Kisah Pak Prapto yang Rindu Bersujud

426
Hikmah Press
Kisah Pak Prapto yang Mengaku Rindu Bersujud
Latief Suprapto alias Pak Prapto saat ikut shalat jamaan di Masjid Masjid Al Fattah Tulungagung. (foto:hendra/pwmu.co)

PWMU.CO – Adzan belum berkumandan saat Latief Suprapto berjalan memasuki pelataran Masjid Al Fattah. Mengenakan baju takwa dan sarung putih, dengan kopiah putih pula, Pak Prapto , begitu ia karib disapa, lantas berjalan ke tempat wudlu setelah melepas sandalnya kemudian diletakkan di bibir masjid.

Pak Prapto hampir tak pernah absen berjamaah di masjid yang terletak di Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kota, Kabupaten Tulungagung tersebut. Bahkan, mantan Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Tulungagung tahun 1961-an ini, acap kali ikut membantu membuka pintu dan jendela masjid sebelum jamaah lainnya datang. Berbagai event di masjid juga selalu diikuti Pak Prapto.

iklan

Kondisi fisik Pak Prapto tidak seperti tiga puluh tahun lalu. Yang energik, lincah, dan cekatan. Gerakan tangan dan kakinya Pak Prapto kini jauh lebih lamban. Penglihatannya juga mulai kabur. Meski begitu, bicaranya yang masih jelas dan terang.

Baca Juga:  Saingi Piala Dunia, Pemuda Muhammadiyah Gelar Pertandingan Futsal Selama Tiga Bulan

Di usaia 81 tahun, Pak Prapto tidak bisa mengikuti seluruh gerakan shalat. Setiap menjalankan rukun Islam yang kedua itu, ia hanya bisa duduk bersila. Pak Prapto selalu duduk yakni shaf pertama paling kanan. Di kalangan jamaah, posisi shaf terdepan paling kanan seolah menjadi ‘paten’ yang harus ditempati Pak Prapto.

“Saya harus di sini paling awal, karena keadaan saya yang seperti ini. Sudah dua tahun ini tidak bisa sujud. Saya kangen sujud, Nak,” ucap Pak Prapto saat ditemui PWMU.CO, Selasa (3/4/2018), selepas shalat Dhuhur.

Saban hari, kesibukan Pak Prapto lebih banyak dihabiskan di masjid. Bila shalat Ashar, ia selalu berada di masjid sampai selesai shalat Isyak. Begitu pun saat subuh, dia akan berangkat jam tiga dinihari untuk melaksanakan qiyamul lail di masjid yang jaraknya sekitar 100 meter dari rumahnya, yang biasa ditempuh sekitar 10 menit dengan berjalan kaki.

Baca Juga:  Ketika Para “Pejuang Kemerdekaan” Bermusyawarah di Sebuah Ranting Muhammadiyah Surabaya

Pak Prapto lalu menceritakan, kondisi fisiknya sekarang hingga tak bisa bersujud, disebabkan oleh penyakit jantung dan darah tinggi yang dideritanya. Buntut penyakitnya itu, ia harus menjalani perawatan medis di RSUD dr Iskak Tulungagung.

“Tiga tahun lalu, saya harus opname di RSUD. Setelah opname itu, saya tidak bisa bersujud lagi,” tutur Pak Prapto.

Sebelumnya, ketika masih sehat, Pak Prapto adalah imam Masjid Al Fattah. Bapak satu anak dan 3 cucu ini, juga aktif di PDM Tulungagung hingga dipercaya menjabat sekretaris. Pak Prapto melakoni profesi sebagai guru dengan status pegawai negeri sipil (PNS) hingga pensiun.

Kisah Pak Parto yang Mengaku Rindu Bersujud
Pak Prapto bersama penulis. foto:hendra/pwmu.co

Dari kondisi fisiknya ini, Pak Prapto selalu becermin tentang arti syukur. Seperti pesan  subuah hadist, manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara. Yakni, waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, hidupmu sebelum datang matimu.

Baca Juga:  Ketika Calon Walikota Disangka Tukang Masak

Makanya, ia sangat berharap kepada generasi muda tidak meninggalkan dan menunda-nunda shalat. Mumpung masih muda, rajinlah ke masjid. Nikmatilah bersujud. “Nikmatnya sujud tiada terkira. Kalau sudah seperti saya nanti baru merasakan nikmat sujud,” tutur Pak Prapto.

Selain itu, Pak Prapto berharap agar legalitas wakaf Masjid Al Fattah segera kelar. Pasalnya, sudah 40 tahun masjid yang berdiri di atas lahan seluas 43 x 14 meter persegi itu, belum jelas legalitas wakafnya.

“Ahli warisnya tidak di dalam kota dan sudah turunan ketiga, sehingga sulit melacak keberadaannya,” ungkap Ali Murtadi, salah serang pengurus PDM Tulungagung yang ditugasi menyelesaikan sertifikat wakaf.

“Semoga saja tidak sampai bulan puasa pengurusan sertifikat bisa rampung. Sehingga menjadi jelas kepemilikan Muhammadiyah,” imbuh Ali. (hendra)