Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

UMY Kembangkan SCANOMA, Inovasi AI untuk Deteksi Dini Kanker Kulit

Iklan Landscape Smamda
UMY Kembangkan SCANOMA, Inovasi AI untuk Deteksi Dini Kanker Kulit
Foto: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
pwmu.co -

Dari ruang praktikum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sekelompok mahasiswa lintas disiplin melahirkan inovasi yang berpotensi menyelamatkan banyak nyawa.

Mereka menamai karyanya SCANOMA, alat deteksi dini kanker kulit berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menganalisis lesi kulit secara real-time dengan akurasi mencapai 75,22 persen.

Tim yang diketuai oleh Salsa Faatin Al-Dhinar (Farmasi 2022) ini beranggotakan Yuniarti Mega Ayu (Farmasi 2022), Nur Rahmadani (Farmasi 2023), Muhammad Muamar Khadapi (Teknik Elektro 2022), dan Yosi Nugraha Adi (Teknik Elektro 2022). Mereka merancang sistem analisis citra lesi kulit secara real-time menggunakan metode Convolutional Neural Network (CNN) dengan tingkat akurasi mencapai 75,22 persen.

“Ketertarikan kami bermula dari banyaknya kasus kanker kulit yang baru terdeteksi pada tahap lanjut. Kami ingin membuktikan bahwa teknologi bisa membantu masyarakat mengambil tindakan lebih cepat,” ungkap Faatin seperti dilansir di laman resmi UMY, Jumat (7/11/2025).

Pengembangan SCANOMA berlangsung sejak 7 Juli hingga 3 November 2025 dan tidak berjalan mulus.

Tim menghadapi berbagai kendala teknis mulai dari keterlambatan kedatangan kamera dermatoskop digital, ketidaksesuaian kabel, error sistem Python, hingga kerusakan layar LCD menjelang tahap presentasi.

Faatin mengenang masa-masa sulit itu dengan senyum. “Kami sempat menunggu berbulan-bulan agar kamera dermatoskop tiba.

Begitu datang, kabelnya tidak cocok, sistemnya error, bahkan menjelang presentasi, layar LCD alat pecah. Rasanya campur aduk antara stres dan lucu,” ujarnya.

Dengan bimbingan Dr. apt. Muhammad Thesa Ghozali, M.Sc., seluruh tantangan akhirnya dapat diatasi. Tim kemudian berhasil merancang SCANOMA menjadi alat portabel berbasis Raspberry Pi yang hemat daya, mudah dioperasikan, dan dapat digunakan di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas.

Pengembangan SCANOMA menjadi bukti kolaborasi efektif antara sains dan teknologi. Mahasiswa Farmasi fokus pada karakterisasi lesi kulit dan aspek klinis, sementara mahasiswa Teknik Elektro mengembangkan integrasi perangkat keras serta sistem pengolahan citra digital.

“Momen ketika alat itu pertama kali benar-benar berfungsi adalah yang paling berkesan. Semua kerja keras seolah terbayar lunas,” tutur Faatin dengan bangga.

Ke depan, tim berharap SCANOMA dapat membantu tenaga kesehatan dan masyarakat dalam melakukan deteksi dini kanker kulit sekaligus meningkatkan kesadaran pentingnya pemeriksaan kulit rutin.

“Kalau alat ini bisa membantu satu orang saja mengenali gejala kanker lebih cepat, perjuangan kami sudah tidak sia-sia,” tutupnya.

Dari ruang praktikum kampus, SCANOMA menjadi bukti bahwa inovasi besar bisa lahir dari semangat kolaborasi, empati, dan keberanian untuk mencoba. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu