Catatan Perjalanan Umrah Saad Ibrahim: Menangkap Gap yang Lebar Antarjamaah Indonesia

520
Pasang Iklan Murah
M Saad Ibrahim di Madinah. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Apa yang dirasakan oleh seseorang yang nyaris tidak mengenyam pendidikan, tanpa secuil pengalaman pun, tiba-tiba harus menuju bandara, naik pesawat, ke luar negeri, umrah, menginap di hotel, dan bertemu dengan berbagai ras, dengan berbagai budayanya?

Saya sendiri, sekalipun sudah berhasil menempuh pendidikan doktoral, tapi zero pengalaman. Tahun 2000: ke bandara, naik pesawat, penerbangan internasional, pergi haji atas undangan Gubernur Jawa Timur, mewakili Muhammadiyah yang ketika itu saya baru saja memangku amanah sebagai Ketua Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim.

iklan

Sedikit tertolong oleh latar belakang pendidikan tersebut, saya tidak terlalu “culun”-lah. Bahkan sedikit ngegaya, untuk menutupi ke-zero-an pengalaman.

Akan tetapi yang saya tulis ini, bukan tentang saya. Untuk etisnya tidak saya sebut namanya. Ketika di pesawat, ia bilang kepada orang yang duduk di sebelahnya: “Ini sabuknya ketinggalan!” Orang di sebelahnya ketika itu lagi berdiri. Tentu sabuk kursinya terlihat gletakan.

Ketika di Bandara Madinah orang keluar masuk melewati pintu kaca yang bisa terbuka dan tertutup sendiri, ia bertanya, “Mana ya yang membukakan dan menutupnya, kok tidak kelihatan?” salah satu pertanyaan lugunya.

Atau, “Untuk apa ya kok pakai masuk ruang kecil sebentar, lalu keluar lagi, baru ke kamar?” pertanyaan lainnya. Ia tidak paham dan tidak punya pengalaman menggunakan lift hotel.

Pertanyaan lainnya, “Kalau pulang nanti pesawat yang menjemput tadi itu ya, yang kita naiki?” Dan seterusnya, dan seterusnya.

M Saad Ibrahim bersama sebagian jamaah di Madinah. (Istimewa/PWMU.CO)

Inilah fakta yang kita hadapi dalam mengurus jamaah umrah melalui travel milik Muhammadiyah: PT Relasi Laksana Wisata. Ada yang kaya dengan pengalaman dan berpendidikan tinggi, tapi ada pula yang kondisinya sebaliknya.

Tentu kita mendapatkan pemahaman penting: ada gap (jarak) yang amat lebar! Dan semuanya harus dilayani, dilayani sesuai dengan dunianya sendiri-sendiri.

Bahkan bangun kultur untuk saling melayani, sebab: Allaahu fi ‘awnil ‘abdi maa kaanal ‘abdu fi ‘awni akhiih (Allah menolong hambaNya, selama hambaNya menolong sesama). (*)

Mekah, Kamis 12 April 2018
Dr M Saad Ibrahim MA, Ketua PWM Jatim periode 2015-2020