Langsung Heboh! MPLS Ditutup dengan Simulasi Bencana

222
Pasang Iklan Murah
Kepala Smamsa Dra Umi Mafrukhah menerima sertifikat Sekolah Aman Bencana. (Foto: Nata/MDMC)

PWMU.CO-SMA Muhammadiyah 1 Kota Malang dikukuhkan menjadi Sekolah Aman Bencana pada penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Sabtu (20/7/2019).

Gelar ini diperoleh setelah guru dan siswa Smamsa mengikuti pendidikan dan latihan siaga bencana yang difasilitatori oleh Mahasiswa Relawan Siaga Bencana Universitas Muhammadiyah Malang (Maharesigana UMM), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Malang.

Sebelumnya gelar ini pernah diraih pada 2016 yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan MDMC PP Muhammadiyah.

Kepala Smamsa Dra Umi Mafrukhah menyatakan, adanya diklat kedua ini bertujuan melanjutkan program sebelumnya supaya tidak terputus. Karena sekolah mempunyai tanggung jawab moral untuk terus melanjutkan program yang sudah berjalan.

”Di samping tujuan tersebut, sekolah juga ingin memberikan edukasi tentang kesiapsiagaan terhadap bencana supaya bisa meminimalkan korban jika betul-betul terjadi bencana,” katanya.

Dalam kegiatan kali ini, sambung dia, guru dan siswa sama-sama mengikuti diklat. Guru-guru dilibatkan karena guru merupakan motor sekolah aman bencana.

Diklat siaga bencana dipandang Umi sebagai suatu keharusan mengingat status sekolah yang dipimpinnya juga sebagai sekolah inklusi. ”Mau tidak mau, kami harus mengajarkan prinsip tangguh bencana pada semua siswa, termasuk siswa inklusi. Pada pelaksanaan diklat dan simulasi, siswa inklusi bisa didampingi oleh guru pendamping,’ imbuh Umi.

Selama tiga hari, sejak Kamis hingga Jumat (18-19/7), guru dan siswa mendapatkan materi tentang panorama bencana, cara evakuasi korban bencana, pertolongan pertama gawat darurat (PPGD). Sedangkan di hari Sabtu (20/7), guru dan siswa SMAM melakukan simulasi penanganan bencana kebakaran.

Perwakilan Maharesigana yang bertanggung jawab sebagai koordinator simulasi, Nata Hendriati menyampaikan, tidak ada kesulitan berarti yang dialami siswa inklusi untuk mengikuti simulasi. “Meski ada beberapa yang tidak ikut simulasi karena merasa kurang nyaman dengan suara keras, seperti suara alarm kebakaran atau sirine ambulans,” sebutnya.

Dipilihnya bencana kebakaran dan kecelakaan sebagai materi simulasi, dijelaskan Ketua MDMC Kabupaten Malang Rossi Hendrawan sebagai potensi bencana di Smamsa.

 “Tiga ancaman bencana terbesar di sekolah ini ialah kebakaran, tanah longsor karena lokasinya yang berada di tepi sungai, dan kecelakaan lalu lintas karena sekolah berada di pinggir jalan raya dengan rute satu arah. Maka dari itu, kita coba simulasikan seandainya ada kebakaran dan kecelakaan di sekolah ini,” pungkasnya.

Umi menambahkan target dari giat ini adalah terbentuknya siswa-siswa dan guru yang punya empati terhadap problem kemanusiaan dan tangguh dalam merespons bencana. (Isna, Umi)