Kekuatan seorang mukmin tidak hanya terletak pada fisik dan iman, tetapi juga pada kesediaannya untuk berinfak.
Hal itu ditegaskan drh. Zainul Muslimin, Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim, di Kajian Ahad Pagi bertajuk “Menjadi Mukmin yang Kuat dan Menguatkan” yang digelar di Masjid Jenderal Sudirman, Surabaya, Ahad (7/12/2025).
Mengawali pemaparan, Zainul Muslimin mengajak jamaah memahami bahwa manusia memiliki keistimewaan berupa kesatuan antara jasmani dan rohani. Pesan tersebut, katanya, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfal.
“Manusia memiliki sisi jasmani dan rohani berupa fisik yang melekat dengan karunia iman. Maka dengan fisik yang sehat dan iman yang kuat kita gunakan untuk berinfak di jalan Allah,” ujarnya.
Menurutnya, kesehatan tubuh yang dipadukan dengan kekuatan iman tidak hanya menjadi modal pribadi seorang mukmin, tetapi juga menjadi landasan untuk menghadirkan kemanfaatan bagi sesama melalui gerakan infak.
Zainul mengungkapkan data menarik mengenai profil para penggerak infak di masyarakat. Dia menyebut bahwa kelompok yang paling rajin berinfak saat ini masih didominasi oleh kalangan ibu-ibu berusia di atas 45 tahun.
“Berdasarkan data yang saya punya, yang banyak berinfak itu masih dipegang oleh ibu-ibu usia 45 tahun ke atas,” jelasnya.
Fakta ini, menurutnya, membuktikan bahwa semangat memberi telah lama menjadi tradisi mulia di kalangan perempuan Muhammadiyah.
Namun, dia mengingatkan bahwa semangat tersebut seharusnya diteladani oleh seluruh jamaah, termasuk kalangan laki-laki.
Melihat realitas tersebut, Zainul mengajak jamaah untuk semakin memperkuat gerakan infak dan tidak hanya bergantung pada satu kelompok usia dan gender.
“Ini yang membuat saya kagum. Maka bapak-bapak jangan sampai kalah,” tuturnya disambut senyum para jamaah.
Zainul menegaskan, perilaku suka berinfak adalah cerminan karakter seorang mukmin yang baik. Semangat berbagi, katanya, adalah bagian dari upaya memperkuat diri sekaligus menguatkan sesama.
“Dari gerakan suka berinfak inilah seseorang menjadi manusia yang baik,” ungkapnya.
Zainul mengutip sebuah hadis Nabi Muhammad saw tentang definisi manusia terbaik. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa manusia yang paling baik adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain.
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya,” jelasnya.
Dengan pesan tersebut, dia mengajak jamaah menjadikan infaq bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan gaya hidup kebaikan yang berkelanjutan—sebuah ciri mukmin kuat yang mampu menguatkan lingkungannya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments