
PWMU.CO – Lembaga Budaya Seni dan Olahraga (LBSO) Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surabaya semalam telah menggelar Rembug Budaya mengambil tema “Budaya Works Life Balance dari Prespektif Perempuan” dengan narasumber Kyai Cepu selaku Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Demikian disampaikan Ning Fitri selaku Ketua LBSO PDA Surabaya pada hari Ahad (28/6/2025) di Gedung Melenium Building SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya.
Lanjut beliau, beratnya pemenuhan kebutuhan hidup keluarga saat ini begitu kuat terasakan guna memenuhi kesejahteraan, maka melalui Rembug Budaya ini kita ingin bagaimana mewujudkan keseimbangan kerja, ada kemandirian, kesejahteraan dan kebahagiaan.
Alifah Hikmahwati selaku Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Surabaya dalam sambutannya menyampaikan, syukur Alhamdulillah ditengah kesibukan bersama keluarga di rumah masih mampu menghadiri Rembug Budaya ini meski dilaksanakan malam hari tidak mengurangi para peserta LBSO Pimpinan Cabang Aisyiyah se-Kota Surabaya, untuk lebih mendalami posisi perempuan untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warohmah.
Lanjut beliau, tema rembug budaya ini sangat relevan dimana posisi perempuan yang juga aktif di Aisyiyah mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan kerja untuk kesejahteraan keluarga dan tuntutan organisasi untuk dakwah Islam yang mencerahkan.
Potensi Perempuan
Kyai Cepu sebagai narasumber dalam pemaparan materinya membuat peserta terpukau mendengarkan penuh khidmat dan sesekali ada tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi akan kepiawaiannya
Kyai Cepu mengawali materinya dengan memberikan kisah nyata, ada seorang wanita sudah sarjana dan menikah dengan pengusaha sukses bertabur harta penuh bahagia bersama anak dan keluarganya. Namun dalam perjalanan dinamika keluarga dia bercerai dengan suaminya karena tidak ingin dimadu. Pilihan ini begitu berat yang semula sudah hidup berkecukupan lalu berpisah dengan suaminya dan dirinya sendiri belum memiliki pekerjaan untuk pemenuhan kebutuhan.
Dari kisah ini memberikan pelajaran kepada kita agar perempuan tetap menunjukkan kemampuan dan potensi dirinya dengan kerja sesuai kemampuannya.
Dari kisah ini juga membuka wawasan kita agar lebih luas dan tidak terjebak pola berpikir dikotomi yang begitu sempit serta beresiko, maka sebagai seorang muslim lebih lebih sebagai aktifis baik di Muhammadiyah, Aisyiyah dan Ortom untuk bersikap secara bijak dan tepat dengan integrasi. Pola dikotomi dengan memilih salah satu diantaranya merupakan warisan budaya penjajah, dan saatnya kita bisa bersikap integrasi, bukan untuk membenturkan suatu pandangan tetapi bisa disatukan.
“Muhammadiyah dalam risalah berkemajuan bisa kita pelajari lebih mendalam, dimana ada keseimbangan dan bukan dikotomi melainkan integrasi,” jelas beliau. (*)
Penulis Andi Hariyadi Editor Amanat Solikah






0 Tanggapan
Empty Comments