Menjadi umat yang lemah bukanlah kondisi yang dibenarkan dalam Islam. Bahkan, kelemahan—baik secara ekonomi, sosial, maupun spiritual—dapat membawa dampak serius bagi keberlangsungan amal dan dakwah.
Pesan inilah yang ditekankan Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, drh. Zainul Muslimin, dalam Kajian Sakinah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Krembangan, Ahad (4/1/2026).
Dalam kajian yang digelar di Musala Al Bayan, Jalan Sedayu 7/34 Surabaya itu, Zainul menegaskan bahwa digitalisasi menjadi kunci penting dalam memperkuat dakwah sekaligus membangun kemandirian ekonomi umat di era modern.
Menurutnya, teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan sarana strategis agar umat Islam tidak tertinggal dan tetap berdaya saing.
Mengangkat tema “Bahagia, Sejahtera, Tenang, dan Tentram”, Zainul mengawali tausiah dengan mengulas makna sejahtera secara mendasar. Ia menekankan bahwa sejahtera tidak identik dengan kemewahan semata.
“Sejahtera itu adalah kondisi ketika manusia mampu memenuhi kebutuhan dasar. Manusia terdiri atas jasmani dan rohani. Keduanya harus terpenuhi dengan baik dan seimbang,” ujarnya di hadapan jamaah.
Dia menjelaskan, kesejahteraan jasmani berkaitan dengan kecukupan sandang, pangan, dan papan, sementara kesejahteraan rohani menyangkut ketenangan batin, keimanan, dan nilai-nilai spiritual. Ketika salah satu diabaikan, maka kesejahteraan sejati sulit terwujud.
Namun demikian, Zainul mengingatkan bahwa sering kali kesejahteraan justru terhambat oleh cara berpikir manusia sendiri.
Ada anggapan bahwa menjadi kaya akan membuat hisab di akhirat semakin berat, sehingga sebagian orang memilih bertahan dalam kondisi pas-pasan tanpa upaya berkembang.
“Pola pikir seperti ini keliru. Manusia diciptakan sebagai makhluk terbaik dan memiliki potensi untuk berkembang. Islam tidak mengajarkan kemiskinan, tetapi mengajarkan keberkahan dan tanggung jawab,” tegasnya.
Dia menambahkan, merasa cukup tanpa ikhtiar untuk maju juga dapat menjadikan umat stagnan dan kehilangan daya saing, terutama di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Dalam kajian bulanan tersebut, jamaah juga diajak untuk memperkuat ekonomi internal umat, salah satunya dengan membelanjakan harta pada usaha milik saudara sendiri. Menurut Zainul, kesejahteraan harus diraih dengan cara yang baik, halal, dan benar.
Dia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 36 yang menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam setiap langkah hidup, karena pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban.
Salah satu penekanan utama dalam kajian itu adalah peringatan tentang bahaya menjadi umat yang lemah. Zainul menyebut, kelemahan dapat menghalangi seseorang dari banyak amal kebaikan dan bahkan mendatangkan ancaman jika tidak disertai ikhtiar untuk bangkit.
Dia merujuk pada Surah An-Nisa ayat 97 yang secara tersirat mengingatkan bahwa Allah tidak membenarkan sikap pasrah dalam keterpurukan tanpa usaha untuk berubah.
“Umat yang lemah itu berbahaya. Banyak kewajiban tidak bisa dilakukan. Tetapi jika ada ikhtiar untuk menjadi kuat, Allah Maha Pengampun,” jelasnya.
Zainul mengajak jamaah untuk meneladani kehidupan Rasulullah SAW, khususnya dalam hal berdagang dan memperkuat silaturahmi. Kedua hal tersebut, menurutnya, memiliki peran besar dalam membangun kesejahteraan dan keberkahan hidup.
Ia mengutip hadis Rasulullah saw tentang keutamaan silaturahmi yang dapat meluaskan rezeki dan memanjangkan umur, serta hadis tentang pentingnya memilih teman yang baik karena agama seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya.
Zainul juga menyampaikan lima nasihat praktis kepada jamaah. Pertama, bagi siapa pun yang ingin maju, jangan sibuk mencari alasan.
Kedua, manfaatkan teknologi digital untuk dakwah dan aktivitas ekonomi. Ketiga, hadirkan program-program yang membawa kemaslahatan nyata bagi lingkungan sekitar.
Keempat, ia mengingatkan agar langkah hidup senantiasa linier dengan doa yang dipanjatkan, dan kelima, setiap muslim hendaknya menjaga ucapan sebagai cerminan akhlak dan keimanannya.
Menutup tausiah, Zainul mengutip sabda Rasulullah saw bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya—sebuah pesan yang menegaskan bahwa kesejahteraan sejati harus berdampak luas bagi umat dan masyarakat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments