Dalam Kultur Patriarki, Perempuan Berpolitik Dianggap Hanya Pekerjaan Sampingan

40
Hikmah Press
Nana/pwmu.co
Kader Nasyiah Banyuwangi yang mengikuti kegiatan politik kebangsaan.

PWMU.CO-Dunia politik identik dengan dunia kepemimpinan. Saat perempuan berada dalam posisi pemimpin, ada banyak hambatan daripada laki-laki.

Hal itu disampaikan Komisioner KPU Banyuwangi Dwi Anggraini Rahman ketika mengisi Kegiatan Politik Kebangsaan di Aula Untag Banyuwangi, kamis (6/12/2018). Tema diskusi tentang peningkatan pemahaman berpolitik bagi pemilih perempuan.

iklan

Hambatan-hambatan perempuan dalam politik, sambung Dwi Anggraini, seperti perempuan yang berpolitik dianggap hanya mengerjakan pekerjaan sampingan. ”Terutama kultur masyarakat Indonesia yang cenderung patriarki,” tuturnya.

Partisipasi setiap warga negara dalam pemilu, kata dia menegaskan, merupakan hak asasi yang harus dijunjung tinggi. ”Tak terkecuali kaum perempuan maupun penyandang disabilitas,” tandasnya.

Acara ini dihadiri Kepala Bakesbangpol Wiyono MH,  Kepala Bappenas Untag Sugiantoyo, Ketua PDA Deritaningtyas, Ketua PDNA Diah Eko Herliani, dan organisasi perempuan se-Kabupaten Banyuwangi.

Di akhir acara Deritaningtyas menyampaikan, perlu sosialisasi teknis Pemilu seperti simulasi cara pemilihan agar masyarakat tidak kesulitan waktu pemilu nanti. (Nana)