Search
Menu
Mode Gelap

UMKM Indonesia di Tengah Persaingan Bebas: Bertahan atau Tertinggal?

UMKM Indonesia di Tengah Persaingan Bebas: Bertahan atau Tertinggal?
pwmu.co -

Opini Mahasiswa

Oleh Sabana Az’ Zahwa Nur ‘Arsy – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik

PWMU.CO – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Di pasar modern maupun tradisional, di pinggir jalan hingga media sosial, geliat para pelaku usaha kecil terus menunjukkan semangat yang luar biasa. Namun dibalik semangat itu, tersimpan tantangan besar: bagaimana UMKM Indonesia bisa bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat, baik dari sesama pelaku lokal maupun dari pemain global yang hadir dengan kekuatan modal dan teknologi.

Di era digital saat ini, berjualan tak lagi sekadar membuka toko atau mendorong gerobak. Dunia digital telah mengubah segalanya—konsumen cukup melakukan satu klik, dan barang bisa datang dari mana saja, bahkan dari luar negeri. Sementara itu, banyak UMKM lokal masih menghadapi kendala mendasar: belum memiliki katalog digital, belum aktif di media sosial, bahkan belum memahami cara memasarkan produk di platform online. Tantangan inilah yang harus segera diatasi agar UMKM tidak tertinggal dalam arus transformasi digital.

Permasalahan lain yang sering dihadapi UMKM adalah terkait kualitas dan konsistensi. Banyak pelaku usaha memiliki produk yang sebenarnya unggul, namun tidak semuanya mampu menjaga mutu secara stabil. Kemasan masih sering ala kadarnya, pelayanan belum optimal, dan variasi produk terbatas. Padahal, pembeli saat ini semakin pintar dan memiliki banyak pilihan. Sedikit saja merasa kecewa, mereka bisa langsung beralih ke produk lain dalam hitungan detik.

Namun, berbagai tantangan ini bukan berarti membuat UMKM kita lemah. Justru kekuatan mereka terletak pada keunikan, kreativitas, dan semangat pantang menyerah. Tak sedikit pelaku usaha kecil yang mampu menghadirkan ide-ide brilian—mulai dari makanan tradisional yang dikemas secara modern, hingga kerajinan tangan bernilai seni tinggi. Hanya saja, mereka perlu lebih diberdayakan agar mampu bersaing secara sehat, bukan sekadar bertahan dalam tekanan pasar.

Salah satu solusi untuk mempertahankan eksistensi UMKM bukanlah dengan proteksi semata, melainkan melalui pemberdayaan yang berkelanjutan. Pelatihan digital harus semakin masif, akses terhadap permodalan perlu dibuat lebih mudah dan bersahabat. Pemerintah, lembaga, dan komunitas wajib turun tangan secara konkret. Yang tak kalah penting, para pelaku UMKM juga harus memiliki kemauan untuk terus belajar. Dunia terus berubah, dan siapa yang tidak mau beradaptasi pasti akan tertinggal.

Sebagai masyarakat, kita pun memiliki peran. Mulailah dari hal-hal sederhana: membeli produk lokal, mempromosikan usaha teman, atau memberikan masukan yang membangun. UMKM hanya akan tumbuh jika kita mendukungnya—bukan sekadar dengan kata-kata, tetapi melalui aksi nyata.

Persaingan adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Karena itu, yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin. UMKM Indonesia tidak boleh selamanya hanya dikenal sebagai sektor yang “bertahan”. Mereka harus naik kelas. Di tengah dunia yang semakin terbuka dan kompetitif, bertahan saja tidak cukup—kita harus berani menjadi pemain utama, bukan sekadar penonton.

Namun, proses naik kelas bagi UMKM tentu bukan hal yang instan. Banyak pelaku usaha kecil masih menghadapi keterbatasan dalam hal pengetahuan, jaringan, dan sumber daya. Di sinilah pentingnya membangun ekosistem yang mendukung, dimana pelatihan, pendampingan, dan kolaborasi menjadi bagian dari budaya kewirausahaan nasional. Pemerintah daerah dapat mengambil peran strategis dengan menghadirkan rumah UMKM sebagai pusat pelatihan, inkubasi bisnis, dan akses informasi pasar.

Kita juga perlu menyoroti pentingnya kolaborasi antara UMKM dan pelaku usaha besar. Alih-alih terjebak dalam persaingan langsung, kemitraan strategis justru bisa menjadi solusi saling menguntungkan. Perusahaan besar, misalnya, dapat melibatkan UMKM dalam rantai pasok mereka, memberikan pelatihan berkualitas, serta membantu membuka akses ke pasar yang lebih luas. Model kerja sama semacam ini tidak hanya memperkuat daya saing UMKM, tetapi juga mendorong ketahanan dan pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Di era media sosial, personal branding menjadi kekuatan tersendiri bagi UMKM. Konsumen kini tak hanya mencari produk berkualitas, tetapi juga tertarik pada cerita, nilai, dan identitas lokal yang melekat pada produk tersebut. Ini menjadi peluang emas bagi UMKM untuk tampil menonjol dan membangun koneksi emosional dengan pelanggan. Narasi tentang proses produksi, nilai budaya, hingga aspek keberlanjutan dapat menjadi nilai tambah yang membedakan produk UMKM dari barang-barang pabrikan yang lebih generik.

Digitalisasi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga soal pola pikir. UMKM perlu bertransformasi dari sekadar bertahan menjadi tumbuh dan berkembang. Mengelola bisnis berbasis data, memanfaatkan media sosial untuk promosi, serta berani melakukan inovasi produk adalah langkah konkret menuju kemandirian dan kekuatan UMKM.

Jangan takut gagal, karena setiap kegagalan adalah bagian dari proses belajar yang penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, UMKM adalah pionir ekonomi masyarakat Indonesia. Jika kita ingin membangun bangsa yang tangguh, maka UMKM harus ditempatkan di posisi utama—bukan sekadar dalam wacana, tetapi juga dalam kebijakan, aksi nyata, dan dukungan kolektif.

Memberdayakan UMKM adalah tanggung jawab bersama. Di tengah ketatnya persaingan global, mari kita dorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi bertumbuh, berinovasi, dan menembus batas tanpa ragu.***

Editor Notonegoro

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments