
PWMU.CO – Bullying atau perundungan bukan lagi kasus langka, khususnya di Indonesia. Negara ini menempati peringkat kelima dalam kasus bullying. Perundungan sering terjadi pada anak-anak, terutama di sekolah. Bahkan tanpa disadari, beberapa tindakan kita termasuk dalam bullying, khususnya secara verbal.
Tim pengabdian Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) Dr Wiwik Widiyawati MM MKes dan Endah Mulayani MKes mengajak para guru, karyawan, dan komite SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (Mugres) Kampus B memahami bullying di sekolah. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara RisetMu dan Majelis Dikdasmen PNF Cabang Muhammadiyah Gresik, Jumat (14/2/2025).
Kegiatan workshop ini bertajuk Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Civitas Akademika SD Muhammadiyah 3 Gresik Mengenai Pencegahan dan Penanganan Bullying. Sebanyak 16 guru dan karyawan SD Mugres Kampus B serta 6 anggota komite turut menghadiri workshop ini. Widya Lita Fitrianur SKep Ns MKes hadir sebagai narasumber utama membagikan wawasan mendalam dalam kegiatan ini.
Kegiatan workshop berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama membahas materi tentang mengenali, mencegah, dan mengatasi bullying di sekolah. Sesi kedua membahas lebih dalam mengenai peran Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) dalam menangani serta mencegah bullying di lingkungan sekolah.
Beragam Bentuk Kekerasan
Dalam presentasinya, Widya memaparkan berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan fisik, kekerasan psikis, perundungan, kekerasan seksual, diskriminasi dan intoleransi, kebijakan yang mengandung kekerasan, serta cyberbullying. Para guru, karyawan, dan anggota komite menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi ini. Mereka aktif bertanya kepada narasumber mengenai strategi mencegah dan menangani bullying di sekolah.

Widya juga mengingatkan peserta workshop untuk menghindari penggunaan kata “jangan” saat melarang anak, baik di rumah maupun di sekolah. “Bapak Ibu, kita harus menghindari kata ‘jangan’ saat melarang anak, karena itu akan membuat anak menjadi introvert dan tetap melakukan hal yang dilarang.” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pola asuh anak zaman sekarang tidak bisa disamakan dengan cara mendidik di masa lalu yang cenderung keras. “Anak zaman sekarang itu tidak bisa dikeras, Bapak Ibu. Berbeda dengan zaman kita dahulu yang bisa dikeras dalam mendidik” ujar Widya.
PJS SD Mugres Kampus B, Eka Meita Sari SPd berharap tema seperti ini dapat diangkat dalam kegiatan parenting mendatang. “Topik ini menarik untuk kami sertakan juga dalam kegiatan parenting yang akan datang,” ungkapnya.
Penulis Diyani Editor Zahra Putri Pratiwig