Sebanyak 30 guru dan karyawan SD Almadany mengikuti kegiatan pembinaan yang digelar pada Sabtu (31/1/2026) di ruang kelas Al Biruni. Kegiatan ini menghadirkan pemateri Hilmi Aziz Hamim, M.Pd.I., dengan tema Urgensi Akhlaqul Karimah dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan dan Pendidikan.
Dalam pemaparannya, Hilmi menjelaskan bahwa akhlak berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Ia mengutip pendapat Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang darinya lahir perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan banyak pertimbangan.
Menurutnya, ajaran akhlak dalam Islam selaras dengan fitrah manusia untuk meraih kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan semu, yakni dengan mengikuti nilai-nilai kebaikan yang diajarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Ia juga mengutip QS Al-Ahzab ayat 21 tentang keteladanan Rasulullah SAW sebagai contoh akhlak terbaik bagi umat manusia.
Hilmi kemudian memaparkan sejumlah keistimewaan akhlak dalam Islam, di antaranya akhlak mulia merupakan misi utama risalah Islam, menjadi salah satu ajaran pokok agama, serta menjadi penentu beratnya timbangan amal seseorang. Ia juga menegaskan bahwa kualitas akhlak seseorang mencerminkan kualitas imannya. Nabi Muhammad SAW pun, lanjutnya, senantiasa berdoa agar diberikan akhlak yang baik.
Lebih lanjut, Hilmi menjelaskan pentingnya akhlaqul karimah bagi guru dan karyawan SD Almadany. Hal ini selaras dengan visi sekolah yang berorientasi rahmatan lil ‘alamin untuk mewujudkan peserta didik yang mandiri dan berakhlak mulia.
Ia juga mengaitkannya dengan Pedoman Hidup Warga Muhammadiyah di bidang akhlak. Guru dan karyawan sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah dituntut meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW, seperti sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah, sehingga dapat menjadi uswah hasanah bagi peserta didik.
Selain itu, setiap amal dan aktivitas harus dilandasi niat yang ikhlas dalam bentuk amal saleh dan ihsan. Guru dan karyawan juga dituntut menampilkan akhlak mulia serta menjauhi akhlak tercela dalam menjalankan tugas maupun kehidupan sehari-hari, terutama yang dapat merugikan kepentingan publik.
Di akhir sesi, Hilmi mengajak seluruh peserta berdiskusi untuk merumuskan nilai-nilai akhlaqul karimah yang dapat menjadi budaya sekolah. Beberapa usulan yang muncul antara lain bekerja dan mengajar dengan penuh dedikasi, menjadi teladan dalam ucapan, tindakan, dan kerapian berpakaian, serta bersikap ramah, santun, dan saling menghormati.
Peserta juga sepakat membudayakan hidup bersih dan sehat melalui gerakan “SEMUT” (Semangat Memungut Sampah), membiasakan budaya 3S (Salam, Sapa, Senyum), serta memperbanyak ucapan kalimat thayyibah seperti Alhamdulillah, Subhanallah, dan Masya Allah dalam keseharian.
Kegiatan pengajian dan pembinaan guru karyawan SD Almadany ditutup dengan sesi tanya jawab dan diskusi interaktif. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments