Otokritik JK pada Umat Islam saat Tutup Tanwir Muhammadiyah

844
Pasang Iklan Murah
Wapres Jusuf Kalla meninggalkan arena penutupan. (MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menutup Tanwir Muhammadiyah di Gedung Balai Raya Semarak Bengkulu, Ahad (17/2/19).

Dalam amanahnya, JK menyampaikan otokritik kepada umat Islam, baik yang ada di Indonesia maupun di luar negeri. “Agama kita telah menjadi bagian dari pada sesuatu hal yang banyak menurunkan kebaikan. Tapi juga tentu pengaruh agama banyak juga terjadi masalah-masalah yang besar,” ujarnya.

Menurut JK dari 55 negara yang berpenduduk mayoritas Islam di dunia, 15 negara terjadi konflik satu sama lain. “Kalau dahulu konflik untuk kemerdekaan, melawan Inggris, Belanda, dan sebagaianya. Tapi sekarang konfliknya antasesama umat,” ujar JK dengan intonasi sedih.

JK memberi contoh konflik di Syiria antara pemerintah dengan rakyatnya, Saudi Arabia dengan Yaman, Afghanistan dengan Afghanistan, Libya dengan rakyatnya, Nigeria antara pemerintah dengan rakyatnya, atau Iran dan Irak pada beberapa tahuan silam.

JK bersyukur hal-hal seperti itu di Indonesia telah banyak berkurang. “Saya tidak katakan habis karena di beberapa tempat masih terjadi seperti di Papua,” ujarnya.

Selain soal konflik di negara Islam JK juga prihatin karena umat Islam masih lemah dalam menerapkan tata nilai Islam—yang itu justru telah dipaktikkan oleh negara-negara di non-Islam seperti soal kejujuran, kebersihan, kedisiplinan, ketertiban.

JK merujuk hasil penelitian Prof Scheherazdes S Rehman dan Prof Hosen Askari dari George Washington University beberapa tahun yang lalu. Dalam penelitian itu, kata JK, nilai-nilai Islam—bukan ibadah atau akidah—jutsru dipraktikkan oleh negara-negara seperti New Zealand, Norwegia, Swedia, atau Jepang

JK prihatin, karena negara-negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Malaysia, Arab Saudi, atau Indonesia, justru kalah jauh peringkatnya dengan negara-negara di atas.

“Indonesia jauh berada di belakang. Negara yang penduduk Islam yang terdekat, yang terbaik, menurut ukuran itu Malaysia nomor 33. Saudi Arabia nomor 44 walaupun dia memberlakukan hukum Islam yang keras. Indonesia nomor 140, Jauh sekali,” ungkapnya.

Kenapa semua itu bisa terjadi. Menurut JK, umat Islam itu sudah luar biasa dalam akidah dan ibadahnya. “Masjid-masjid (di Indonesia) yang jumlahnya hampir sejuta itu penuh,” ucap JK. “Habluminallah kuat. Ibadah kuat, akidah kuat. Yang melemah adalah hubungan antarmanusia.

“Karena itu kita butuh pencerahan,” ujar JK. Dan tema Tanwir Muhammadiyah Beragama yang Mencerahkan, menurutnya, sangat relevan. (MN)