Mengimani Keesaan Allah Tidak Boleh Berdasarkan Cerita

53
Pasang Iklan Murah
Waket PWM Jatim Ustad Dr Syamsuddin ketika mengkaji HTP. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Ustad Dr Syamsuddin MA menyatakan seorang Muslim tidak boleh meyakini atau mengimani keesaan dan adanya Allah SWT hanya berdasarkan cerita.

Hal itu ia sampaikan dalam Kajian Raboan yang diadakan oleh Pegawai Sekretariat Muhammadiyah Jatim di Kantor Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Rabu (10/7/19). Kajian kali ini mengupas tentang Mukadimah Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah.

Ustad Syam—sapaannya—menerangkan, Mukadimah HPT dimulai dengan menggelorakan kalimat tauhid serta perlawanan terhadap syirik.

Hal itu, kata dia, sebagaimana misi purifikasi atau pemurnian agama yang digelorakan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. “Kita ingin mengembalikan spirit agama merujuk pada Alquran dan Assunah” ujarnya.

Ia menyebutkan, fase awal dari dua fase dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW juga menekankan kepada aspek tauhid dan akidah.

“Nah, misi kenabian seorang Muhammad adalah untuk mengembalikan agama tauhid sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS maupun Ismail di wilayah Arabia,” terangnya.

Dosen UIN Sunan Amprl Surabaya itu menegaskan, keimanan akan eksistensi Allah SWT dengan segala konsekuensinya adalah satu keharusan. Maka, mengimani keberadaan semua rasul yang ada dalam Alquran.

“Jangan seperti Yahudi yang hanya mengimani Nabi Musa, tapi menolak kenabian Muhammad. Pun demikian dengan Nasrani yang hanya mengimani Nabi Isa AS. Semua rasul yang harus diimani keberadaannya,” tegasnya.

Ustad Syam juga mengingatkan, tidak boleh orang meyakini atau mengimani terkait makrifatullah berdasarkan cerita. Tapi menggapai makrifatullah harus berdasarkan dalil atau riwayat yang mutawatir.

“Dari mana kamu tahu bahwa Allah itu maujud, ya ceritanya begitu. Nah, itu tidak boleh. Kita mengimani keesaan Allah harus atas dalil yang mutawatir,” tandasnya. (Aan)