Uang itu adanya di mana? Di bank?” Pertanyaan itu disampaikan Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Drh Zainul Muslimin, dalam Tabligh Akbar dan Wisuda Tahfidz MI Muhammadiyah 1 Pare (MIMSAPA). Acara ini digelar bersamaan dengan Milad Muhammadiyah ke-113 di Jl Gede GG 1 Sandingsari Pare, Kediri, Ahad (18/11/2025).
Hadir dalam kesempatan itu Wakil Ketua PDM Kabupaten Kediri Suhadi, Sekretaris PDM Affan Al Asgaf, pimpinan harian PCM Pare, serta pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Cabang Pare.
Makna Pertanyaan “Uang Itu Adanya di Mana?”
Dalam wawancara setelah resepsi Milad, Zainul Muslimin menjelaskan kembali pernyataannya.
“Begini, terkait pertanyaan saya tadi: mencari uang itu tempatnya di mana? Jawabnya ya di pasar. Saya melihat persoalan umat saat ini adalah finansial. Saya tidak tega menyebut kata ‘miskin’—mohon maaf—tapi kondisi riil umat memang seperti itu,” ujarnya sambil tertawa.
Menurutnya, umat tidak perlu takut masuk ke dunia bisnis, karena para sahabat Nabi yang ekonominya kuat adalah para pelaku pasar.
“Kalau kita ingin memahami kebermanfaatan finansial, maka kita harus menguasai pasar. Sayangnya, hari ini pasar banyak dikuasai orang lain. Padahal kalau kita mau turun ke medan juang ekonomi, insyaAllah bisa.”
Ia mencontohkan Nurhayati Subakat, kader Aisyiyah dan pemilik Wardah. Meski muncul belakangan, mereknya mampu menguasai pasar kosmetik nasional.
Nurhayati Subakat merintis Wardah sejak 1995 sebagai kosmetik halal lokal pertama di Indonesia, hingga berkembang menjadi perusahaan kosmetik terbesar di Tanah Air. Ia memulai usahanya dari rumah, dengan tekad menyediakan produk berkualitas dengan harga terjangkau.
Zainul juga mengingatkan contoh Kiai Ahmad Dahlan yang berdakwah keliling Indonesia sambil berdagang. “Para sahabat Rasulullah juga terbiasa berada di pasar-pasar. Maka jangan sampai kita jauh dari sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak. Termasuk urusan politik dan ekonomi, semua perlu mendapat perhatian,” tegasnya.
Tidak Ada Uang di Persyarikatan
Dalam organisasi Muhammadiyah, Zainul Muslimin mengatakan, “Siapa pun yang mencari uang di persyarikatan Muhammadiyah akan kecelek, karena di persyarikatan itu tidak ada uang.”
Ia kemudian bertanya kepada jamaah, “Siapa yang ingin miskin?” Tidak ada yang menjawab. “Semua ingin kaya, semua ingin punya banyak uang. Lalu, uang itu adanya di mana?”
Para wisudawan dan hadirin menjawab, “Di bank, di dompet, di dunia.”
Mendengar jawaban itu, Zainul melanjutkan tausiyahnya dengan menunjukkan keprihatinan terhadap kondisi keuangan sebagian warga dan pimpinan Muhammadiyah.
Standar Penghasilan dan Realitas Umat
“Ketika kita ingin punya banyak uang, kita harus tahu uang itu adanya di mana agar bisa mendapatkannya. Tahun 2024, rata-rata pendapatan penduduk Indonesia hampir 5.000 dolar per orang. Jika kurs dolar 16 ribu, maka satu keluarga berisi lima orang idealnya berpenghasilan sekitar 400 juta setahun. Apakah pendapatan kita sebesar itu? Sepertinya tidak.”
Menurutnya, urusan duniawi warga Muhammadiyah justru jauh di bawah standar. “Kita sering digembosi: kalau kaya nanti masuk surga belakangan, masuknya merangkak. Tapi faktanya kondisi finansial tidak sedang baik-baik saja.”
Banyak kewajiban tidak bisa ditunaikan karena masalah ekonomi: zakat mal belum mampu, haji belum terlaksana. “Karena itu, dibutuhkan perubahan. Perubahan adalah kepastian yang terjadi setiap hari.”
Zainul kembali menegaskan: “Ketika saya tanya uang itu adanya di mana, jawabannya adalah di pasar.”
Ia menutup dengan contoh sahabat Abdurrahman bin Auf. Ketika hijrah dari Makkah ke Madinah tanpa membawa apa-apa, ia hanya meminta satu hal kepada sahabat yang menyambutnya:
“Tunjukkan saja di mana letaknya pasar.” (*)






0 Tanggapan
Empty Comments