan hati yang tenang dan mental yang kuat,” tegas UAH.

Dia lalu menjelaskan, pembukaan Surah Ad-Duha dengan sumpah Allah menunjukkan pesan yang sangat penting.

Sumpah demi waktu duha dan malam yang gelap menggambarkan dua fase kehidupan manusia: masa nyaman dan masa sulit.

“Allah bersumpah demi semua kenikmatan yang pernah kita rasakan dan demi kesulitan yang membuat hidup terasa gelap,” ujar UAH. Pesan intinya, lanjut dia, terangkum dalam ayat: “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu.”

Menurut UAH, ayat ini menjadi fondasi ketenangan jiwa. Dalam kondisi sesulit apa pun, seorang hamba harus menanamkan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya.

Dekat kepada Allah Saat Hidup Terasa Gelap

UAH menegaskan adab pertama saat menghadapi kesulitan hidup adalah mendekat kepada Allah, bukan menjauh. Ketika seseorang berada di titik “gelap”, itulah isyarat agar ia langsung bergantung penuh kepada Allah.

Dia mencontohkan kisah Nabi Zakaria yang memohon keturunan di saat secara logika hal itu mustahil. Namun karena permohonan itu hanya ditujukan kepada Allah, pertolongan pun datang tanpa perantara.

“Kalau sudah ada kalimat ‘ini tidak mungkin’, ‘ini mustahil’, itu tanda agar kita segera mendekat kepada Allah,” jelasnya.

UAH mengingatkan bahwa persoalan hidup di dunia sejatinya bersifat sementara. Banyak hal yang diperdebatkan dan diperebutkan manusia pada akhirnya akan ditinggalkan.

“Orang bertengkar memperebutkan sesuatu yang suatu hari pasti ditinggalkan,” ujarnya. Karena itu, Allah menenangkan manusia dengan ayat: “Akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia.”

Iklan Landscape UM SURABAYA

Sikap proporsional terhadap masalah, kata UAH, membuat seseorang lebih cepat “move on” dan lebih dekat kepada rida Allah.

UAH menegaskan, ketika rida Allah turun kepada seorang hamba, hal pertama yang diberikan bukan materi, melainkan ketenangan jiwa. Dari ketenangan itulah seseorang dibimbing untuk menyelesaikan persoalan hidup dengan lebih jernih.

“Tenang dulu hatinya. Kalau sudah tenang, solusi akan dibimbing,” ujarnya.

Dalam Surah Ad-Duha, Allah mengingatkan Nabi Muhammad SAW tentang masa lalu: yatim, bingung, dan kekurangan—semuanya telah diselesaikan oleh Allah. Pesan ini, menurut UAH, relevan untuk semua manusia.

“Kalau dulu ribuan masalah bisa Allah selesaikan, kenapa satu masalah hari ini membuat kita jatuh?” katanya.

Secara psikologis, orang yang mampu mengingat keberhasilan masa lalu akan memiliki harapan lebih besar untuk menuntaskan persoalan hari ini.

Tangga Kenaikan Kualitas Hidup

UAH menekankan bahwa ujian bukanlah beban, melainkan tangga untuk naik ke kualitas hidup yang lebih tinggi. Bahkan, sering kali ujian adalah jalan Allah untuk mengabulkan doa-doa yang pernah dipanjatkan.

“Semua kesuksesan desain dasarnya adalah ujian,” ujarnya. Ia mencontohkan wisuda, kelulusan, dan keberhasilan yang selalu diawali dengan ujian.

UAH juga mengingatkan kaidah penting dari Al-Baqarah ayat 286: Allah tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya. Karena itu, setiap ujian sejatinya adalah bukti bahwa seseorang mampu melewatinya.

Masuk ke Surah Al-Insyirah, UAH menjelaskan makna kelapangan hati. Ia mengibaratkan hati sempit seperti segelas air: sedikit garam saja terasa sangat asin. Sebaliknya, hati yang luas seperti samudra—garam sebanyak apa pun tidak akan mengubah rasanya.

“Kalau hati sempit, masalah kecil terasa berat. Kalau hati luas, masalah besar pun bisa dihadapi,” jelasnya.

UAH menegaskan makna ayat “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” bukan sekadar penghiburan, melainkan kepastian ilahiah. Bahkan, Allah mengulangnya dua kali untuk menegaskan pesan itu agar tertanam kuat di hati.

Dia menganjurkan agar setiap menghadapi masalah, seseorang menanamkan kalimat dalam hati: “Ini pasti bisa dilalui. Pasti ada solusi.”

UAH juga menjelaskan rumus praktis menghadapi persoalan hidup: petakan masalah satu per satu, selesaikan secara bertahap, lalu bertawakal sepenuhnya kepada Allah.

“Tugas kita berikhtiar semampunya. Hasilnya serahkan kepada Allah,” ujarnya.

Dia menegaskan, Allah menjawab doa manusia dengan tiga cara: mengabulkan langsung, menunda hingga hamba siap menerimanya, atau mengganti dengan sesuatu yang lebih dibutuhkan.

“Kadang kita minta A, Allah beri B, tapi ternyata B jauh lebih maslahat,” pungkas UAH. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu