Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ustadz, Mana Sorbannya?

Iklan Landscape Smamda
Ustadz, Mana Sorbannya?
pwmu.co -

Usai berbincang ringan sambil menanyakan kabar jamaah beserta keluarganya, sang ustadz pun berpamitan untuk meninggalkan masjid. Kami turut menganggukkan kepala sebagai tanda pamit terlebih dulu kepada sang jamaah.

Di tengah perjalanan kembali ke kantor, sang ustadz muda tiba-tiba melontarkan pertanyaan kepada kami, “Bagaimana menurut kalian tentang keharusan seorang muslim berpenampilan saat beribadah menghadap Tuhannya? dan bagaimana pandangan kalian mengenai sinyalemen Pak Sulaiman tadi tentang kopiah dan sorban?”

Rupanya, pikiran sang ustadz langsung berkecamuk, memikirkan adab berpakaian dan bagaimana seharusnya seorang muslim berpenampilan saat beribadah kepada Allah.

Seperti biasa, setiap kali sang ustadz muda melempar pertanyaan, kami justru balik bertanya.

“Kalau menurut ustadz bagaimana?” tanya kami hampir bersamaan.

“Ya Allah! Kalian ini, kalau ditanya malah balik bertanya,” ujar sang ustadz sambil tersenyum.

Sambil melangkah menyusuri jalan yang biasa kami lalui saat pergi atau pulang dari masjid, sang ustadz mulai menjawab pertanyaan yang sebelumnya ia lontarkan sendiri.

Ia menjelaskan bahwa dari apa yang pernah dibacanya, sinyalemen Pak Sulaiman tentang adab berpakaian ketika beribadah memang sudah banyak dibahas oleh para fuqaha. Salah satu pendapat yang masyhur di kalangan mereka adalah bahwa menghukumi sesuatu harus dari dhohirnya.

Nahnu nahkum bi al-zhawahir…” (Kami menghukumi sesuatu dengan mempertimbangkan apa yang terlihat).

Begitu ia mengutip kaidah yang sering digunakan para ulama dalam menilai suatu perkara.

Apa yang disitir oleh sang ustadz muda tentang menghukumi sesuatu dari dhohirnya ini memang penting. Misalnya, jika ada seseorang yang alim, berilmu agama tinggi, namun pada saat yang sama ia memakai tindik di hidung, berkalung emas, dan berambut ala David Beckham, maka baik orang yang mengenalnya maupun yang tidak, pasti akan berkesimpulan secara dhohir bahwa “orang alim ini tampilannya seperti preman”.

Sementara itu, orang yang mengenalnya mungkin akan berkesimpulan, “Orang alim ini tidak mengamalkan ilmu agamanya”. Sedangkan orang yang tidak mengenalnya bisa saja langsung menghakimi dengan kesimpulan, “Orang alim ini adalah preman”.

Sang ustadz melanjutkan penjelasannya, “Perkara dhohir ini menjadi catatan penting bagi siapa pun yang memahami agama, baik ulama, ustadz, syeikh, maupun maulana agar secara muamalah menjaga dirinya dari fitnah yang tidak perlu. Secara dhohir, ia harus memegang shibghah, yaitu karakter yang tercermin melalui simbol-simbol yang dekat dengan religiusitas.

Seseorang yang memahami agama disarankan untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat dan mencontohkannya kepada jamaahnya. Ia juga dianjurkan memakai wewangian yang menghadirkan kesan bersih dan indah, serta bertutur kata lembut dengan senyuman khas yang menentramkan, sehingga jamaah merasa nyaman berada di dekatnya.

Sahabatku, penjelasan ustadz muda ini sangat relevan dengan amaliah Islam kita sehari-hari. Dalam manhaj pengamalan Islam, kita mengenal tiga tingkatan penting yaitu syariat, thariqat, dan haqiqat.

Syariat adalah jalan Allah yang bersifat dhohir, berupa aturan-aturan hukum yang didasarkan pada dalil-dalil yang terang. Pengamalannya dilakukan melalui pemahaman istidlal yaitu proses mengambil hukum dengan merujuk pada dalil-dalil.

Sementara thariqat menegaskan pada jalan cinta, ketaatan, kefakiran (merasa butuh), keistiqamahan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menjalankan syariat, sedangkan Haqiqat merupakan jalan mengamalkan syariat dan thariqat hanya untuk Allah, bukan untuk syariat, bukan untuk thariqat, bukan untuk apa yang kita pikirkan, meskipun kelihatannya bersifat syar’i keagamaan.

Melampaui itu, haqiqat menegaskan bahwa jalan yang ditempuh bukan sekadar mengikuti syariat sebagai aturan Allah, tetapi merupakan perjalanan menuju Allah secara langsung. Tujuannya bukan hanya menapaki jalan Allah, melainkan mencapai Allah dan meraih ridha-Nya.

Oleh karena itu, Sahabatku, lanjut ustadz muda, tidak benar jika ahli thariqat dan haqiqat dianggap boleh meninggalkan syariat atau pasti tidak peduli terhadapnya. Jika ada orang yang mengaku berthariqat, tetapi meninggalkan syariat, sesungguhnya dia sedang keblinger, mungkin malas, atau bahkan enggan meniru Rasulullah yang seharusnya menjadi teladan dalam mengamalkan syariat, thariqat, dan haqiqat sekaligus.

Apakah benar Rasulullah SAW mengamalkan syariat, thariqat, dan haqiqat? Jawabannya adalah ya, dalam konteks yang luas.

Apa yang diajarkan Rasulullah SAW bukan hanya tentang mengetahui dalil-dalil yang menjadi dasar amalan agama ini, tetapi juga bagaimana hati kita harus dipenuhi dengan kecintaan, ketaatan, kesabaran, keistiqamahan, kefaqiran, dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Tujuan akhir dari semua itu adalah berjumpa dengan Allah, meraih ridha, dan rahmat-Nya.

Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menjelaskan dengan apik ‘ibrah tentang adab dalam beribadah sekaligus manhajnya. Hujjatul Islam ini menguraikannya melalui konsep amalan yang disebut zhahirut taqwa dan bathinut taqwa. Zhairut taqwa adalah bentuk ketakwaan yang tampak secara lahiriah pada seseorang yang beriman, berupa simbol-simbol ketakwaan seperti pakaian, tutur kata, dan perilaku. Sedangkan bathinut taqwa adalah ketakwaan batin yang meliputi niat dan tujuan sang ‘abdun (hamba).

Yang pertama merupakan amalan tubuh, akal, dan nafsu, sedangkan yang kedua adalah amalan hati dan hati nurani (qalb dan lub). Mendengar penjelasan sang ustadz muda yang semakin mendalam dan menarik ini, kami hanya mengangguk-angguk tanda memahami, sembari bertekad untuk mengamalkannya.

Imam Al-Ghazali juga menegaskan bahwa zhahirut taqwa bisa jadi menunjukkan sekaligus mencerminkan bathinut taqwa. Namun, bathinut taqwa sudah pasti akan melahirkan zhahirut taqwa. Meskipun demikian, pengarang Ihya ‘Ulumiddin ini menekankan bahwa seorang muslim tidak seharusnya membedakan atau lebih mementingkan salah satunya. Keduanya harus berjalan selaras, karena amalan lahiriah tanpa ketulusan batin akan hampa, sedangkan ketulusan batin tanpa pengamalan lahiriah tidak sempurna.

Zhahirut taqwa harus disertai bathinut taqwa, begitu pula bathinut taqwa harus diikuti zhahirut taqwa. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Hal ini sejalan dengan nasihat Syeikh Abu Bakar Sirajuddin kepada murid-muridnya, “Hendaklah kalian berpakaian dengan cara yang dapat mendekatkan diri kalian kepada komunitas yang dekat dengan Tuhan.”

Zhahirut taqwa memang sangat penting. Apa yang tampak dari shalat, infaq, shadaqah, dan amalan-amalan lainnya adalah bentuk nyata dari zhahirut taqwa. Jika seseorang berpakaian baju koko, bersarung, bersurban, dan berkopyah, tidak mungkin ia akan menuju ke tempat-tempat maksiat.

Itulah simbol dhohir yang menunjukkan betapa pentingnya ketakwaan secara lahiriah. dhohir dan batin memiliki kedudukan yang sama pentingnya.

Di hadapan Allah, yang paling utama adalah ketika niat dan tujuan ibadah kita semata-mata karena Allah dan mengharap ridha-Nya. Pada kelanjutannya, hati kita harus senantiasa dijaga dari penyakit-penyakit hati seperti riya, ujub, takabur, dan iri dengki. Jalan inilah yang dengan rahmat Allah akan menyelamatkan kita dunia akhirat.

“Wah, kita sudah sampai nih, Ustadz. Terima kasih atas wejangan yang berharga dan inspiratif ya, Ustadz. Mohon doakan kami agar selalu berada dalam lindungan dan rahmat Allah, sehingga mampu mengamalkan dengan ikhlas dan istiqamah apa yang tadi Ustadz sampaikan.”

Ustadz muda itu pun menjawab, “Sama-sama, Pak. Doakan saya juga dengan doa yang serupa. Oh iya, nanti malam shalat tarawih di mana?”

Kami menjawab serempak, “InsyaAllah di Masjid al-Ikhlash, Ustadz.”

Ustadz pun merespon dengan ramah, “Oh baik. Kalau begitu, sampai ketemu nanti ya, Bapak-Bapak. Assalaamualaikum.”

“Waalaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh,” jawab kami serentak, menutup percakapan sore itu dengan hati yang hangat dan penuh semangat. (*)

Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu