Kajian Ideopolitor: Bicara Politik hingga Tradisi Unggul

58
Hikmah Press
Uzlifatul Rusydiana/pwmu.co
Zainuddin maliki berbicara di Kajian Ideopolitor Mojokerto.

PWMU.CO-Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Mojokerto mengadakan kajian Ideologi, Politik, dan Organisasi (Ideopolitor) di Aula Balai Latihan Kerja (BLK) Pasinan Jabon Mojokerto, Sabtu (14/4/2018).

Acara dihadiri 130 peserta dengan mendatangkan tiga pembicara dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur  yaitu dosen UMSurabaya Prof Dr Zainuddin Maliki, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Suli Da’im MM, dan dosen UIN Sunan Ampel Dr H Biyanto MAg.

iklan

Zainuddin Maliki menyampaikan,  sejak awal didirikan, Muhammadiyah membatasi diri dari politik. Kebijakan itu diambil lantaran Muhammadiyah memilih mengembangkan bidang dakwah. Seluruh energi dan potensi bisa disalurkan untuk kegiatan dakwah melalui pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Baca Juga: Politik Itu Persoalan Lobi dan Komunikasi, Jangan Pandang Kotor atau Suci

Sementara Suli Da’im menceritakan pengalamannya saat terjun dalam dunia politik. Dia mengatakan, jika tak memiliki uang, gunakan kekuatan silaturahim. ”Jangan alergi terhadap politik. Lakukan apa yang menjadi bagian kita, dan Allah akan melakukan bagiannya,” ujarnya.

Dijelaskan, Muhammadiyah dan politik sudah diatur secara jelas dalam Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, dan lainnya. Semua itu berisi ketentuan normatif mengenai khitah Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah, dan amar makruf nahi munkar, yang bersifat nonpolitik.

“Namun, tak dapat dipungkiri, beberapa tokoh politik dan negarawan dilahirkan Muhammadiyah seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Kahar Muzakir, Muhammad Natsir, Muhammad Roem, Soekarno, Sudirman, Suharto, hingga Amien Rais. Hal itu menunjukkan sumbangsih Muhammadiyah terhadap bangsa dan negara sangatlah besar, sehingga tidak ada satu pun sejarawan yang berani menafikannya,” lanjut Suli Da’im.

Biyanto sebagai pembicara ketiga tidak menyinggung soal politik, melainkan lebih kepada internal persyarikatan. ”Sebagai seorang kader, sudah seharusnya kita menjaga tradisi-tradisi unggul Muhammadiyah,” ujarnya.

Tradisi itu, pertama,  Muhammadiyah tidak mengenal darah biru, perbedaan suku, dan latar belakang primordial lainnya. Kedua, tidak ada kultus, bahkan kepada kiai Dahlan sekalipun. Ketiga, disiplin waktu, termasuk dalam pergantian pimpinan.

Keempat, terpercaya dalam menjaga amanah umat. Kelima, tidak ada strict hierarchy dalam struktur organisasi. Meski ada jenjang kepemimpinan, tetapi itu sangat cair dan longgar. Keenam, sederhana, bersahaja, suka menabung, kerja sebagai panggilan,” tuturnya.

Di akhir kegiatan, Ketua PDM Kota Mojokerto Drs H Abdullathif Zaki MPd berpesan, kader Muhammadiyah Kota Mojokerto harus bisa menjadi penggerak bagi diri sendiri maupun warga di sekitarnya. ”Sudah saatnya kita memberikan ruang kepada para kader untuk berekspresi dan menunjukkan eksistensinya. Jangan hanya menjadi muallaf politik, tapi jadilah political kaffah,” pungkasnya. (Uzlifatul Rusydiana)