
PWMU.CO – Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur kembali mencetak kader unggulan di bidang Dakwah. Rahmat Solekan, Ketua Bidang Kajian dan Dakwah Islam PW IPM Jawa Timur, menjadi salah satu dari 25 peserta terpilih dalam Pelatihan Da’i Pelajar Muhammadiyah (PDPM) Nasional 2025 (12-16/02/2025).
Acara yang berlangsung di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Kota Denpasar, Bali, ini mengangkat tema “Sriwedari Keberagaman: Menyemai Dakwah Islam Berkemajuan”.
Sebagai kader yang aktif dalam dakwah pelajar, Rahmat Solekan mengaku sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Baginya, kesempatan ini bukan sekadar belajar, tetapi juga meneguhkan komitmennya dalam menyampaikan Islam yang berkemajuan dengan cara yang lebih relevan.
”Saya ingin memperdalam pemahaman agama Islam agar bisa menyampaikan dakwah yang lebih baik dan benar. Selain itu, pelatihan ini juga menjadi wadah bagi saya untuk meningkatkan keterampilan berbicara dan menyampaikan pesan secara persuasif. Ini penting agar dakwah bisa diterima dengan lebih luas,” ungkap Rahmat.
Menurut Rahmat, mengikuti PDPM Nasional juga merupakan bentuk estafet perjuangan. Sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam dakwah dan pendidikan, Muhammadiyah telah melahirkan banyak da’i yang berkontribusi bagi umat.

”Saya ingin meneruskan jejak para pendahulu Muhammadiyah dalam berdakwah. Pelatihan ini juga menjadi ajang untuk mempelajari konsep-konsep baru yang dibawakan oleh Pimpinan Pusat IPM,” tambahnya.
PDPM Nasional 2025 menghadirkan empat materi utama yang disampaikan oleh para pakar di bidangnya, di antaranya:
- Falsafah Keberagaman: Antara Teks dan Konteks – KH Kusen MA PhD (Kyai Cepu).
- Menggerakkan Dakwah Kolaboratif – Twediana Budi Hapsari PhD.
- Metodologi Penafsiran Islam dalam Wacana Kontemporer – Prof Alimatul Qibtiyah MSi PhD.
- Agama, Kebudayaan, dan Dinamika Sosial – Prof Dr phil I Ketut Ardhana MA.
Selain mendapatkan materi tentang dakwah, para peserta juga berkesempatan mengamati langsung bagaimana Islam berkembang di Bali. Rahmat Solekan mengaku terkesan dengan sejarah panjang Islam di pulau ini, yang sudah ada sejak abad ke-4.
”Saya baru mengetahui bahwa Islam di Bali sudah ada sejak lama. Bahkan, ada komunitas Muslim yang hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu, seperti di Kampung Islam Kepoan dan Kampung Bugis Suwung. Mereka menjaga toleransi dengan sangat baik,” tuturnya.
Salah satu tempat yang menarik perhatiannya adalah Puja Mandala, kompleks ibadah di Nusa Dua yang terdiri dari masjid, gereja Katolik, gereja Protestan, vihara, dan pura dalam satu kawasan. Keberadaan kompleks ini menjadi simbol harmoni antarumat beragama di Bali.

”Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua, bahwa kehidupan tidak hanya tentang hablum minallah (hubungan dengan Allah), tetapi juga hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia) tanpa membedakan satu sama lain,” ujar Rahmat.
Sebagai kader yang membawa nama Jawa Timur, Rahmat tidak ingin pelatihan ini hanya menjadi pengalaman pribadi. Ia berharap konsep-konsep yang dipelajarinya bisa diterapkan dalam gerakan dakwah di IPM Jawa Timur.
”Saya ingin mengkolaborasikan metode dakwah yang saya dapatkan dengan kearifan lokal di Jawa Timur. Dengan begitu, dakwah bisa lebih membumi di kalangan pelajar,” katanya.
Salah satu tantangan terbesar dalam dakwah pelajar saat ini adalah bagaimana menyampaikan Islam dengan cara yang inklusif dan menarik bagi anak muda.
Oleh karena itu, Rahmat berencana mendorong dakwah yang lebih kreatif, baik melalui media digital, kajian tematik, maupun pendekatan sosial yang lebih humanis.
Ketua Umum PW IPM Jawa Timur, Hengki Pradana, menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Rahmat dalam pelatihan ini. Menurutnya, IPM Jawa Timur selalu berkomitmen untuk mencetak kader dakwah yang berkualitas.
”Kami ingin memastikan bahwa kader-kader IPM memiliki pemahaman Islam yang luas dan mampu berdakwah dengan cara yang relevan. Keikutsertaan Rahmat di PDPM Nasional ini menjadi bukti bahwa kader IPM Jatim siap bersaing di tingkat nasional,” ujar Hengki.
Keikutsertaan Rahmat Solekan dalam PDPM Nasional 2025 adalah bukti nyata bahwa IPM Jawa Timur terus berusaha melahirkan kader dakwah yang berkemajuan.
”Saya berharap setelah pelatihan ini, kita bisa membawa pulang gagasan-gagasan baru yang bisa dikembangkan di Jawa Timur. Dakwah harus terus berkembang sesuai dengan tantangan zaman,” pungkas Rahmat.
Dengan semangat yang menyala, Rahmat Solekan siap kembali ke Jawa Timur membawa ilmu dan pengalaman dari PDPM Nasional. Ia adalah bukti nyata bahwa pelajar Muhammadiyah siap menjadi agen perubahan, menyebarkan Islam dengan pemahaman yang luas, bijak, dan penuh kasih sayang.(*)
Penulis Liset Ayuni Editor Zahrah Khairani Karim