Kajian Ahad Pagi yang diselenggarakan Majelis Tabligh PDM Kota Batu menghadirkan Prof. Dr. Khozin, M.Si. sebagai pemateri pada Ahad (8/3/2026). Kegiatan yang berlangsung di Masjid At-Taqwa Kota Batu tersebut mengangkat tema tentang makna ketakwaan, khususnya dalam momentum bulan Ramadan.
Dalam pemaparannya, Prof. Khozin menjelaskan bahwa takwa dapat dianalogikan seperti sistem imun dalam tubuh manusia. Jika sistem imun berfungsi melindungi tubuh dari penyakit, bakteri, dan virus, maka takwa menjadi kekuatan mental dan spiritual yang menjaga manusia dari perbuatan maksiat.
“Takwa itu seperti sistem imun dalam diri manusia. Jika imun melindungi tubuh dari penyakit, maka takwa melindungi manusia dari dorongan hawa nafsu dan godaan setan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa ketakwaan merupakan puncak tertinggi dalam keberagamaan seseorang. Dengan ketakwaan yang kuat, seseorang akan mampu menahan diri dari berbagai godaan yang menjauhkan dari nilai-nilai kebaikan.
Prof. Khozin juga mengutip firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS Al-Hujurat: 13).
Selain itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa puasa Ramadan diwajibkan kepada orang-orang beriman agar mereka menjadi pribadi yang bertakwa.
Mengutip pendapat ulama tabi’in Hasan Al-Basri, Prof. Khozin kemudian menjelaskan 18 ciri orang bertakwa (muttaqin).
Pertama, teguh dalam keyakinan tetapi tetap bijaksana. Orang bertakwa memiliki keyakinan yang kuat terhadap ajaran agama, namun tetap bersikap arif dan tidak mudah menghakimi orang lain.
Kedua, bersemangat dalam menuntut ilmu. Menurutnya, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati sikapnya.
“Ilmu tidak boleh menjadikan seseorang sombong. Justru semakin tinggi ilmunya, semakin bijaksana dan rendah hati,” ujarnya.
Ketiga, semakin tinggi jabatan maka semakin bijaksana. Kedudukan tidak menjadikan seseorang arogan, melainkan dimanfaatkan untuk memberi manfaat bagi banyak orang.
Keempat, bersyukur ketika mendapatkan keberuntungan, baik berupa rezeki, kesehatan, maupun kemudahan hidup.
Kelima, berusaha adil dalam pembagian rezeki. Dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin harus mampu bersikap adil terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
Keenam, menjaga kerapian dan kebersihan diri meskipun dalam kondisi sederhana. Hal tersebut merupakan bagian dari akhlak seorang muslim.
Ketujuh, cermat dan tidak boros walaupun memiliki banyak harta. Kekayaan tidak membuat seseorang hidup berlebihan.
Kedelapan, murah hati dan senang membantu orang lain. Orang bertakwa lebih suka memberi daripada meminta.
Kesembilan, tidak menghina dan tidak mengejek orang lain. Ia menjaga lisannya dan memilih berkata baik atau diam.
Kesepuluh, tidak menghabiskan waktu dalam permainan yang melalaikan. Waktu dipandang sebagai amanah yang harus digunakan untuk hal-hal bermanfaat.
Kesebelas, tidak menyebarkan fitnah. Ia berhati-hati dalam berbicara dan menyampaikan informasi kepada orang lain.
Kedua belas, disiplin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab.
Ketiga belas, memiliki dedikasi tinggi dalam bekerja dan mengabdi kepada masyarakat.
Keempat belas, mampu menjaga identitas diri dan nilai-nilai keislaman di mana pun berada.
Kelima belas, tidak menuntut sesuatu yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain.
Keenam belas, jika ditegur ia menyesal dan melakukan introspeksi diri.
Ketujuh belas, jika melakukan kesalahan ia segera beristigfar dan memohon ampun kepada Allah.
Kedelapan belas, jika dimaki ia membalas dengan kebaikan. Ia mampu menahan amarah dan merespons dengan doa.
“Jika makian itu benar, semoga Allah mengampuni saya. Jika makian itu tidak benar, semoga Allah mengampuni Anda,” ungkapnya mencontohkan sikap seorang muttaqin.
Di akhir kajian, Prof. Khozin menegaskan bahwa delapan belas sifat tersebut merupakan gambaran karakter seorang muslim yang bertakwa.
“Memang tidak mudah memiliki semua sifat itu sekaligus. Tetapi setiap muslim harus terus berusaha memperbaiki diri sepanjang hayat,” tuturnya.
Ia berharap Ramadan dapat menjadi momentum latihan spiritual bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak. Dengan demikian, setiap muslim dapat perlahan mencapai derajat muttaqin, yaitu hamba yang bertakwa kepada Allah Swt. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments