Jangan pernah merasa kecil. Jangan pernah merasa tidak mungkin. Pesan itu ditegaskan drh. Zainul Muslimin, Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (PWM Jatim), dalam ceramahnya di hadapan pimpinan sekolah, guru, wali murid, dan siswa SMA IPIEMS, Surabaya, Jumat (27/2/2028).
Di hadapan ratusan siswa dan wali murid, Zainul menyerukan pentingnya membangun mimpi setinggi mungkin serta meninggalkan mental lemah yang membuat generasi muda mudah menyerah sebelum berjuang.
Menurutnya, masa depan tidak ditentukan oleh keadaan hari ini, melainkan oleh keberanian bermimpi, kesungguhan berikhtiar, dan keyakinan penuh kepada Allah.
“Kalau anak sudah tidak senang di sekolah, merasa terpaksa, merasa terbebani, itu seperti sedang mengusung keranda. Berat sekali. Dan itu tanda bahaya,” ujarnya.
Tiga Pilar Pendidikan: Sekolah, Orang Tua, dan Siswa
Kegiatan tersebut dirancang sebagai wujud kolaborasi antara sekolah, wali murid, dan peserta didik. Zainul mengapresiasi kehadiran para orang tua sebagai bukti komitmen bersama dalam membangun generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Ia mengingatkan bahwa sekolah hanyalah mitra. Pendidikan anak bukan sepenuhnya tanggung jawab guru.
“Saya pernah menjadi pengurus komite sekolah. Kita ini sering merasa sudah bayar sekolah, maka selesai tugas kita. Ternyata tidak. Kelak yang dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah adalah orang tuanya,” tegasnya.
Menurutnya, guru hanya membantu amanah utama yang tetap berada di pundak ayah dan ibu.
Buku How Children Fail dan Kunci Kebahagiaan Belajar
Dalam ceramahnya, Zainul mengutip buku klasik karya pendidik Amerika, How Children Fail karya John Holt. Buku tersebut membahas mengapa anak-anak bisa gagal dalam pendidikan.
“Kesimpulan terpentingnya sederhana: anak gagal bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak bahagia dan tidak nyaman,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa suasana belajar yang menekan, penuh ketakutan, atau sekadar formalitas tanpa makna akan mematikan potensi anak.
The Art of Possibility: Jangan Batasi Mimpi
Selain itu, ia juga menyinggung buku inspiratif The Art of Possibility. Intinya, manusia sering membatasi dirinya dengan pikiran sempit.
“Hidup ini penuh ujian. Tapi bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Pikiran kita terbatas, tapi kekuasaan Allah tidak terbatas,” katanya.
Dia lalu memberi contoh kisah Nabi Zakaria yang dalam usia lanjut dan kondisi mustahil secara medis tetap dikaruniai keturunan. Pesannya jelas: jangan pernah membatasi mimpi, sandarkan pada Allah, dan bersungguh-sungguhlah.
Zainul juga berbagi kisah pribadinya. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana dengan enam bersaudara. Saat SMA, ia pernah diremehkan karena kondisi ekonomi.
“Saya pernah merasa tidak dipandang. Tapi saya tanamkan dalam hati: suatu saat kamu akan menyesal,” kenangnya.
Kini, orang-orang yang dulu meremehkan justru meminta nasihat dan bantuan kepadanya. Ia menekankan bahwa keadaan hari ini bukan penentu masa depan.
“Bangun mimpi. Deklarasikan harapan. Sandarkan kepada Allah. Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin.”
Yang Terpilih Selalu yang Terbaik
Dalam sesi interaktif, ia mengangkat empat lembar uang dengan nominal berbeda dan bertanya mana yang akan dipilih. Peserta serempak memilih nominal tertinggi.
“Kenapa? Karena punya nilai lebih besar. Ingat, yang dipilih itu selalu yang terbaik. Jangan bercita-cita jadi biasa-biasa saja,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya menjadi pribadi yang memiliki value, nilai tambah, kompetensi, dan karakter kuat.
Bahaya Generasi Lemah
Mengutip pesan Al-Qur’an, Zainul mengingatkan agar orang tua tidak meninggalkan generasi yang lemah—lemah iman, lemah ilmu, dan lemah ekonomi.
Menurutnya, kelemahan ekonomi bisa berdampak luas. “Kalau ekonomi sangat lemah, banyak syariat yang tak bisa ditunaikan. Zakat tak bisa, haji tak bisa. Maka kita harus kuat,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pentingnya keberanian berhijrah—berani berubah, keluar dari zona nyaman, dan mencari peluang di “bumi Allah yang luas.”
Bangun Jaringan, Luaskan Rezeki
Zainul mengajak generasi muda membangun silaturahmi dan jaringan seluas-luasnya. Ia mencontohkan bagaimana jaringan sosial hari ini, termasuk media digital, membuka peluang luar biasa.
“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahmi,” katanya mengutip hadis Nabi.
Namun ia mengingatkan, memilih teman juga penting. Karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkaran pergaulannya.
Empat Kunci Sukses: Urus, Fokus, Serius, Istikamah
Di akhir ceramah, ia merangkum resep sukses dalam empat kata:
1. Urus dengan cara terbaik. Setiap amanah harus ditangani dengan sungguh-sungguh.
2. Fokus. Tidak mendua dan tidak setengah hati.
3. Serius (bersungguh-sungguh). Allah menjanjikan jalan keluar bagi yang berjuang sepenuh hati.
. Istikamah. Konsisten dan terus-menerus.
“Kalau empat ini dilakukan, insyaAllah kejayaan akan datang,” ujarnya.
Harapan untuk Generasi Masa Depan
Menutup ceramahnya, Zainul mendoakan agar para siswa menjadi generasi saleh dan sukses dunia akhirat.
“Bangun cita-cita setinggi mungkin. Mulai hari ini. Sandarkan pada Allah. Jangan pernah merasa kecil. Jangan pernah merasa tidak mungkin,” pesannya. (*)
Sumber: Youtobe INFO SMA IPIEMS






0 Tanggapan
Empty Comments