Ketua PCIM Pakistan Ini Melamar Gadis Lewat Video

499
Pasang Iklan Murah
Ibunya Hafizh, kiri, memasang cincin ke jari Nuha Nabilla.

PWMU.CO-Acara khitbah atau pinangan Hafizh El Hudzaifie yang tinggal di Bukit Kismadani, Blurukidul Sidoarjo ini lain dari kelaziman. Kehadirannya diwakili sebuah video yang direkam dari Pakistan, tempat dia menempuh kuliah S2.

Video itu dibawa oleh utusan keluarganya saat datang meminang Nuha Nabilla di rumahnya kompleks sekolah El Haq Buduran Sidoarjo, Ahad (24/2/2019). Video ditayangkan di kediaman Nuha Nabilla disaksikan oleh kedua keluarga.

Hafizh aktivis IMM Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Kini belajar di Universitas Islamabad sudah mengenal Nuha. Bahkan di kota itu dia menjadi ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Pakistan.

Dalam video itu ia menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga karena tidak hadir di acara lamaran ini karena jadwal kuliah padat. Dia menyerahkan khitbah kepada ayahnya Dawud Ismail.

Proses khitbah berlangsung lancar. Apalagi kedua kedua keluarga sudah saling mengenal. Ayah Nuha Ustadz Ainur Rofiq menyampaikan, menerima pinangan Hafizh. Dalam acara itu ibu Hafizh memasangkan cincin ke jari Nuha.

”Saya menerima pinangan khitbah ini dengan kedua tangan sepuluh jari bahkan 15 jari. Artinya sangat menerima karena melihat Hafizh dan Nuha memiliki kesamaan yaitu sama-sama penghafal Alquran,” katanya.

Dia mendoakan semoga studi Hafizh di Pakistan segera selesai sehingga dapat segera melangsungkan pernikahan.

 Ayah Hafizh, Dawud Ismail menyatakan rasa syukurnya karena khitbah berjalan lancar walaupun tanpa kehadiran anaknya. ”Semoga ini menjadi semangat khusus bagi Hafizh segera menyelesaikan kuliah,” tuturnya.

Dihubungi terpisah Nuha mengatakan, semula sempat ragu setelah mendengar kabar Hafizh batal pulang untuk melamarnya. Bahkan ibunya juga sempat khawatir. ”Tapi perasaan ragu itu seketika berubah menjadi keyakinan setelah keluarga besar datang untuk mengkhitbah,” ujarnya. (Mauludy)

Nuha Nabilla bersama orangtua Hafizh, kiri, dan orangtuanya.