Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Abdul Wachid Syahid: Guru Pelopor Berdirinya PRM dan Shalat Idul Fitri di Lapangan

Iklan Landscape Smamda
pwmu.co -
Abdul Wachid Syahid bersama keluarga. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Abdul Wachid Syahid SPd lahir di Desa Tritunggal Babat Lamongan pada tanggal 22 Desember 1947. Ia anak kedua dari pasangan Kiai Syahid dan Masri’ah, Memiliki tiga saudara yaitu Basyir, Bisri, dan Achmad Faqih.

Pendidikan yang ditempuh dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) Tritunggal, SMP Negeri 1 Lamongan, Kursus Pendidikan Guru (KPG) di Surabaya. Kemudian menempuh Pendidikan Tinggi di Universitas Kediri.

Pada tahun 1973, Abdul Wachid Syahid menikah dengan Suparti, guru Sekolah Dasar dari Nganjuk, anak pasangan Nyaman Partodiwirjo dan Painem dikaruniai tiga anak Helmi Arief Mahyuddin, Shalahuddin Ghozali, dan Yoni Fahamsyah (alm, 1996).

Abdul Wachid Syahid mengajar di SMP Muhammadiyah Pucuk sejak lulus dari KPG Surabaya. Di samping itu juga ia pernah mengajar di SD Negeri Tritunggal 1 Babat, SD Negeri Kebonagung, SD Negeri Gembong, SD Negeri Patihan, SD Negeri Tritunggal 2, dan SMP PGRI Babat.

Di persyarikatan, Abdul Wachid Syahid merupakan penggagas berdirinya PRM Tritunggal. Ia kemudian mendapat amanah sebagai Ketua PRM Tritunggal periode 1990-1995 yang pertama kalinya berdasarkan SK PDM Lamongan nomor A-2/SKR/016/9195 tanggal 13 Dzulhijah 1412 H/14 Juni 1992.

Selanjutnya pada periode 1995-2000 semasa kepemimpinan HA Zaenuri sebagai ketua Lembaga Kebudayaan di PCM Babat.

Abdul Wachid Syahid. (Istimewa/PWMU.CO)

Wachid Syahid juga menjadi anggota Lembaga Seni Budaya PDM Lamongan periode 1995-2000 semasa kepemimpinan KH Abdul Fatahdan, Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya PDM Lamongan periode 2000-2005, semasa kepemimpinan KH Afnan Anshori

Abdul Wachid Syahid wafat pada tanggal 16 Desember 2009 dalam usia 62 tahun karena sakit. Jenazahnya dishalatkan di Masjid Asy Syahid, dan dimakamkan di kuburan Tritunggal dekat rumahnya.

Helmi Arief Mahyuddin, anak pertama Abdul Wachid Syahid mengungkapkan bahwa ayahnya yang senantiasa ‘care a lot’ kepada anak-anaknya, senantiasa mendorong mereka untuk berpacu meningkatkan kualitas diri dengan ilmu dan keyakinan kepada Yang Maha Kuasa.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Senantiasa mengawal pendidikan anak-anaknya dari TK sampai dengan SMA, dan mengajari mereka dengan ilmu agama dan mendatangkan guru-guru ngaji.

Sekretaris LSBO PDM Lamongan ini menjelaskan figur Abdul Wachid Syahid tak kenal lelah memperjuangkan nilai yang diyakini baik dan benar.

Beliau juga memprakarsai dan mendirikan Musala Muhammadiyah pada tahun 1980 di atas tanah bekas masjid Jami’ Dusun. Mengupayakan dakwah Persyarikatan dengan memperkenalkan ideologi yang lebih modern, dan mencerahkan melalui pengajian dan dakwah kultural lainnya (melalui olahraga dan seni).

Ditambahkan aktivis IPM di era 1990-an ini kalau ayahnya berani berbeda di tengah-tengah masyarakat yang mempunyai keyakinan seragam.

Sebagai anak kandung dari kiai tradisional di kampung, Wachid muda berani berbeda dengan tata cara peribadatan umum saat itu. Saat masjid Jami menyelenggarakan gerakan shalat Tarawih dengan 23 rakaat, Wachid berijtihad menyelenggarakan shalat Tarawih sendiri bersama keluarga dan pengikut kecilnya dengan 11 rakaat.

“Beliau juga memelopori penyelenggarakan shalat Idul Fitri di tanah lapang saat sebelumnya senantiasa shalat Idul Fitri di masjid,” tegas Sekretaris Desa Tritunggal ini.(*)

Penulis Fathurrahim Syuhadi Editor Zahrah Khairani Karim

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu