Ahad (1/11/2026) menjadi hari yang penuh kebahagiaan sekaligus haru bagi keluarga Zainul Arifin dan Anik Andriyati.
Putra pertama mereka, Adie Cahya Ramadhan, resmi diwisuda dalam prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) di Dyandra Convention Hall, Surabaya.
Bagi keluarga sederhana ini, momen wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan. Hari itu menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi dan mewujudkan cita-cita.
Adie Cahya Ramadhan lahir di Gresik pada 12 Desember 2002. Ia merupakan putra pertama dari pasangan Zainul Arifin dan Anik Andriyati.
Ekonomi Terbatas Tak Jadi Alasan
Adie berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi pada Program Studi Hukum Keluarga Islam, Universitas Muhammadiyah Surabaya, melalui jalur beasiswa. Begitu juga adiknya juga masih proses kuliah semester 3 di almamater yang sama.
Perjalanan Adie hingga mencapai titik ini bukanlah perkara mudah. Ia tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana.
Sang ayah, Zainul Arifin, bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara ibunya, Anik Andriyati, bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT).
Dengan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, kesempatan untuk mengenyam pendidikan tinggi tentu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Beruntung, Adie mendapatkan beasiswa sehingga dapat melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan.
Namun, beasiswa tidak serta-merta membuat seluruh perjuangannya selesai. Selama menjalani masa perkuliahan, Adie juga bekerja paruh waktu atau part time untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ia berusaha menjadi pribadi yang mandiri dan tidak ingin terlalu membebani kedua orang tuanya.
Kerja keras, ketekunan, serta kemauan untuk terus belajar akhirnya mengantarkan Adie menyelesaikan studinya tepat waktu.
Kebahagiaan terpancar dari wajah sang ayah, Zainul Arifin, saat ditemui di sela-sela menghadiri prosesi wisuda putranya. Baginya, keberhasilan Adie merupakan anugerah dan kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Arifin mengaku sangat bersyukur karena putra pertamanya mampu menyelesaikan pendidikan tinggi meskipun berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
“Kami sebagai orang tua hanya bisa memberikan dukungan moril dan doa. Karena keterbatasan ekonomi, kami tidak bisa banyak membantu dari sisi materi” terangnya.
“Alhamdulillah, Adie bisa kuliah dengan beasiswa dan juga bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, sehingga beban kami sebagai orang tua tidak terlalu berat” ungkap Arifin.
Orang Tua Kopral, Anak Jenderal
Ia juga mengaku bangga karena Adie tidak hanya mampu menyelesaikan kuliah tepat waktu. Tetapi juga menunjukkan sikap mandiri dan tanggung jawab selama menjalani proses pendidikan dan ikut kegiatan Ortom Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di Umsura.
Bagi Arifin dan Anik, keberhasilan anak merupakan kebahagiaan tersendiri. Mereka tidak pernah menuntut anaknya untuk membalas segala pengorbanan yang telah diberikan.
Harapan terbesar mereka hanyalah agar anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik dibandingkan orang tuanya.
“Semoga ilmu yang didapat Adie bisa bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa. Biarkan kami tetap seperti ini, yang penting anak-anak kami bisa menjadi lebih baik daripada kami” tutur Arifin penuh haru.
Ia kemudian mengungkapkan sebuah ungkapan Jawa yang menggambarkan harapan sederhana sekaligus besar dari setiap orang tua kepada anak-anaknya.
“Orang tua boleh kopral, yang penting anaknya jenderal” tegasnya mantap.
Ungkapan tersebut seolah menjadi gambaran perjalanan keluarga Arifin. Meski orang tua memiliki keterbatasan dalam pendidikan maupun ekonomi, mereka tetap ingin memberikan kesempatan terbaik bagi anak-anaknya untuk meraih masa depan yang lebih cerah.
Wisuda Adie Cahya Ramadhan hari ini menjadi bukti bahwa perjuangan tidak selalu harus dimulai dari keluarga berada. Dengan kesempatan, kerja keras, kemandirian, doa, dan dukungan orang tua, impian untuk meraih pendidikan tinggi tetap bisa diwujudkan.
Di balik toga yang dikenakan Adie, tersimpan cerita tentang seorang ayah yang bekerja serabutan, seorang ibu yang bekerja sebagai PRT, serta seorang anak yang memilih berjuang dan bekerja keras demi masa depannya.
Hari ini, senyum bahagia keluarga kecil itu menjadi saksi bahwa segala keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Sebab, bagi orang tua, tidak ada kebanggaan yang lebih besar selain melihat anak-anaknya tumbuh, mandiri, dan memiliki kehidupan yang lebih baik daripada mereka.






0 Tanggapan
Empty Comments