Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Air Mata Perpisahan Yuya Sato, Smamita Sudah Seperti Keluarga

Iklan Landscape Smamda
Air Mata Perpisahan Yuya Sato, Smamita Sudah Seperti Keluarga
Yuya Sato guru tamu asal Jepang berpamitan meninggalkan keluarga besar SMA Muhammadiyah 1 Taman. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Air mata mengiringi langkah terakhir Yuya Sato meninggalkan keluarga besar SMA Muhammadiyah 1 Taman (Smamita). Setelah sekitar satu setengah bulan hadir sebagai AIESEC Guest Teacher, guru tamu asal Jepang itu harus mengakhiri kebersamaannya dengan siswa dan guru Smamita, Rabu (30/9/2026).

Perpisahan tersebut bukan sekadar momen antara guru tamu dan sekolah. Suasana haru terasa seperti melepas salah satu anggota keluarga yang selama beberapa pekan hadir dalam keseharian warga Smamita.

Selama berada di Smamita, Yuya tidak hanya memperkenalkan budaya dan pengalaman hidup di Jepang. Ia juga berinteraksi langsung dengan siswa, mengikuti berbagai aktivitas sekolah, serta berbagi cerita dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Kedekatan itu membuat hari perpisahan menjadi momen yang tidak mudah.

Koordinator Muhammadiyah International Class Orientation (M-ICO) Amilia Mahmuda, M.Pd., bersama staf Humas Smamita Muhammad Nashiiruddin Addaa’i, M.Pd., Satrio Wicaksono, dan perwakilan AIESEC mengantarkan Yuya hingga Terminal 1 Bandara.

Sesaat sebelum berpisah, suasana berubah haru. Yuya yang selama ini dikenal ramah dan mudah berbaur dengan siswa terlihat berusaha menahan kesedihan. Namun, air mata akhirnya jatuh ketika ia mengucapkan salam perpisahan.

“Seperti yang kalian semua katakan, rasanya di Smamita seperti keluarga. Semua orang baik kepadaku dan menerimaku, dan aku sangat menikmati tinggal di sini,” ungkap Yuya dengan suara penuh haru.

Membawa Pulang Cerita tentang Indonesia

Bagi Yuya, satu setengah bulan di Indonesia bukan sekadar bagian dari program AIESEC. Pengalaman tersebut menjadi perjalanan yang mempertemukannya dengan banyak orang, budaya, makanan, kebiasaan, dan nilai-nilai persahabatan.

Interaksi bersama siswa dan guru Smamita membuat Yuya semakin mengenal Indonesia. Jika sebelumnya Indonesia mungkin hanya dikenal melalui cerita dan informasi, selama berada di Smamita ia merasakannya secara langsung melalui keramahan orang-orang yang ditemuinya.

Pengalaman itu pula yang membuat kecintaannya terhadap Indonesia semakin tumbuh.

SMPM 5 Pucang SBY

Bagi Yuya, Smamita akhirnya bukan hanya sekolah tempat menjalankan program sebagai guru tamu. Smamita menjadi ruang untuk belajar, berbagi, berteman, dan menciptakan kenangan yang akan dibawanya pulang ke Jepang.

Di tengah suasana haru, Yuya menyampaikan satu harapan sederhana.

“Kuharap aku bisa kembali suatu hari nanti.”

Kalimat singkat itu terasa mendalam. Sebab, ketika sebuah tempat telah terasa seperti rumah dan orang-orang di dalamnya telah dianggap sebagai keluarga, meninggalkannya tentu bukan perkara mudah.

Kini Yuya telah melanjutkan perjalanan pulang ke Jepang. Namun, kepergiannya bukan berarti berakhirnya sebuah kisah.

Ia membawa pulang cerita tentang Indonesia, pengalaman bersama siswa dan guru, serta kenangan tentang Smamita. Sebaliknya, keluarga besar Smamita menyimpan cerita tentang seorang guru tamu dari Jepang yang datang sebagai bagian dari sebuah program, tetapi pulang dengan tempat tersendiri di hati.

Dari Jepang ia datang sebagai guru tamu. Dari Smamita ia pulang membawa kenangan dan keluarga. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 02/10/2026 18:43
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu