Spirit Islam berkemajuan menjadi refleksi utama dalam kegiatan Safari Ramadan pimpinan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang digelar di Hall Dome UMM, Selasa (10/3/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. M. Saad Ibrahim, M.A., sebagai pembicara utama yang mengajak civitas akademika memahami Islam berkemajuan sebagai panduan menghadapi tantangan peradaban modern.
Dalam pemaparannya, Saad menegaskan bahwa kemajuan dalam Islam tidak boleh dipahami hanya sebagai perkembangan teknologi dan sains. Ia menilai dunia modern menunjukkan fenomena di mana kemajuan ilmu pengetahuan tidak selalu diikuti oleh kemajuan moral dan kemanusiaan, sehingga berpotensi melahirkan berbagai persoalan sosial.
“Banyak negara maju secara teknologi, tetapi tidak selalu maju secara kemanusiaan. Karena itu Islam menekankan bahwa kemajuan harus berjalan bersama nilai spiritual, etika, dan tanggung jawab sosial. Tanpa keseimbangan itu, kemajuan justru bisa melahirkan masalah baru bagi kehidupan manusia,” ujarnya.
Ilmu Pengetahuan Harus Dibimbing Nilai
Saad, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa Al-Qur’an sejak awal telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai bagian penting dalam kehidupan manusia. Wahyu pertama yang memerintahkan membaca menjadi dasar bagi umat Islam untuk membangun tradisi literasi, riset, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Namun menurutnya, literasi dalam Islam tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan semata, tetapi juga membentuk kesadaran moral dalam menggunakan ilmu tersebut.
Ia menilai bahwa tantangan umat Islam saat ini bukan hanya persoalan ketertinggalan ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana memastikan ilmu tersebut digunakan untuk kemaslahatan manusia. Di era digital, kemajuan teknologi sering menghadirkan paradoks sosial, seperti meningkatnya individualisme, penyebaran informasi tidak sehat, hingga melemahnya empati sosial.
“Ilmu yang tidak dibimbing oleh nilai hanya akan melahirkan manusia yang pintar, tetapi tidak bijaksana. Inilah yang harus dihindari oleh dunia pendidikan. Kampus harus menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan tanggung jawab moral,” tegasnya.
Peran Strategis Kampus
Karena itu, Saad menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan intelektual dan pembentukan karakter. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai agar ilmu tersebut digunakan untuk kepentingan kemanusiaan.
Ia juga menekankan bahwa Ramadan menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kesadaran sosial. Menurutnya, puasa merupakan latihan spiritual yang menumbuhkan empati terhadap masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.
“Puasa itu bukan sekadar ibadah ritual, tetapi latihan spiritual yang membentuk empati terhadap kondisi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Dari empati itulah lahir kepedulian sosial yang menjadi dasar gerakan kemanusiaan dalam Islam,” terangnya.
UMM Perkuat Spiritualitas dan Kepedulian Sosial
Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Safari Ramadan menjadi bagian dari upaya kampus untuk memperkuat nilai spiritualitas di tengah dinamika aktivitas akademik.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian sosial.
“UMM berkomitmen menjadikan nilai spiritualitas, intelektualitas, dan kepedulian sosial sebagai fondasi dalam pengembangan pendidikan di kampus ini,” pungkasnya.






0 Tanggapan
Empty Comments