Dalam momentum Sumpah Pemuda, Aliansi BEM Surabaya menegaskan posisinya sebagai poros gerakan mahasiswa Jawa Timur pada hari Kamis hingga Jumat (31/10/2025) – (1/11/2025). Melalui kegiatan Pengukuhan Kepengurusan, Launching Buku Reformasi Belum Usai, Rapat Kerja, dan Simposium Sumpah Pemuda, aliansi ini mengusung tema “Dari Kota Pahlawan: Meneguhkan Persatuan Mahasiswa, Menggelorakan Semangat Sumpah Pemuda.”
Acara berlangsung di Attawhid Tower lantai 13 Universitas Muhammadiyah Surabaya. Kegiatan ini dihadiri perwakilan BEM dari berbagai kampus se-Jawa Timur, mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Tulungagung, Sampang, Pasuruan, dan daerah lainnya.
Dalam sambutannya, Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya sekaligus Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya, Nasrawi, menegaskan bahwa aliansi ini bukan sekadar forum koordinasi, tetapi wadah perjuangan kolektif mahasiswa lintas kampus di Jawa Timur, khususnya di Kota Surabaya.
“Aliansi BEM Surabaya adalah rumah bersama, tempat mahasiswa berproses, berkolaborasi, dan berani bersuara. Surabaya adalah Kota Pahlawan — maka keberanian dan kesadaran kritis harus tetap hidup di dada mahasiswa,” tegas Nasrawi.
Sebagai penulis buku Reformasi Belum Usai, Nasrawi memaparkan tiga pokok penting refleksi dari karyanya tentang perjalanan demokrasi Indonesia pascareformasi.
Pertama, reformasi dan krisis substansi demokrasi. Dua dekade setelah reformasi, demokrasi Indonesia cenderung prosedural. Guillermo O’Donnell menyebutnya delegative democracy — rakyat berdaulat di bilik suara, tetapi kehilangan kendali setelahnya. Buku ini menyoroti tumpulnya cita-cita keadilan sosial yang tersandera oleh oligarki kekuasaan, sebagaimana diulas Jeffrey Winters dalam Oligarchy.
Kedua, empat pilar kekuasaan dan krisis etika publik. Nasrawi menguraikan empat cabang kekuasaan — eksekutif, legislatif, yudikatif, dan aparat penegak hukum — dengan pisau analisis Max Weber dan Michel Foucault. Ia menilai reformasi kehilangan arah karena kekuasaan kini berpihak pada mekanisme tanpa nurani, bukan pada nilai dan moral publik.
Ketiga, mahasiswa dan reformasi kedua. Dengan semangat Antonio Gramsci, mahasiswa harus menjadi intelektual organik — pembentuk kesadaran sosial, bukan hanya pengamat. Mengutip Paul Farmer dalam Pathologies of Power, ia menyebut ketimpangan sosial sebagai “penyakit sistemik” dalam tubuh bangsa.
“Reformasi Belum Usai bukan hanya kritik terhadap negara, tetapi seruan untuk memulihkan etika publik dan kesehatan moral bangsa,” ujarnya.

Menutup pemaparan, Nasrawi mengutip Jürgen Habermas:
“Rasionalitas sejati lahir dari ruang publik yang bebas dan kritis. Maka tugas kita, sebagai mahasiswa, bukan hanya menjaga warisan reformasi, tapi juga menyehatkan kembali nalar bangsa yang sedang sakit.”
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jawa Timur, Dr. M. Hadi Wawan Guntoro, S.STP., M.Si., CIPA, yang turut hadir, memberikan apresiasi terhadap gerakan mahasiswa Surabaya.
“Semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus hidup dalam kolaborasi nyata antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat. Gerakan seperti ini membuktikan bahwa energi muda Jawa Timur masih menyala,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Nur Mukarromah, S.KM., M.Kes., menegaskan pentingnya kampus menjadi ruang dialog dan pembentukan karakter kepemimpinan mahasiswa.
“Gerakan mahasiswa harus tumbuh dari dialektika dan etika. Kampus hadir untuk memastikan ruang-ruang produktif seperti ini terus hidup,” katanya.
Kegiatan juga dihadiri Khoirul Anam, M.Sos., perwakilan dari Biro Administrasi Kemahasiswaan, Alumni, dan Inovasi UM Surabaya.
Sebagai puncak acara, digelar Simposium Sumpah Pemuda dengan menghadirkan Anggota DPRD Kota Surabaya, Muhammad Syaifuddin, S.Sos., sebagai narasumber.
“Kritik tanpa aksi adalah kehilangan arah, tapi aksi tanpa nilai juga kehilangan makna. Mahasiswa harus menjadi jembatan antara idealisme dan realitas,” pesannya.
Acara ditutup dengan deklarasi komitmen bersama:
“Reformasi belum usai, perjuangan mahasiswa belum selesai.”
Deklarasi ini menjadi penegasan semangat Sumpah Pemuda 1928 yang terus hidup dan diteruskan sebagai energi moral bangsa. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments