Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia kembali mengenang peristiwa Sumpah Pemuda. Upacara bendera, diskusi kebangsaan, hingga berbagai kegiatan kepemudaan diselenggarakan untuk menghidupkan semangat persatuan yang lahir pada 1928.
Namun, setelah 98 tahun berlalu, muncul pertanyaan yang patut direnungkan. Apakah semangat perjuangan itu masih hidup dalam diri generasi muda, atau perlahan tergeser oleh kepentingan pribadi.
Pertanyaan tersebut relevan ketika kehidupan pemuda semakin dihadapkan pada berbagai tuntutan. Prestasi akademik, sertifikat, jabatan organisasi, hingga peluang karier menjadi sesuatu yang terus dikejar.
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berhasil. Namun, persoalan muncul ketika setiap tindakan hanya diukur berdasarkan keuntungan yang akan diperoleh.
Ketika Idealisme Berhadapan dengan Pragmatisme
Dalam kehidupan pelajar dan mahasiswa, kita mungkin pernah mendengar pertanyaan, “Untuk apa mengikuti organisasi jika tidak mendapatkan sertifikat?” atau “Mengapa harus terlibat dalam kegiatan sosial jika tidak memberikan keuntungan?”
Pertanyaan tersebut mencerminkan kecenderungan pragmatis, yakni ketika manfaat langsung menjadi pertimbangan utama dalam menentukan tindakan.
Pragmatisme tentu tidak selalu buruk. Setiap orang perlu mempertimbangkan masa depannya. Namun, ketika seluruh keputusan hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, nilai kepedulian sosial berisiko terabaikan.
Padahal, sejarah Sumpah Pemuda mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Para pemuda pada 1928 berasal dari berbagai organisasi, daerah, dan latar belakang. Mereka memiliki kepentingan masing-masing, tetapi mampu menemukan tujuan bersama yang lebih besar, yakni persatuan Indonesia.
Semangat tersebut menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan keberanian untuk melampaui kepentingan pribadi maupun kelompok.
Pelajar sebagai Bagian dari Gerakan Perubahan
Pembicaraan tentang pemuda sering kali lebih banyak diarahkan kepada mahasiswa atau generasi muda yang telah memasuki dunia kerja.
Padahal, pelajar juga merupakan bagian penting dari pemuda Indonesia.
Di lingkungan Muhammadiyah, pelajar memiliki ruang untuk mengembangkan karakter dan kepemimpinan melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).
Organisasi pelajar seharusnya tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengalaman, jabatan, atau sertifikat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama.
Pelajar yang berani menolak perundungan, membantu teman yang kesulitan, menjaga kejujuran, serta menghargai perbedaan sesungguhnya sedang mempraktikkan nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat tersebut sejalan dengan pendidikan Muhammadiyah yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak dan kebermanfaatan sosial.
Dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 104, Allah menyerukan agar ada segolongan umat yang mengajak kepada kebaikan, menyerukan yang makruf, dan mencegah kemungkaran.
Pesan ini mengingatkan bahwa seorang Muslim memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan, bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat.
Menjadi Pemuda Berkemajuan
Pemuda hari ini tentu menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi 1928.
Persaingan pendidikan, perkembangan teknologi, dan ketidakpastian masa depan membuat anak muda harus berpikir realistis.
Pelajar boleh mengejar prestasi. Mahasiswa boleh mempersiapkan karier. Pemuda juga berhak memperjuangkan kesejahteraan hidupnya.
Namun, menjadi realistis bukan berarti harus kehilangan idealisme.
Dalam semangat Islam berkemajuan, ilmu pengetahuan dan keberhasilan pribadi seharusnya menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Prestasi tidak hanya menjadi kebanggaan individu, tetapi juga dapat menjadi bekal untuk membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.
Begitu pula organisasi, yang semestinya tidak hanya melahirkan pemimpin yang pandai berbicara, tetapi juga pribadi yang memiliki kepekaan sosial.
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 menjadi kesempatan untuk meneguhkan kembali semangat tersebut.
Bangsa ini membutuhkan generasi yang cerdas, terampil, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun, kecerdasan tanpa kepedulian belum cukup untuk membawa perubahan.
Jika pemuda pada 1928 mampu mengesampingkan perbedaan demi persatuan bangsa, sudah seharusnya pemuda hari ini mampu menyeimbangkan kepentingan pribadi dengan tanggung jawab sosial.
Sebab, menjadi pemuda berkemajuan bukan hanya tentang seberapa jauh kita mampu melangkah menuju kesuksesan, tetapi juga seberapa besar manfaat yang kita hadirkan bagi orang lain. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments