Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Zulfikar, Hafiz Muda UMS yang Menorehkan Puluhan Juara dari Kampus hingga Dunia

Iklan Landscape Smamda
Zulfikar, Hafiz Muda UMS yang Menorehkan Puluhan Juara dari Kampus hingga Dunia
Zulfikar, mahasiswa FAI UMS. foto: Dok/Pri
Oleh : Adi Kurnia Humas Universitas Muhammadiyah Surakarta
pwmu.co -

Zulfikar, mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sosok sederhana dengan semangat luar biasa. Dia meniti jalan panjangnya sebagai penjaga Kalam Ilahi.

Mahasiswa semester lima Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir ini telah menorehkan lebih dari empat puluh prestasi dalam ajang Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), mulai dari tingkat universitas hingga internasional.

Perjalanan Zulfikar di dunia tahfiz bukanlah kisah yang lahir seketika. Sejak usia empat tahun, ia sudah mulai menghafal Al-Qur’an di bawah bimbingan tangan lembut sang ibu. Dari ruang kecil rumahnya, ia tumbuh bersama lantunan ayat demi ayat yang mengisi masa kecilnya.

“Waktu kecil, setiap kali saya berhasil menambah hafalan, ibu selalu memberi hadiah kecil. Dari situlah semangat itu tumbuh,” kenangnya.

Namun, seiring bertambahnya usia, motivasinya berubah. Bukan lagi hadiah atau pujian yang menjadi dorongan, melainkan keinginan untuk menjaga amanah besar dari Allah.

“Sekarang menghafal bukan lagi soal hadiah, tapi bagaimana saya bisa mempertanggungjawabkan hafalan Al-Qur’an ini di hadapan Allah,” ujarnya, Selasa (4/11/2025).

Ketenangan dalam Setiap Lantunan Ayat

Zulfikar menggambarkan proses menghafal Al-Qur’an sebagai momen paling damai dalam hidupnya. Setiap kali ia melantunkan ayat, seakan seluruh beban hidup lenyap seketika.

“Ketika menghafal, saya merasa nyaman, tenteram, dan damai. Pikiran menjadi sejuk, dan permasalahan hidup seperti menguap,” tuturnya dengan mata berbinar.

Bagi Zulfikar, perlombaan MHQ bukan sekadar ajang adu cepat atau suara merdu, melainkan cara untuk menjaga hafalan. Ia menekankan bahwa setiap kompetisi adalah momentum penyegaran hafalan sekaligus sarana memperkuat tekad untuk terus bersama Al-Qur’an.

“Menang bukan tujuan utama. Saya ikut lomba karena itu cara paling efektif untuk terus memelihara hafalan di tengah kesibukan kuliah,” katanya.

Empat Puluh Lebih Kompetisi, Satu Tujuan yang Sama

Sejak semester pertama, langkah Zulfikar tak pernah berhenti. Ia telah mengikuti sekitar empat puluh ajang MHQ di berbagai level—mulai dari tingkat fakultas, nasional, hingga internasional. Dalam setiap lomba, ia selalu membawa niat yang sama: menghidupkan Al-Qur’an dalam dirinya.

Beberapa prestasi gemilangnya antara lain:

  • Juara 1 MHQ 10 Juz tingkat Nasional di UIN Sunan Kalijaga (2025)
  • Juara 1 MHQ 10 Juz tingkat Nasional di UIN Walisongo Semarang (2025)
  • Juara 1 MHQ 15 Juz tingkat Nasional di Markaz Ghanim (2025)
  • Juara Harapan 1 MHQ 10 Juz tingkat Internasional di ajang Porseni (2024)
  • Juara 1 MHQ 3 Juz tingkat Nasional di Uhamka (2025) dan Universitas Muhammadiyah Palembang (2025)
  • Juara 2 MHQ 5 Juz tingkat Nasional di Universitas Diponegoro (2025)
  • Juara 3 MHQ 10 Juz tingkat Nasional di UIN Palopo, Sulawesi Selatan (2025)

Prestasi itu hanyalah sebagian dari daftar panjang capaian yang ia raih. Namun di balik deretan piala, Zulfikar tetap menundukkan hati.

“Saya merasa biasa saja. Karena tujuan saya bukan juara, tapi menjaga agar hafalan Al-Qur’an tetap hidup dalam diri,” ucapnya dengan rendah hati.

Bagi Zulfikar, menjaga hafalan bukan soal waktu atau tempat. Ia percaya siapa pun bisa menjadi penjaga Al-Qur’an asalkan memiliki niat yang kuat.

“Pergaulan, kesibukan, dan lingkungan bukan penghalang. Gunakan cara apa pun yang bisa memotivasi kita untuk tetap dekat dengan Al-Qur’an,” tegasnya.

Dia pun mengajak para mahasiswa lain untuk berani mencoba mengikuti perlombaan MHQ, meski sekadar untuk melatih keberanian.

“Jangan takut ikut lomba. Justru dengan lomba, kita bisa menjaga hafalan di tengah rutinitas kuliah dan kesibukan lain,” pesannya.

Kerendahan Hati Seorang Hafiz

Di akhir perbincangan, Zulfikar menundukkan pandangan. Ia tak ingin prestasi yang diraihnya menjadikan dirinya sombong.

“Semoga saya bisa terus menjaga hafalan hingga akhir hayat. Saya ingin berbagi ilmu dan memotivasi siapa pun agar tidak berhenti menjaga Al-Qur’an,” ujarnya.

Dari tangan seorang ibu yang menanamkan cinta Al-Qur’an, lahirlah sosok muda yang menjadikan hafalan sebagai jalan hidup.

Zulfikar bukan hanya penghafal, tapi penjaga makna—bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an adalah sumber kedamaian yang abadi, lebih berharga daripada semua piala yang pernah ia raih. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu