Ibnu Katsir rahimahullah pernah berkata:
“Termasuk dari ghanimah terbaik adalah memperbaiki sisa-sisa umur, niscaya Allah akan mengampuni dari apa yang telah berlalu (dari umur itu).”
Kalimat ini seakan menjadi pengingat yang begitu dalam. Betapa banyak manusia yang menyia-nyiakan waktunya, padahal umur yang tersisa adalah modal berharga untuk memperbaiki diri sebelum pintu taubat tertutup.
Saudaraku…
Setiap orang yang lalai (di masa hidupnya) pasti akan menyesal di saat nyawanya hendak dicabut. Ia akan merintih, meminta satu kesempatan lagi untuk memperbaiki salatnya, untuk membaca satu ayat Al-Qur’an yang dulu sering ditunda, atau untuk sekadar meneteskan air mata dalam doa tobatnya.
Allah telah mengisahkan dalam firman-Nya:
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)
Ayat ini menjadi peringatan keras. Di alam barzakh, manusia hanya bisa menyesal. Tidak ada kesempatan kedua, tidak ada ruang untuk memperbaiki shalat yang dulu diabaikan.
Bayangkan seseorang yang diberi kesempatan sehat di usia senja. Ia sering melihat sebayanya yang sudah dipanggil Allah. Namun, alih-alih memperbaiki ibadah, ia masih sibuk mengejar urusan duniawi.
Tiba-tiba, penyakit datang. Tubuh melemah. Lidah mulai berat untuk mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah. Saat itu, betapa mahalnya satu rakaat shalat yang dulu pernah ditinggalkan dengan sengaja.
Sebaliknya, ada seorang hamba yang sejak muda terbiasa menjaga salat lima waktu. Ia tidak hanya menjadikan shalat sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai kebutuhan ruhani.
Ketika ajal menjemput, lisannya masih basah dengan doa, wajahnya tersenyum, dan ruhnya keluar dengan tenang. Itulah janji Allah bagi orang-orang yang menjaga shalat.
Salat sebagai Penjaga
Rasulullah saw bersabda:
“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan, salat adalah kunci keselamatan. Jika salat kita terjaga, maka ibadah lain akan lebih mudah Allah terima. Namun jika shalat diabaikan, amal kebaikan lain pun bisa menjadi sia-sia.
Saudaraku, renungkanlah. Kenapa kita masih dihidupkan hingga detik ini, sementara banyak orang yang lebih muda, lebih sehat, lebih kuat justru sudah kembali ke hadirat-Nya?
Jawabannya sederhana: Allah masih ingin memberi kita kesempatan untuk bertobat, memperbaiki salat, dan memanfaatkan sisa umur dengan sebaik-baiknya.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya…” (QS. At-Tahrim: 8)
Saudaraku…
Jagalah salat kita sebelum shalat itu menjadi penyesalan abadi. Karena kelak, salatlah yang akan menjaga kita di alam kubur, menolong kita di padang mahsyar, dan menjadi cahaya di hari kiamat.
Maka, selagi sehat, selagi masih kuat berdiri, mari perbaiki salat kita. Sungguh, salat adalah hadiah terbesar yang Allah titipkan untuk menjaga hati kita tetap hidup.
“Salat itu tiang agama. Barangsiapa mendirikannya, maka ia telah menegakkan agama. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama.” (HR. Baihaqi)
Semoga Allah menolong kita untuk menjaga shalat hingga akhir hayat, dan menjadikan sisa umur kita penuh dengan kebaikan yang diridai-Nya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments