Syawal adalah Bulan Triple Refreshing, Inilah Penjelasannya Menurut Abdul Mu’ti

114
Hikmah Press
Sunarsih/pwmu.co
Abdul Mu’thi berceramah di acara Syawalan guru dan karyawan SD/MI Muhammadiyah se-Sidoarjo.

PWMU.CO– Syawal adalah bulan triple refreshing atau tiga penyegaran menjaga ketakwaan yang diperoleh saat berpuasa Ramadhan.

Hal itu dilontarkan Sekretaris PP Muhammadiyah Dr Abdul Mu’ti ketika berceramah di Acara Syawalan guru dan karyawan SD/MI Muhammadiyah se-Sidoarjo yang diadakan di MIM 2 Kedungbanteng Tanggulangin, Kamis (12/7/2018).

iklan

Apa saja triple refreshing itu? Abdul Mu’ti menjelaskan, pertama, spiritual refreshing.  Puasa bertujuan membentuk pribadi bertakwa. Takwa adalah proses becoming atau pembentukan perilaku yang akhirnya menjadi being atau karakter.

”Maka di bulan Syawal dan setelahnya diharapkan perilaku dan karakter selama Ramadhan tetap dijaga agar selalu fresh,” kata dia memaparkan.

Kedua, social refreshing. Kebahagiaan bisa didapat hanya dengan berinteraksi dengan orang lain dan memelihara hubungan baik dengan cara saling memaafkan. Menurut Mu’ti, tradisi mudik menjadi sebuah fenomena unik dan hanya satu-satunya yang ada di Indonesia.

Baca Juga:  UM Surabaya Geliatkan Penguasaan Bahasa Inggris

”Maka social refreshing bisa dilakukan dengan menjadi pribadi pemaaf, selalu berpikir positif terhadap orang lain serta selalu membangun relasi sosial yang baik. Dan jadilah orang yang rendah hati,” tuturnya.

Ketiga,  intelektual refreshing. Refreshing ini dilakukan dengan cara open mind. Kita hendaknya melakukan proses berpikir dengan hati. Lakukanlah perubahan untuk perbaikan.  Bagi para pendidik lakukan pembelajaran yang menyenangkan sehingga murid-murid mendapatkan kebahagiaan dari apa yang dipelajari. ”Bukan sekadar melucu agar belajarnya menyenangkan,” tandasnya.

Acara Syawalan ini dihadiri oleh 633 guru dan karyawan SD/MI Muhammadiyah se-Sidoarjo, pengurus dan kader PCM Tanggulangin, PDM Sidoarjo, PWM Jawa Timur, serta calon DPD RI Nadjib Hamid. (Sunarsih)

Baca Juga:  Tipe-Tipe Warga Muhammadiyah versi Abdul Mu’ti