Beginilah Membuktikan Camilan Anak-Anak Itu Buruk bagi Kesehatan

76
Pasang Iklan Murah
Saibah, tengah, menunjukkan camilan berbahaya bagi kesehatan anak. (Sylvia/PWMU.CO)

PWMU.CO-Pimpinan Daerah Aisyiyah Bondowoso mengadakan Emotional Demonstration (Emo Demo) tentang camilan sembarangan. Kegiatan dilaksanakan saat pertemuan rutin di Masjid Mas Mansyur Kompleks Panti Asuhan Putri Aisyiyah Bondowoso, Ahad  (13/10/2019).

Trainer dari Aisyiyah yang mengisi acara Saibah SPd. Dia telah dilatih Emo Demo sebagai Master of Training (MT)  oleh Dinas Kesehatan dan GAIN Indonesia (Global Alliance for Improve Nutrition).

Saibah mengatakan,  metode Emo Demo penting dan menarik. Pasalnya, melibatkan seluruh peserta untuk berpartisipasi dari awal hingga akhir.  Harapannya, kesimpulan dan pesan dari modul  benar-benar melekat di pikiran peserta sehingga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau ibu-ibu diajak ikut dalam Emo Demo, jangan malu dan sungkan ya,”seru Saibah kepada 50 ibu-ibu Aisyiyah yang hadir.

Dijelaskan Saibah, Emosional Demontrasi adalah pendekatan melalui permainan yang disampaikan secara komunikatif, partisipatif, menggugah emosi dan pesan yang disampaikan bermakna.

Dengan menggugah emosi peserta, sehingga mau mengubah pola pikir, sikap dan perilaku yang selama ini dianggap tidak benar tentang makanan dan nutrisi.

”Ibu-ibu, saya tanya sekarang. Menurut ibu, apakah camilan sembarangan itu aman bagi balita? Saya tanya lagi. Terus, jenis camilan apa saja yang biasa ibu berikan kepada anak atau cucunya?” tanya mahasiswi S2 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini.

Untuk membuktikan dia lakukan peragaan. Dia menunjukkan camilan yang sudah diremas-remas. Gelas transparan yang diibaratkan perut anak. Air panas dalam termos. Bola beraneka warna serta timba.

Saibah meminta dua relawan maju mengaduk camilan dalam gelas dengan soft drink yang sering di konsumsi anak-anak.  Camilan yang dicampur dan diaduk dalam gelas perumpamaan makanan yang masuk dalam perut. Setelah diaduk lalu didiamkan sesaat melihat reaksi yang terjadi.

Selanjutnya, dua relawan melemparkan bola berwarna yang diibaratkan camilan ke dalam timba ibarat perut anak kita.

”Ketika anak menangis maka ibu berlomba melemparkan bola ke dalam timba. Semakin banyak bola yang masuk ke dalam timba maka semakin banyak camilan dimakan anak. Pemenang perlombaan tersebut diberi hadiah makanan yang sudah dicampur dalam gelas tadi. Apakah ibu bersedia meminumnya?” tanya Saibah.

Ibu-ibu  relawan menolak karena aroma campuran camilan dalam gelas tersebut baunya menyengat tidak sedap dan menjijikkan.

Gelas tersebut disodorkan ke ibu-ibu yang hadir. Apakah ada yang bersedia meminumnya. Semua serentak menolak minum karena jijik.

”Nah…jika ibu-ibu saja menolak meminumnya, apakah ibu tega memberikan camilan tidak sehat kepada anak?”

Dia  menyampaikan kesimpulan bahwa cemilan yang tidak sehat seringkali terbuat dari bahan yang berbahaya dan tidak bergizi.

“Meskipun anak kita menangis jangan berikan camilan sembarangan yang tidak sehat. Berikan saja yang sehat seperti buah-buahan, sayuran dan camilan buatan sendiri,” tegasnya. (*)

Penulis Sylvia Andriani  Editor Sugeng Purwanto