Enam Siswa Thailand Ini Tinggalkan Kesan Indah di Smamda Sidoarjo

784
Pasang Iklan Murah
Enam siswa Thailand diapit guru pendamping. (Athallah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Enam peserta Indonesia-Thailand Student and Teacher Exchange Program 2019 yang berada di SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Sidoarjo sejak 7 April 2019 kembali ke negara asalnya, Senin (22/4/19), pukul 03.00 WIB.

Waka Humas Smamda Sidoarjo Ira Chusnul menyampaikan hal itu kepada PWMU.CO, Sabtu (20/4/19). Enam peserta tersebut adalah Mongkol Wongdang (Joey), Maneekan Kosawas (Muay), Dungrathai Supom (Ked), Watchaporn Sapsri (Ja), Phuwanat Suekhiaw (Gimme), dan Siwalak Damrak (Ram). Mereka siswa Kunramwittaya School Thailand.

Ira mengatakan, di Smamda enam siswa itu belajar budaya dan bahasa. “Tidak hanya itu, sebelumnya mereka juga sudah belajar di SMAN 10 Malang 26 Maret-6 April 2019,” ujarnya.

Program ini, sambungnya, merupakan tindak lanjut dari MoU alias nota kesepahaman yang diteken pada 10 April 2019 antara Smamda Sidoarjo, SMAN 10 Malang, dan SMKN 9 Malang dengan Lopbury College of Agriculture and Technology dan Petchabun College of Agriculture and Technology Thailand. “Lalu berlanjut MoU dengan Kunramwittaya School Thailand,” terangnya.

Ria menjelaskan, pada MoU kedua ikut bergabung SMAN 1 Lamongan, SMAN 20 Surabaya, dan SMA Al Islamiyah Tanggulangin pada Selasa (26/3/19).

Selain enam siswa, ada tujuh guru Thailand yang mengunjungi Smamda. Yaitu Kanyalak Thongngam, Attachal Wannapak, Roengchai Noikaew, Pornmongkhan Hongsrithong, Nuchanath Yodsurin, Praneerat Bunpanya, dan Pensiri Kaalkaew. “Mereka pada tanggal 26-29 Maret 2019 di SMAN 10 Malang dan Smamda Sidoarjo,” terang Ira.

Seperti siswa Smamda lainnya, mereka mengikuti pembelajaran di kelas. Sementara belajar budaya lebih ke ukir gips dan kaleng yang dibina oleh Purwita MPd. Sedangkan pembelajaran bahasa, berfokus pada berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan Indonesia dengan pembina Pratiwi SPd—guru mapel Bahasa Inggris—dan Khusnul Isa MPd—guru mapel bahasa Indonesia.

“Untuk bahasa Jepang, Sensei Naily (panggilan guru Bahasa Jepang Naily Zahrotul Fitriyani SPd) mengajari pembuatan bento, makanan khas Jepang,” terang Ria.

Gimme sedang mengukir kaleng (Purwita/PWMU.CO)

Selama belajar di Smamda, mereka tinggal di asrama sekolah sehingga bisa berbaur dengan penghuni asrama lainnya. Di kelas, komunikasi mereka juga lancar, seperti diakui Saidah Basham, Sekretaris Pimpinan Ranting IPM Smamda. “Kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan Indonesia. Mereka cukup paham, tapi memang harus ditambah dengan bahasa isyarat,” tuturnya pada PWMU.CO.

Meski hanya berlangsung 15 hari, keakraban enam siswa Thailand dengan teman-temannya di Smamda terjalin dengan baik. Terbukti ketika berlangsung acara perpisahan, Kamis (18/4/19), suasana sedih menyelimuti mereka.

Dalam pesan dan kesannya, para siswa Thailand itu merasa senang belajar di Smamda. Selain mengucapkan terima kasih, mereka juga berharap agar siswa dan guru Smamda dapat berkunjung ke sekolah mereka.

Seperti yang dikatakan Gimme, “We want to thank you and the teachers for teaching us in Smamda these 2 weeks. Smamda is a very welcoming place, the people are kind and caring. We like it’s very delicious and we will miss those foods soto ayam and sate ayam. We want you to come to Thailand and see you again.”

Dia mengucapkan terima kasih kepada teman-teman Smamda dan para guru yang sudah memberi pengalaman dan pembelajaran selama dua pekan. “Smamda adalah sekolah yang sangat ramah, hangat, teman-teman baik dan peduli. Kami suka masakan Indonesia, soto ayam dan sate ayam, enak sekali. Kami akan merindukan kalian, semua dan masakan khas Indonesia. Kami ingin kalian semua datang ke Thailand dan kita bisa berjumpa,” ungkapnya.

Harapan itu diperkuat oleh Ira. Dia memotivasi siswanya untuk mendaftarkan diri sebagai peserta Indonesia-Thailand Student and Teacher Exchange Program 2019 yang dibuka pada Juli 2019. (Siti Agustini)


iklan