Beginilah Reaksi Siswa ketika Melihat Kehidupan Kampung Nelayan Kenjeran

79
Pasang Iklan Murah
Mitha/pwmu.co
Siswa SDM 18 Mulyorejo melihat pengolhan terung di kampung nelayan Sukolilo.

PWMU.CO-Sebanyak 93 siswa kelas 4 SD Muhammadiyah 18 Mulyorejo Surabaya mengadakan Pembelajaran Luar Kelas (PLK), Kamis (14/2/2019). Tempat yang dikunjungi kawasan pantai Kenjeran. Di sini mereka melintasi Jembatan Surabaya yang memanjang di atas pantai.

Jembatan ini merupakan jalan pintas dari kampung Sukolilo menuju Taman Hiburan Pantai Kenjeran jika jalan biasa macet. Di tengah jembatan disediakan panging untuk melihat matahari terbit.

iklan

Usai dari jembatan, kemudian masuk ke kampung nelayan Sukolilo melihat pembuat kerajinan suvenir kerang dan pengolahan kerupuk terung. Wisata kampung ini membayar Rp 25 ribu per anak. Lokasinya dekat  SD Bahari Muhammadiyah 9 Surabaya.

Mereka dikenalkan dengan aktivitas masyarakat nelayan yang tinggal di pantai. Salah satunya mencari ikan hingga ke Pulau Madura. Hasil tangkapan ikan dijual ke tengkulak atau langsung ke pasar.

Tak terasa capai juga berkeliling kampung. ”Capek dan haus. Tapi sangat menyenangkan. Kami berfoto bersama di sini,” ujar Dzakky Adi Pramono Saptomo sambil meneguk sebotol minuman dingin.

Para siswa diajari membuat suvenir berupa bros dari kerang. Anisa Zaskia Almavira mengatakan, bahan bros dari kerang mudah didapatkan. Tinggal dirangkai dengan lem, diberi peniti jadilah bros yang unik. Saat membuat bros, siswa berlomba siapa karya yang paling bagus.

Ketua pelaksana AIda Fitriyati SPd menyampaikan, dengan kegiatanini siswa diharapkan bisa memanfaatkan barang agar bernilai tinggi. ”Contoh kulit kerang ini limbah bisa diubah menjadi  kerajinan tangan yang unik serta bernilai tinggi,” tuturnya.

Kunjungan berikutnya, mengunjungi rumah nelayan yang mengolah ikan terung menjadi kerupuk. Anak-anak  diajari cara membelah terung ukuran besar. Lalu mengeluarkan bagian dalamnya. Sayangnya, cuaca mendung sehingga tidak bisa melihat penjemuran. Proses penggorengan juga sudah dilakukan. Anak-anak tinggal menikmati kerupuk terung yang sudah digoreng.

”Meskipun kampung nelayan bau anyir ikan dan becek, siswa antusias dan semangat. Mereka malah asyik ikut membelah terung dan mengeluarkan isinya tanpa canggung,” ceritanya. (Mitha)