Kiai Terkecoh Injil Berbahasa Arab, Begini Cerita Menachem Ali

27071
Kisah kiai tertipu Injil berbahasa Arab ini terjadi karena dia beranggapan Nabi Isa menggunakan bahasa tersebut. Padahal tak semua Nabi berbahasa Arab.
Ustadz Menachem Ali di Masid An Nur Sidoarjo. (Darul Setiawan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kiai terkecoh Injil berbahasa Arab karena beranggapan Nabi Isa menggunakan bahasa tersebut. Padahal, kata Menachem Ali, tak semua Nabi berbahasa Arab.

Hal itu disampaikan Ustadz Menachem Ali dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid An Nur Komplek Perguruan Muhammadiyah Sidoarjo, Ahad (19/1/20) lalu.

Oleh karena itu dia berpesan, jangan menilai Islam hanya dari casing atau luarnya saja. Karena jika hanya melihat sesuatu dari casing-nya, lalu kita terjebak di dalamnya, maka bisa berbahaya.

Terkecoh Injil Berbahasa Arab

Menachem Ali menceritakan, di wilayah pesisir utara ada orang pakai peci hitam, berbaju koko, dan bersarung. Orang ini dikira Muslim tapi ternyata bukan. Orang tersebut bersama seorang laki-laki dan perempuan masuk ke sebuah pesantren.

Di sebuah pesantren yang tidak disebutkan namanya oleh Menachem Ali, bertamulah tiga orang tersebut ke kediaman kiai. Satu perempuan berkerudung dan dua laki-laki lainnya berkopiah dan berbaju koko.

“Awalnya mereka sowan biasa. Tapi kemudian langsung nyeletuk bicara mengenai Alquran. Ngomong Surat As-Shaf, surat ke-61 ayat ke-6. ‘Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata kepada kaumnya, sesungguhnya aku utusan Allah kepada kalian’,” jelas Menachem Ali.

SMA Muhammadiyah 1 Taman

Kemudian salah seorang di antaranya bertanya pada kiai. “Kiai, ini ayat ucapan siapa?” tanya salah seorang.

“Namanya Pak Kiai ya ngomong apa adanya. Dijawablah sama kiai tersebut: ‘Ini dalam Alquran ucapan Isa Ibnu Maryam’,” ungkap Menachem Ali menirukan ucapan kiai.

Lalu mereka melanjutkan, “Yang diucapkan apa Kiai?” tanya mereka.

Inni rasulullahi ilaikum,” jawab Kiai.

Baca Juga:  Ini Cara Misionaris Alihkan Keyakinan Umat Islam

“Oh, jadi Isa itu ngomong begitu ya Pak Kyai?”

“Iya betul ngomongnya begitu,” jawab kiai tersebut.

“Lha ngomongnya pakai bahasa apa, Kiai?”

“Ya bahasa Arab,” kata Kiai itu.

Mereka lalu pura-pura bertanya lagi pada kiai. “Oh, kalau begitu Isa putra Maryam itu pakai bahasa Arab ya Pak Kiai?”

“Kalau menurut Alquran, iya,” ujar kiai.

“Nah, ini Pak Kiai, saya hadiahi Al Kitabul Muqaddas, Al Kitab dalam bahasa Arab, bahasa asli yang diucapkan Isa,” ujar salah seorang di antara mereka bertiga.

“Lalu ekspresi Pak Kiai apa? Al Kitabnya orang Kristen yang berbahasa Arab itu dicium oleh Pak Kiai. Dikiranya itu Injil yang asli,” tutur Menachem Ali.

Tak Semua Nabi Berbahasa Arab

Kenapa sampai seperti itu? Karena, menurut Menachem hampir sebagian dari kita memahami, jika semua nabi, termasuk Isa ngomong pakai bahasa Arab.

“Adam pakai bahasa Arab. Firaun dan Musa pakai bahasa Arab. Ibrahim dan Namrud ngomong dalam bahasa Arab. Benarkah seperti itu? Salah,” ungkap Menachem.

Kalau Nabi Muhammad, lanjut dia, ngomong pakai bahasa Arab itu betul. Kalau Musa ngomong pakai bahasa Arab jelas salah.

“Memangnya Musa itu orang Arab atau Bani Israil? Kalau Bani Israil pakai bahasa Arab atau bahasa Ibrani? Ibrani,” ujar dia.

Tapi kenapa dalam Alquran ada percakapan Musa dalam bahasa Arab?

“Karena pada saat itu, bahasa Ibrani-nya Musa diterjemahkan oleh Allah dalam bahasa Arab supaya Nabi Muhammad paham,” jelas Menachem Ali.

Dosen Filologi Unair itu lalu memberi gambaran, jika sekarang ini, Allah tetap tidak mau menghilangkan barang bukti.

Baca Juga:  3 Misi Kristenisasi yang Dijalankan Bangsa Penjajah di Indonesia

“Salah seorang Sahabat Nabi diperintah Umar bin Khattab menjadi gubernur di Mesir. Sampai hari ini yang namanya piramida itu hancur atau tidak? Tidak. Di piramid itu ada tulisan-tulisan seperti paku-paku dan itu bukan bahasa Arab, tapi itu bahasa Mesir. Dan itu bahasa yang dulu Musa dan kaumnya tinggal di situ. Jadi Firaun pasti tidak pakai bahasa Arab tapi pakai bahasa itu,” ungkapnya.

Menurut Menachem Ali, belajar sejarah merupakan salah satu cara merenungkan Alquran. “Jangan menjadi manusia yang tidak mau belajar sejarah. Lalu memahami Alquran apa adanya, dan kemudian salah memahami. Seperti cerita kiai terjebak dalam perangkap, karena memahami Nabi Isa berbahasa Arab,” tutur dia.

Adopsi Istilah Islam

Sekarang, lanjut Menachem, zamannya aneh-aneh. Istilah-istilah yang mirip agama Islam dipakai untuk mengelabui umat Islam.

“Jika kita ada Nuzulul Quran, mereka pakai istilah yang mirip-mirip, yakni nuzulul masihah. Kita ada istilah ahlussunah wal jamaah, mereka pakai istilah yang mirip-mirip, apa itu: ahlul kanisah wal jamaah. Bukan hanya istilah, tapi juga pakaian. Kita pakai baju takwa dan kopiah, mereka juga pakai,” ungkapnya.

Yang mengherankan, lanjut dia, banyak umat Islam yang ikut masuk perangkap. Untungnya bukan orang-orang Muhammadiyah. Mereka memakai baju takwa dan kopiah lalu terbangan di gereja lalu menyanyikan lagu Haleluya.

“Itu sudah menyalahi dan betul-betul jatuh dalam perangkap. Untung warga Muhammadiyah cerdas dan harus cerdas. Jika tidak akan dimangsa. Dan itu berbahaya. Maka sekali lagi jangan terjebak pada casing,” pesan Menachem Ali. (*)

Penulis Darul Setiawan. Editor Mohammad Nurfatoni.