Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Yudistiro, Bocah Mumtaz yang Berdakwah di Tengah Hujan Bersama KH Anwar Zahid

Iklan Landscape Smamda
Yudistiro, Bocah Mumtaz yang Berdakwah di Tengah Hujan Bersama KH Anwar Zahid
Yudistiro Arash Habibi sedang menjawab pertanyaan KH Anwar Zahid (Eli Mahmudah/PWMU.CO)
pwmu.co -

Hujan rintik-rintik turun membasahi lapangan Kelurahan Sepanjang, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Selasa (21/10/2025) sore. Cuaca mendung dan udara dingin tak menyurutkan semangat ribuan jamaah yang datang menghadiri Pengajian Umum bersama KH Anwar Zahid.

Payung-payung terbuka, jas hujan dikenakan, dan wajah-wajah antusias tampak menyemut di sekitar panggung utama. Di tengah suasana yang basah itu, sebuah kejutan terjadi.

Seorang anak kecil berbaju muslim biru dan berpeci putih naik ke panggung dengan langkah mantap. Ia adalah Yudistiro Arash Habibi, siswa SD Muhammadiyah 2 Taman (Mumtaz), yang tampil berceramah di hadapan ribuan penonton yang menantikan tausiah dai kondang asal Bojonegoro itu.

Tantangan di Tengah Guyuran Hujan

Sebelumnya, KH Anwar Zahid sempat melontarkan pertanyaan kepada jamaah, “Adakah yang berani ceramah di depan sini?” Suasana hening. Tak ada satu pun yang maju. Hanya suara hujan dan riuh tenda yang terdengar.

Tiba-tiba, dari tengah barisan penonton, seorang bocah berdiri dan bersuara lantang, “Saya, Kiai!” Sorak kagum pun menggema. Jamaah menepuk tangan, beberapa bahkan berdecak takjub melihat keberanian bocah itu.

Dengan senyum percaya diri, Yudistiro melangkah ke panggung, menyapa hadirin, lalu membuka penampilan dengan bacaan Al-Qur’an yang tartil dan fasih. Setelah itu, ia menyampaikan ceramah bertema Menjadi Anak Saleh di Setiap Keadaan.

Meski rintik hujan belum berhenti, jamaah tetap bertahan mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali mereka tertawa lepas ketika Yudistiro menyelipkan pantun dan gerakan lucu, membuat suasana semakin hangat di tengah udara dingin.

“Luar biasa! Anak sekecil ini berani tampil di depan ribuan orang, bahkan di tengah hujan,” puji KH Anwar Zahid sambil tersenyum.
“Bacaan Qur’annya bagus, ceramahnya menghibur. Ini contoh anak saleh yang penuh semangat.”

Yudistiro, Bocah Mumtaz yang Berdakwah di Tengah Hujan Bersama KH Anwar Zahid (2)
Yudistiro Arash Habibi sedang mengikuti kelas talent dai (Eli Mahmudah/ PWMU. CO)

Dari Kelas Talent ke Panggung Dakwah

Keberanian Yudistiro bukan muncul tiba-tiba. Ia merupakan siswa kelas talent bidang Al-Islam: Kelas Dai, salah satu dari 32 kelas talent di SD Mumtaz. Sekolah yang berkomitmen menjadi Sekolah Islam Modern, Bermutu Global, dan Berbasis Digital ini dikenal aktif menggali potensi siswa.

Bidang kelas talent di antaranya meliputi Al-Islam, seni, bahasa, akademik, olahraga, dan life skill.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Koordinator kelas talent, Tri Utami, S.Psi., menjelaskan bahwa setiap kelas memiliki target capaian tertentu.
“Khusus kelas talent Dai, targetnya anak-anak mampu tampil di depan publik dan menyampaikan pesan dakwah dengan percaya diri,” jelasnya.
“Kami ingin mereka menjadi generasi yang siap berdakwah, berani tampil, dan tetap rendah hati.”

Tami menambahkan, pembinaan kelas talent rutin berlangsung setiap Rabu dan Kamis pukul 14.30–16.00. Anak-anak tidak hanya berlatih berbicara, tetapi juga belajar menyusun naskah ceramah, membaca Al-Qur’an dengan tartil, serta menguatkan akhlak dan karakter.

Sekolah Dukung Setiap Bakat

Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Prasidi Sunusurya, M.Pd., menyampaikan kebanggaannya terhadap penampilan Yudistiro.
“Inilah hasil nyata dari program kelas talent. Anak-anak tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga berani tampil di masyarakat,” ungkapnya.
“Yudistiro membuktikan bahwa keberanian dan semangat dakwah bisa tumbuh dari latihan dan pembinaan yang konsisten.”

Menurutnya, banyak orang tua memilih Mumtaz karena sekolah ini memberi ruang luas untuk pengembangan potensi anak.
“Setiap anak punya bakat unik. Kami bantu mereka menemukan dan menumbuhkannya dengan lingkungan yang positif,” tambah Prasidi.

Yudistiro, Bocah Mumtaz yang Berdakwah di Tengah Hujan Bersama KH Anwar Zahid (3)
Ribuan penonton terkesima dan tertawa melihat penampilan Tiro (Eli Mahmudah/ PWMU. CO)

Doa dan Cita-Cita

Usai tampil, Yudistiro menerima hadiah dari panitia dan banyak doa dari jamaah yang terinspirasi oleh keberaniannya. Saat ditemui kontributor PWMU.CO, ia mengaku tidak menyangka akan tampil di acara sebesar itu.
“Saya sebenarnya tidak niat maju. Tapi waktu Kiai tanya siapa yang bisa ceramah, kok tidak ada yang berani. Jadi saya maju saja, ingin menguji keberanian. Kalau dapat hadiah, itu rezeki dari Allah,” ujarnya sambil tersenyum malu.

Meski masih duduk di bangku sekolah dasar, cita-citanya sudah tinggi.
“Saya ingin jadi tentara sekaligus ulama, supaya bisa menjaga negara dan juga berdakwah,” katanya mantap.

Prasidi pun menutup dengan penuh doa.
“Semoga cita-cita itu terwujud. Indonesia butuh banyak tentara yang juga ulama seperti Yudistiro Arash Habibi,” ujarnya.

Hujan sore itu tak mampu memadamkan semangat dakwah seorang anak kecil. Di tengah rintik air dan udara dingin, Yudistiro Arash Habibi justru menjadi sumber kehangatan—bukti bahwa keberanian dan keyakinan bisa tumbuh dari ruang belajar yang penuh cinta dan nilai-nilai Islam. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu