Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Wakil Mudir Beri Motivasi dalam Kajian Rutin Kesantrian Putra Al Mizan

Iklan Landscape Smamda
Wakil Mudir Beri Motivasi dalam Kajian Rutin Kesantrian Putra Al Mizan
Anggun Imanto (paling kanan) saat memberikan kajian di rapat kesantrian putra. (Alfain Jalaluddin Ramadlan/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kesantrian Putra Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan menggelar kegiatan kajian rutin sekaligus evaluasi kinerja, Kamis (4/12/2025) malam di Ruang Rapat MTs Muhammadiyah 15 Lamongan.

Kajian dipimpin oleh Wakil Mudir Bidang Kepondokan, Ustadz Anggun Imanto M.Pd, dan dihadiri oleh Kepala Kesantrian Putra, Ustadz Husnul Aqib S.Pd, Wakil Kepala Kesantrian Putra, Ustadz Lukman Hanafi SH, serta seluruh dewan ustadz Al Mizan.

Dalam kajiannya, Ustadz Anggun Imanto menyampaikan bahwa setiap perkumpulan yang diniatkan untuk kebaikan akan tercatat sebagai amal saleh. Ia mengutip pernyataan H. Dodok Sartono, S.E., M.M, Sekretaris PWM Jawa Tengah, bahwa:

“Reputasi organisasi sangat bergantung pada kualitas personal. Setiap tindakan seseorang akan menjadi cermin bagi masyarakat.”

Menarik kesimpulan dari ungkapan tersebut, Ustadz Anggun menegaskan bahwa reputasi Al Mizan juga bergantung pada kualitas para ustadznya. Karena itu, setiap ustadz harus menyadari bahwa akhlak, keteladanan, dan profesionalismenya menjadi contoh langsung bagi para santri.

“Guru itu bagian dari orang tua. Jika ingin memperbaiki anak-anak atau santri, maka yang pertama harus diperbaiki adalah diri kita sendiri,” tegasnya.

Penyakit Hati yang Menghambat Kebaikan

Ustadz Anggun menyoroti pentingnya membersihkan hati dari penyakit hasad (iri dengki). Mengutip sejumlah ulama, ia menjelaskan bahwa iri adalah keinginan agar nikmat yang ada pada orang lain hilang.

Ia menyampaikan sabda Nabi: “Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka tidak saling iri.”

Karena itu, suasana asrama putra akan sulit kondusif bila di antara para pengasuh dan santri masih menyimpan rasa iri, saling menyalahkan, atau enggan bekerja sama.

“Kalau ustadznya kompak dan satu hati, maka seberat apa pun tugas kepesantrenan akan mudah dijalankan,” ungkapnya.

Anggun Imanto juga menyinggung pentingnya integrasi program pembelajaran bahasa Arab dan Inggris. Menurutnya, bahasa tidak cukup ditingkatkan hanya melalui sistem sekolah, tetapi memerlukan keterlibatan total para pembina asrama.

“Bahasa itu budaya. Kalau pembinanya bisa diajak berjalan bersama, paham tujuan, dan kompak, maka peningkatan bahasa akan lebih mudah,” ujarnya.

Ia menceritakan proses panjang berdirinya program tahfidz dan pengembangan asrama yang berawal dari tekad kuat dan kerja bersama para ustadz.

“Segala capaian itu berawal dari cita-cita dan kesungguhan. Allah akan memberi jalan bagi mereka yang bersungguh-sungguh,” tambahnya.

Tips Menghindari Hasad

Dalam kajiannya, ia memberi beberapa langkah agar para ustadz dapat terhindar dari penyakit hati:

Satu, Tidak memandang capaian orang lain kecuali untuk meniru kebaikannya, bukan untuk menumbuhkan iri.

Dua, Saling memberi hadiah, karena hadiah dapat menghangatkan hubungan dan memutus bisikan setan.

Tiga, Fokus pada amanah masing-masing, bukan membandingkan diri dengan orang lain.

Empat, Tidak memamerkan capaian secara berlebihan, karena dapat memicu rasa tidak nyaman di hati orang lain.

Satu Tim, Satu Komitmen

Menggunakan analogi sepak bola, Ustadz Anggun menyampaikan bahwa setiap ustadz memiliki posisi dan tugas masing-masing, tetapi tetap berada dalam satu tim yang sama.

“Walaupun kiper jatuh, kalau semua pemain bekerja sama dan saling menguatkan, maka permainan tetap bisa dimenangkan,” ujarnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya komunikasi yang baik, saling mengingatkan, dan menjaga suasana kebersamaan agar pembinaan santri berjalan optimal. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu