Dalam pidatonya pada Rapat Umum Hari Nasional 2025, Selasa (19/8/2025), Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menegaskan bahwa pemerintahnya akan mengambil langkah tegas terhadap peredaran rokok elektrik (vape).
Pria berusia 52 tahun itu menyoroti bahaya serius yang mengintai generasi muda Singapura, setelah ditemukan bahwa beberapa produk vape mengandung zat berbahaya seperti etomidate.
Zat ini sejatinya adalah obat anestesi yang dapat membuat penggunanya cepat tertidur. Dampaknya, anak muda menjadi kurang produktif dan cenderung malas bekerja.
Karena itu, Wong menegaskan bahwa hukuman bagi pengguna vape di Singapura akan disamakan dengan hukuman bagi pengguna narkoba.
Fenomena penggunaan vape sebenarnya bukan hanya masalah di Singapura. Sejak pertama kali dikomersialkan oleh Hon Lik, seorang apoteker asal Tiongkok, pada tahun 2003, budaya vaping berkembang sangat pesat di seluruh dunia.
Survei Statista tahun 2023 bahkan menunjukkan bahwa Indonesia menempati posisi tertinggi pengguna rokok elektrik, dengan persentase mencapai 25 %. Lebih memprihatinkan lagi, sekitar 1,63 juta siswa SMP di Indonesia tercatat pernah mencoba vape.
Padahal, rokok elektrik jelas berbahaya. Menurut Rohmani dkk. (2018), rokok elektronik merupakan inhaler bertenaga baterai yang menghasilkan nikotin. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut teknologi ini sebagai Electronic Nicotine Delivery System (ENDS).
Pada kadar penggunaan tertentu, vape dapat melepaskan zat karsinogenik dan racun yang menyebabkan peradangan saluran pernapasan, mengganggu kesehatan paru-paru, jantung, pembuluh darah, otak, hati, serta organ vital lainnya.
WHO (2019) mencatat, penggunaan vape meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 56%, stroke 30%, dan jantung koroner 10%.
Data ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan, terutama di tingkat SMP dan SMA. Sebab, pelajar di level inilah yang paling banyak menggunakan vape.
Sebagai guru olahraga di SMP Muhammadiyah 1 Gresik, penulis merasakan langsung pentingnya peran pendidik dalam membentengi siswa dari bahaya tersebut.
Tantangannya adalah bagaimana menyampaikan materi tentang gaya hidup sehat bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui praktik nyata di lapangan.
Apalagi, melalui Permendikbud Nomor 13 Tahun 2025, kurikulum kini menekankan deep learning dan memperluas capaian pembelajaran, termasuk dalam mata pelajaran PJOK.
Salah satu elemen pentingnya adalah membekali siswa dengan keterampilan menganalisis risiko kesehatan akibat gaya hidup, merancang tindakan pencegahan, dan memilih pola hidup sehat.
Dengan landasan ini, guru PJOK memiliki peran strategis dalam membangun karakter siswa. Pembelajaran olahraga tidak lagi sekadar praktik fisik, tetapi juga sarana menanamkan kesadaran pentingnya hidup sehat. Misalnya, ketika membahas bahaya vape, guru bisa menyusun langkah-langkah pembelajaran seperti:
1. Menjelaskan pengertian dan komponen vape.
2. Mengidentifikasi bahaya vape bagi kesehatan fisik, psikologis, dan sosial.
3. Menganalisis dampak jangka pendek dan panjang penggunaan vape.
4. Menanamkan sikap kritis, peduli, dan bertanggung jawab untuk menolak vape.
5. Mengajak siswa membuat kampanye kreatif anti-vape sebagai aksi nyata.
Metode pembelajaran juga perlu disesuaikan dengan gaya anak muda. Misalnya, menayangkan video singkat atau infografis tentang tren vape di YouTube, Instagram, atau TikTok. Setelah itu, siswa diajak berdiskusi dalam kelompok kecil, lalu mempresentasikan hasilnya.
Guru kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan pentingnya olahraga rutin, mengikuti ekstrakurikuler, atau berlatih minimal tiga kali seminggu sesuai rekomendasi WHO. Di akhir sesi, siswa diminta menulis refleksi pribadi tentang alasan mereka harus menjauhi vape.
Jika dilakukan secara konsisten, pola pembelajaran seperti ini akan membentuk karakter positif siswa. Saat berada dalam pergaulan, ketika ditawari vape oleh teman sebaya, mereka akan mampu menolak dengan kesadaran penuh karena sudah memahami bahayanya.
Von Wonger dkk. (2009) menyatakan bahwa pengetahuan menciptakan keyakinan individu setelah menerima informasi kesehatan. Keyakinan ini kemudian membentuk niat untuk berperilaku sehat.
Pengetahuan yang baik juga berkaitan erat dengan motivasi dan kemampuan seseorang dalam membuat keputusan kesehatan sehari-hari.
Hal ini diperkuat oleh penelitian Nagy-Penzes (2020) yang menemukan bahwa semakin baik pengetahuan remaja tentang kesehatan, semakin sehat pula perilaku yang ditunjukkan.
Karena itu, membekali siswa dengan pengetahuan yang benar tentang bahaya vape adalah langkah fundamental. Dengan bekal itu, mereka tidak hanya mampu menjaga diri, tetapi juga menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekitarnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments